Tuesday, January 24, 2012

Doa yang Tersebut

Teori saya tentang adanya eksistensi dari "Life Processor" itu sebenarnya bukan hanya bualan isi kepala saya yang kadang-kadang melantur. Doa-doa itu dirajam, diputar, dicincang halus dan menghasilkan sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Setelah lulus, saya tidak henti-hentinya bergumam dalam hati.....
"Saya masih ingin belajar"
"Saya masih ingin sekolah. Kalau kerja sudah tidak ada libur"
"Saya masih ingin belajar literatur dan mitologi"
Belum lagi dalam lubuk hati terdalam ada rasa jatuh cinta yang sangat besar terhadap anak-anak. Secara blak-blakan, punya anak adalah cita-cita saya.
Bisa dibilang, pekerjaan saya saat ini adalah hasil 'rajaman, cincangan, kerjaan' si "life Processor" itu.
Tidak pernah terbayangkan ... Sungguh... Tidak pernah terbayangkan setelah lulus dari University of Minnesota, saya memutuskan untuk pulang. Tidak pernah terbayangkan dengan titel Bachelor of Arts in Psychology melamar kerja menjadi seorang  p.e.n.g.a.j.a.r. Pekerjaan sebagai guru itu berada di bawah kolong tempat tidur. Tidak pernah terintip.
Aneh rasanya ketika saya menyadari ini semua.
Pertama ketika melamar, dalam pikiran saya itu menjadi guru pengajar anak-anak autis. Latar belakang pendidikan saya sejalan, berbau-bau sesuatu yang seperti itu, walaupun jujur saya masih merasa pengetahuan saya itu masih minim. Dulu, saya lebih banyak mengambil kelas-kelas yang berbau social.
Anyway!
Dalam sesi wawancara yang dilakukan dalam bahasa Inggris, si empunya sekolah menawarkan saya untuk "dicoba" dulu di sekolah National Plus nya. Yah... kata "dicoba" itu menurut saya temporary. Bisa saja, harapan saya untuk bekerja sesuai titel masih belum pupus. Alhasil, saya ditempatkan sebagai Teaching Assistant di K2 - TK A. Kelas itu berjumlahkan 26 anak pada awalnya. 10 anak perempuan, dan 16 anak laki-laki. Si empunya sekolah berkata bahwa saya diberikan waktu 1 bulan untuk 'dicoba.'
Sebulan pertama, perasaan saya campur aduk. Secara umum, sekolah ini masih harus memperkuat diri. Masih banyak hal yang harus diperhatikan. Disiplin anak misalnya dan lain-lain sebagainya. Tapi, postingan ini buat untuk bericara panjang lebar soal baik buruknya sekolah ini. Ini hanya sebuah ketikan panjang lebar soal doa-doa saya.

Pemandangan saya tiap pagi itu seperti lembar buku dongeng anak-anak yang penuh dengan warna-warni. Meja dengan warna kuning, merah, oranye, ungu, dipenuhi dengan tempat bekal yang juga berwarna-warni. Tas berwarna pink berjejer rapi di salah satu sisi, sedangkan sisi yang lain lebih banyak didominasi dengan tas Mickey mouse, atau super heroes. Pendengaran saya selalu diisi dengan suara lugu anak-anak yang berkata manis "Good Morning Ms. Chen" atau suara tangis anak-anak toddler yang memang masih berumur 2 tahun lebih. Saya dikembalikan ke dunia ini. Dunia yang tangis itu dikeluarkan semaunya tidak ditahan-tahan, tawa itu dikeluarkan jika hati senang bukan karena terpaksa, dan warna ungu masih berwarna ungu bukan biru yang dicampur merah.
Tidak bisa bohong kalau kadang darah saya seperti bergejolak gara-gara panas yang memuncak. Anak-anak itu kadang terlalu dimanja oleh orang tuanya. Apalagi kalau makin liar. Tapi, ya... saya juga luluh melihat mereka bermanja-manja dengan saya. Ketika menonton video, ada yang merayap dan langsung naik di pangkuan. Ada yang ketika berpapasan dengan saya langsung menghempaskan diri dan melingkarkan tangannya di kaki. Kadang-kadang mereka bisik dengan malu-malu berkata "I like Ms. Chen" ahh ternyata ini rasanya jika orang menyatakan perasaannya. Bisikkan mereka itu terdengar renyah sekali. Saya jadi tidak mau tanya "kenapa." Memang tidak perlu juga. Masuk ke bulan kedua, saya diminta untuk menjadi Subject Teacher and guess what, they asked me to teach English - Literature, Grammar, and Vocabularies.

Sastra... menurut saya pelajaran yang surprisingly saya nikmati. Sejalan dengan meningkatnya interest saya terhadap dunia tulis menulis, semakin saya tertarik pada dunia Literature. Apalagi saya mempunyai ketertarikan khusus dengan Mitologi. Mau Yunani, Indonesia, Viking, dan segala-galanya. Kalau bisa saya ingin melahap habis semua kitab-kitab tebal itu. Aneh memang. Dunia saya itu seperti ingin ke belakang terus. Bukan maju ke depan dan lebih memahami tentang ufo, hologram, atau bahkan dunia digital. Saya lebih tertarik menyelusuri perang Mahabharata, mengagumi pedang Excalibur, atau membaca cerita-cerita yang berisikan Hobbit, satyr, kraken, Fenrir, atau membayangkan adanya tongkat ajaib. Tawaran ini adalah tiket saya untuk mengunjungi dunia yang penuh fantasi itu. Aaahhh. Walaupun kadang-kadang bingung mau membawakan bahan apa, memutar otak untuk membuat soal, menerka-nerka di mana kemampuan mereka yang harus diasah, dan sebagainya. Belum lagi menghadapi murid-murid tingkat SD yang yah... memang lebih susah diatur. Tapi, kata teman-teman saya orangnya galak malah saya dibilangi biar nggak galak-galak sama anak-anak hahahaha..
Ah pekerjaan ini...

Ya untuk saat ini ... inilah jawaban.
Inilah doa yang terkabulkan.
Untuk itu... saya akan terus berdoa. Doa saya belum selesai....
Kadang ada rasa sesal karena saya merasa diploma saya bisa membuat saya mendapatkan gaji yang jauh lebih besar. Angkanya bisa jauuuuuuh dengan angka yang saya dapatkan sekarang. Tidak perlu berkata soal orang luar, keadaan di dalam rumah sendiri masih memberikan tekanan. Namun, gaji itu hanya nominal, ada yang jauh lebih penting daripada itu semua. Dan semua yang sekarang saya dapatkan itu adalah penting.
Saya rasa ... ini baru awal. Perjalanan saya masih jauh. Mimpi saya masih di sana. Namun, yaaa... doa saya dirajam, dihaluskan, diputar sana sini... supaya mendapatkan 'tingkat kehalusan' yang pas...


Dan doa-doa itu masih dipanjatkan

PS: Terlebih, sudah ada bukti nyata bahwa doa itu didengar...
I Am VERY PROUD of YOU MY Dear Friend... Sara Lea



CVB

Friday, January 6, 2012

Evaluasi dan Resolusi

Janus - here
Dewa Janus, dewa yang digambarkan sebagai dewa yang berwajah dua sehingga ia seakan-akan menatap ke depan dan juga menatap ke belakang. Ia disebut sebagai dewa transisi dan juga awal. Maka dari itu namanya digunakan untuk menamai bulan pertama awal pergantian tahun, Januari. Sekiranya sah-sah saja jika postingan ini saya gunakan (akhirnya) sebagai evaluasi dan juga resolusi. Tenang, bukan resolusi muluk-muluk yang ingin pinggang sinset, pacaran, dan sebagainya. Hanya beberan sederhana (atau mungkin sedikit rumit) tentang apa yang akan kulakukan ke depannya. (amin)

Evaluasi:
Postingan demi postingan di blog ini menggambarkan saya sebagai orang yang labil. Atau bisa saja memang situasi hidup saya yang tidak stabil pada tahun 2011. Sebentar-sebentar galau, lalu sebentar-sebentar bangkit lagi. Ck ck ck. Tidak bisa konsisten. Ya, bisa juga disimpulkan jika saya tidak ingin diam saja. Berusaha untuk bangkit namun mungkin belum maksimal usahanya. Nyatanya saya masih diperbudak oleh kegalauan.
Maka dari itu sederhana saja, resolusi saya...

Resolusi:
Memperbudak Kegalauan
Hahahahaha
Begitu menggalau langsung kuhalau.
Begitu banyak dikelilingi oleh sahabat-sahabat, orang tua, dan juga hal-hal yang bisa diraih untuk 'menyalurkan' kegalauan ini. Pokoknya harus cepat-cepat di'operasi.' Nggak boleh dipendam-pendam lagi.
Setujuuu?

FOKUS UTAMA
MENGHALAU KEGALAUAN
DAN 
SADAR DIRI

Hehehe...
Maaf jika postingan saya kali ini membuat Anda terkekeh, bengong, bergumam "gila", atau hal-hal lainnya yang menjadi ungkapan Anda.

Kembali ke Evaluasi. 
Menilik postingan-postingan lama saya, saya juga jadi tahu diri saya sendiri. Sedikit demi sedikit. Cara penuturan saya, cerita-cerita saya, kata-kata yang saya pilih semuanya mewakili sisi-sisi dari kepribadian saya. Jadinya saya lebih tahu.
Resolusi.
Lebih berhati-hati dalam mengepost. hehehe. Harus sudah punya kesadaran atas sekitar. Bisa aja kan ada orang atau pihak yang nggak senang jika ceritanya saya sebar luaskan atau saya porak-porandakan. 
So...

Nikmatilah Strawbearies. Satu kata yang mewakili banyak hal...
STRAWberry - "semua suka stroberi, dari yang tua, muda. Kita bisa rasain kecut dan manis kalau makan stroberi" - Rachel Maryam pemeran Stroberi

Polar BEAR - hobi hibernasi dan makan ikan salmon, cinta salju dan gila berenang

aRIES - you can read it all

aRIES - you can read it all


PS: untuk resolusi tambahan - mau mengotrol self centered, bossy, and impatient
amiiiiiiiiinnnnn



CVB

Thursday, January 5, 2012

Januari

taken from tumblr
Januari
Bulan pertama pada kalender romawi
Januari
Diambil dari kata (dewa) Janus - yang berarti pintu dan juga akhir
Januari
Awal dari segala kebisingan hidup tahun 2012
Januari
Bisa diartikan membawa harapan
Januari
Namun, ada sisa-sisa penyesalan
Januari
Lagu galau dari Glenn Fredly
Januari
Nampaknya juga menjadi bulan galau untukku
Januari...
Baik-baiklah terhadapku...


CVB

Saturday, December 31, 2011

Sebuah Prolog

The last paragraph will be written but a new chapter is sure to follow - a very good good friend that I miss the most
Kursi goyang yang sudah mulai menua itu mengayun pelan. Seorang perempuan duduk di atasnya sambil menyeruput teh kotak favoritnya. Matanya hanya memandang kosong ke depan. Ia lebih melihat memori-memori yang silih berganti di otaknya. Ada yang baik dan ada yang buruk. Semuanya berhujung kepada 1 tujuan yaitu membangun identitasnya. Ia percaya bahwa orang-orang yang ada di dalam kehidupannya bukan suatu kebetulan. Ia tumbuh dalam berinteraksi. Menjadi kaya karena berbagai macam emosi yang keluar dari interaksi itu. Di situ ia pun paham betul mengenai teori relativitas. Semuanya relativ. Mata manusia mempunyai lensa dan otak manusia mempunyai program tersendiri dalam mengamati tindak-tanduk dinamika kehidupan. Tidak adil jika kita mengkalim sekenanya soal baik dan buruk.
Ah...relativitas. Betul-betul teori yang membenarkan segala bentuk kecaman. Namun, itulah manusia. ada banyak komponen dan software yang terekam sehingga membentuk suatu program di kepala manusia yang komplex.
Sambil kembali menyeruput teh kotaknya, ia memindahkan pandangannya sejenak. Masih menatap kosong. Kali ini, program di kepalanya membawanya ke masa-masa yang akan datang. Jadi apa ia nanti? Orang yang penuh dengan hujatan atau pujaan? Orang yang lebih banyak mengundang senyum? atau tangis? Tak bisa ia tebak. Ia hanya tahu 1 hal. Tangan dan kakinya kecil dan masing-masing cuma 2. Tidak banyak hal yang bisa ia kendalikan. Dunia boleh memegang andil dalam kehidupannya namun ia sendiri yang memegang kontrol penuh atas dirinya. Tombol kebahagiaannya ada pada dirinya. Memikirkan itu bibirnya sedikit tersenyum.
Sambil menghabiskan sisa teh kotaknya, ia masuk ke dalam rumah. Dilihatnya seorang anak kecil tertidur pulas terlentang di pelukan seorang laki-laki yang juga tertidur. Televisi masih menyala dipenuhi oleh Tom si kucing dan Jerry si tikus sedang kejar-kejaran di dapur.
Perempuan itu lalu mengecup kening si anak. Diperhatikannya matanya yang tertutup sambil bertanya "kamu akan melihat dunia dengan pandangan seperti apa? Negatifkah? Positifkah?" Kemudian matanya mulai memperhatikan mulut si anak yang setengah terbuka "Akan kau gunakan untuk apa mulutmu ini? Mengeluarkan kutukan atau berkat?" Dengan lembut ia mengelus dada si anak "Akan kuatkah hatimu dan melakukan segalanya dengan tulus? Ataukah dipenuhi kepura-puraan?" Ia kembali mengecup kening si anak dan mengelus kepalanya, "Dunia boleh pegang andil untuk membentuk siapa dirimu nanti" Perempuan itu lalu menggenggam tangan anak itu. Kecil dan lembut. "Tapi ... kamu yang memegang kendali atas dirimu sendiri. Tombol kebahagiaanmu itu ada dalam dirimu dan bukan orang lain. Bijaksanalah, tidak perlu takut dalam bertindak"
Digendongnya anak itu dengan perlahan. Pelukannya erat sehingga ia bisa mendengar detak jantungnya. "bijaksanalah. dunia bisa jadi indah...Jika kau terjatuh masih ada dua orang yang akan tua ini yang selalu siap di sini"
Lalu pintu tertutup. Membiarkan semua doa itu meresap masuk melewati jalan-jalan tak terlihat. Bergelung-gelung di udara dan menembusi batas kulit, daging, dan batas sadar manusia. Bersemayam tanpa kelihatan...





Selamat Tahun Baru
CVB

Tuesday, December 27, 2011

Sebuah Epilog

Tinggal menghitung hari dan tahun 2011 akan tinggal menjadi sejarah. Ibarat sedang membaca buku, kita sekarang berada di akhir chapter yang terakhir, dan berada di awal chapter buku yang baru. Rasa-rasanya seperti sedang berada di puncak gunung dan melihat ke belakang, ke bawah, ke perjalanan yang telah kita lewati. Kadang kita nggak nyangka kita bisa sampai di situ. Kita jadi geleng-geleng kepala ketika mengingat kita tadi baru aja ngeloncatin jurang, menyebrangi sungai, merangkak, jatuh, lalu bangkit lagi. Tahu-tahu kita sudah berada di puncak.
Tentu hampir semua blogger bakal menulis evaluasi tahunan atau resolusi tahun baru, jangankan blogger, anak sekolah hingga pekerja pun rela menyisihkan waktu untuk menuliskan daftar panjang, entah yang disyukuri atau dikutuki, atau harapan-harapan baru. Saya juga termasuk orang-orang yang terdorong untuk melihat kembali chapter-chapter lama yang terlewati di kehidupan saya.
Ini bukan sebuah resolusi atau evaluasi. Ini hanya sebuah epilog dan mungkin sekaligus sebuah prolog untuk chapter yang berikutnya.

Epilog
 
Kami tinggal di sini sudah cukup lama, kira-kira sudah hampir 13 tahun. Dimulai semenjak daun kami masih kecil dan tinggi kami tak lebih dari tembok rumah ini. Sebagai pohon bambu, kami cukup senang bisa tinggal di rumah ini walaupun akar-akar kami lebih banyak dikencingi anjing, tetapi toh kami tumbuh subur sehingga tinggi kami sudah melewati rumah bertingkat dua ini. Ada banyak kisah yang dibawa angin sehingga kami tahu apa yang sedang terjadi di dalam rumah itu. Keluarga ini hanya memiliki seorang putri. Dulu aku ingat ia itu orangnya gempal dan selalu berambut panjang. 4 tahun belakangan ini ia tidak pernah lagi sering kelihatan, kata burung perkutut yang selalu ngapel pagi-pagi mengatakan bahwa si putri itu bersekolah di negeri orang. Di Amerika kalau tidak salah, betul Bumbi?
Iya betul Bim
Ah baiklah. Ngomong-ngomong aku Bimbo, cabang yang paling tinggi dan sudah hampir melewati atap rumah, sedangkan Bumbi temanku itu tepat di bawahku. Dulu panjang kami berdua setara jendela si anak sehingga kami sering melihat gerak-geriknya. Sewaktu anaknya masih di sini, kami biasa suka sebal melihat tindak tanduk si anak. Suka sombong dan tergesa-gesa sehingga kalau tidak salah ada masa-masa di mana ia benar-benar jatuh. Teman-teman satu kelasnya nggak ada yang suka dia. Laki-laki yang sempat dekat dengannya malahan jadian sama sepupunya. Benar-benar kacau, padahal si anak itu penyayang. Terkadang ia berbicara kepada kami, walaupun tentu saja tidak bisa kami jawab begitu saja.
Ya Bim, si anak itu juga manjaa sekali. Apalagi jika sama bapaknya. Masih kekanak-kanakan
Betul Bumbi.
Hanya sekarang ia terlihat lain. Ia bukan lagi cewek gempal yang kita kenal. Kata angin malam bulan Desember tahun lalu, si putri itu turun hampir 12 kg. Bukan hanya penampilannya yang berubah derastis, tapi juga identitasnya sebagai manusia semakin jelas. Ia sudah tidak ragu-ragu lagi. Menurutku, ada pelajaran hidup yang membuatnya menjadi sadar bahwa kekuatannya tidak bisa menguasai waktu dan situasi. Ia sudah lebih banyak berserah. Dulu dia seperti ingin mengendalikan semuanya sehingga tak jarang ia disebut-sebut 'bossy'. Betul kan itu istilahnya Bim?
Yep yep...
Terakhir kami menelihatnya Desember tahun lalu yan Bum?
Yoi Bim, tepat setahun yang lalu.
Ketika itu kami sudah melihat perubahannya. Nampaknya ia lagi jatuh cinta saat itu, terlihat dari wajahnya yang makin berbinar. Kabar yang terakhir kami dengar dari percakapan bapak-ibunya bahwa putrinya itu akan segera wisudah. Sarjana psikologi. Mereka bersiap-siap untuk ke sana menghadiri acara wisudahnya, padahal si ibu itu sakitnya sudah parah sekali. Jarang kami melihat beliau jalan-jalan mengunjungi beranda lagi.
Kalau sekarang, aku pernah mendengar beberapa kali percakapan si anak di telepon jika jendelanya kebetulan terbuka bahwa ia sempat merasa tidak ingin lulus cepat-cepat. Ia menyukai tempat kuliahnya itu. Ia sayang teman-temannya, dan merasa sangat dicintai. Apalagi ketika ia sedang melewati masa-masa sulit di awal tahun ini. Ketika itu, salah satu sahabat terbaiknya mengacuhkan dia, tidak ngomong dengannya hingga berbulan-bulan, dan di saat yang bersamaan jiwanya sedang tercabik antara nggak mau lulus dan harus menyelesaikan studinya. Alasannya karena ia merasa belum siap. Namun, lihat saja sekarang, ia mendapatkan diplomanya dan pernah kulihat ia sedang asyik chatting dengan temannya itu. Ia berhasil bertahan dan belajar dari pengalaman hidup.
Menurutku mimpinya memang ada di sini, apalagi ia berada di rumahnya. Dekat dengan ibunya. Sekarang ibunya sudah bisa tidur malam lagi dan pelan-pelan bisa kudengar suara mereka tertawa-tawa.
Bumbi: Ya menurutku, si anak itu sudah berubah. Bukan lagi anak yang semuanya ingin cepat-cepat selesai. Ia lebih melihat kondisi. Ia tetap menjadi anak yang tidak kenal takut. Walaupun masih sedikit kekanak-kanakan dan manja, kubilang ia termasuk yang bijak. Lebih sering terdengar kata syukur darinya sekarang ini
Bimbo: Setuju Bumbi. Namun, kuharap ia lebih rendah hati lagi daripada sekarang. Sifat arogansinya kadang-kadang masih kelihatan.
Bumbi: Tetapi sudah lebih ia tekan sekarang.

Dan pohon-pohon bambu itu mengayun ke atas dan ke bawah, entah karena angin atau anggukan setuju.






CVB

Saturday, December 24, 2011

Laki-Laki Sederhana

Santo Yosep, source Google
Selama ini sosok sederhana ini hanya kita kenal lewat cerita natal. Ia adalah tunangan Bunda Maria yang kemudian menjadi bapak dari Yesus. Itu saja tidak lebih. Setelah itu ceritanya terkubur di tengah kesibukan kita.
Beliau yang sederhana ini sebenarnya perlu diberikan ruang yang lebih besar, waktu yang lebih khusus, untuk mengenang segala jasanya dan juga meneladani imannya. Bayangkan saja, apa yang ada di pikirannya ketika tahu bahwa tunangannya sudah mengandung sebelum pernikahan. Kandung anaknya pun tidak. Namun, ia tetap menerima Bunda Maria. Menerima Yesus sebagai anaknya. Mendidiknya. Hingga kita mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu dari Nazaret.
Untuk hari yang berbahagia ini, sekiranya kita sejenak meluangkan waktu untuk mengucap doa syukur kepada Tuhan dan menghormati Santo Yosep sebagai ayah dari Yesus di dunia. Perwakilan Allah untuk merawat dan membesarkan Tuhan kita. Teladannya yang mengikuti amanat Tuhan juga perlu kita resapi.
Terima kasih Santo Yosep... :)

Nah... untuk kesempatan ini juga, saya ingin memberi ruang khusus untuk makhluk gila yang satu ini...
papo = papa pongoro (gila) hehehe
Saya nggak tahu kenapa laki-laki yang satu ini bisa jadi bapak saya, suami dari ibu saya. Saya juga nggak ngerti kok bisanya ibu saya mau dengan laki-laki ini. Padahal wujudnya dulu benar-benar menyedihkan  (hahaha peace papo)



yah bapak saya itu yang di gondrong di sebelah kanan


 Tapi oh tapi... tanpa kontribusi kegilaan, kreativitas, optimisme, kesabaran, dan kecerdasan, saya dan mama nggak mungkin bertahan seperti sekarang. Seperti yang mungkin sudah yang Anda-anda ketahui, ibu saya mengidap penyakit kronik selama 19 tahun sekarang.
Bapak saya ini hanya beranak 1, perempuan pula. Istrinya kena penyakit baru setelah 4 tahun mereka menikah. Namun, sampai sekarang, ayah paling ganteng (sekarang) ini rela nggak tidur untuk mijetin ibu saya ketika saya lagi bersekolah di negeri orang. Ayah yang gantengnya gila-gilaan (sekarang) ini selalu menghibur mama kalau lagi sakit. Ayah yang emang paling ganteng (sekarang) ini selalu menjadi penyejuk di tengah keluarga mungil kami...



Ia bukan saja hanya sebagai ayah tapi my Best Friend Forever. Kita bisa obrolin hal apa saja dari perang Mahabharata, Legenda Thio Samhong, Gereja Katolik, politik demokrasi, Soe Hok Gie, musik keroncong, dangdut, hantu-hantu, dewa Zeus, si A, si B, hipnosis, mantra, Harry Potter, intinya dia itu enslikopedi pribadi saya. Enslikopedi paling canggih yang juga mempunyai fungsi sebagai motivator terbaik. Sepertinya dari berjuta2 sel di dalam tubuhnya, sebagian besar didominasi oleh sel Positiv. Bapak saya ini saya nobatkan sebagai Bapak Optimis sedunia. Semua yang negatif bisa ia rubah menjadi positif. Kata-katanya, cara pandangnya, pemikirannya semuanya mengandung semangat optimis. Kadang saya sampai geleng-geleng. Soalnya saya punya juga contoh hidup yang hampir seluruh selnya didominasi sel Negatif (ibu saya). hahahaha Jadilah saya kadang terkekeh-kekeh mendengar percakapan mereka berdua. Langsung bagaikan dapat kuliah geratis seumur hidup. Langsung bisa lihat dua perspektif sekaligus.
Orang boleh berpendapat bapak saya ini orangnya kalem (ehm ehm...eng... beneran?) Memang, pembawaannya bener-bener tenang. Nyamuk pun nggak tahu kalau dia udah mati waktu ditepok sama ayahanda ini. Hanya saja, dia nggak kalem-kalem banget kok... makanya anaknya juga sedikit hyper kadang hehe...
His positive force gives me strength to fly high even though at the same time we are surrounded by negative forces. His deep voice calms my stormy day. His craziness keeps my sanity. His love opens my eyes and heart to see the world, the universe. His kindness is beyond the words... Papo nomor 1 di dunia.
Johannes Budhi, yang dari dulu hingga sekarang tetap menjadi papa paling ganteng....

Laki-laki sederhana ini hanya perlu sepiring gado-gado dan setusuk sate untuk membuat hari dan perutnya senang. Laki-laki sederhana ini hanya perlu tinju untuk menghiburnya. Laki-laki sederhana ini hanya perlu meditasi untuk membasuh jiwanya...


Dan aku dengan senang hati memberikan ruang untuknya di postingan ini. Begitu juga untuk Santo Yosep.
I am a Daddy's girl... period






CVB

Thursday, December 22, 2011

Air Terjun Vs Air Mancur

google
Kata ibuku sendiri kasih ibu kepada anaknya itu bagaikan Air Terjun. Mengalir turun begitu saja. Deras. Tidak perlu kekuatan apa-apa. Seakan-akan kita, anak-anak, mempunyai daya gravitasi yang tinggi. Mau menangis tengah malam selama 40 hari, ia tetap bangun dan menemani sambil menggendong. Mungkin satu-dua kali ingin tertidur, tetapi terbangun lagi karena anaknya ngambek. Atau jika si anak malas latihan piano, ia akan menemani walaupun hanya diterangi cahaya lilin. Ia biarkan urusan lain. Anaknya dulu. Atau, jika hari pertama sekolah, anaknya menangis meminta mamanya temani, alhasil si mama duduk di bawah pohon dekat kelas si anak dan mengerjakan pekerjaannya.

google
Sedangkan menurutku kasih anak kepada ibunya itu bagaikan Air Mancur. Membutuhkan tenaga yang lebih besar. Listrik yang lebih besar, dan segala rumusan fisika. Butuh kerja extra keras. Butuh pembuktian yang seharusnya tidak perlu. Itulah anak. Egois. Jiwa muda yang labil. Penuh dengan pencarian jati diri hingga melupakan arti ibu sendiri.
Air di sekelilingnya membuatnya merasa nyaman, dia sekali-kali muncul jika ada colokan listrik.
Kehadiran ibu itu ada ketika kita semua sadar bahwa Air terjun itu mengalir keras. Sedangkan Air mancur itu hanya kadang saja meluap tinggi namun kadang tidak.
 ibu...
sebuah profesi termulia
Note: a dedication to my mambo




CVB