Tuesday, September 12, 2017

Indahnya Jazz, Merdunya Gunung (Jazz Gunung 2017)

Alam, jazz, dan Maliq and d'essentials serta Monita yang membuat aku tidak pikir panjang untuk langsung cari informasi lebih lanjut soal Jazz Gunung 2017. Dan, pada akhirnya... there I was, sitting on the amphitheater at Jiwa Jawa resort, sumringah lebar sekali menonton semua artis favoritku, menyanyi gila-gilaan dengan lagu-lagu yang aku suka, dan merasakan dingin 12 derajat celcius di Indonesia.


Aku bilang konser Jazz Gunung itu seperti pertunjukan Magic. Semuanya terasa ajaib. Mulai dari background panggung yang dihiasi gunung-gunung dari jauh, pohon-pohon tinggi, burung atau kupu-kupu yang sesekali terbang melintas, dan musik. Aku nggak tahu mereka bikinnya gimana, tetapi aku mau kasih 10 jempol untuk krunya. Sound konser hari itu flawless. One more time, it was FLAWLESS. Tidak ada gaung, tidak ada missed, tidak ada adegan suara ngilang, dan hello, kita di alam terbuka, di gunung. Belum lagi kalau aku sudah sebut satu-satu artis yang tampil di konser dua hari satu malam itu.

Tidak perlu waktu yang lama untuk aku langsung mutusin bahwa tahun 2017 is my year to experience Jazz Gunung. Tahun ini line upnya adalah
Dewa Budjana
Indra Lesmana
Ring of Fire
Charged Particles,
Monita
Dira Sugandi and Trio Sri Hanuraga
Glenn Fredly, dan Maliq and d'essentials.
Done, I am done here.



Aku paling excited untuk Maliq. Udah lama tahu kalau live performance dari one of my favorite Indonesian band ini emang topcer. Dan oh my, exceeded my expectation indeed!
Monita is another thing. Nggak tahu kenapa albumnya yang terakhir (Dandelion) is the beauty of music. Sungguhan. I love every single song in it. Very cheerful and couraging.
Dira Sugandi and Trio Sri Hanuraga is my hidden gem this year. Dira Sugandi is famous of her great vocal and I was once bumped into their covers of Indonesian traditional songs, seperti Kicir Kicir, Manuk Dadali, Ayam Den Lapeh, and so on, and traditional song with jazz? oh yes, I am in.
Dan Glenn Fredly oh Glenn Fredly. Because of his performance back in 2003 I then finally knew that Indonesia has great singers.

Tapi, kalau mau jujur aku cukup penasaran dengan penampilan Ring Of Fire arahan Djaduk Ferianto. Tiap tahun selalu menggandeng banyak musisi dari berbagai macam background. Tapi, yang pasti selalu mengawinkan musik jazz dan irama tradisional. Pernah aku lihat projeknya jazz campur gamelan Bali. Elemen musik tradisional dicampur dengan jazz. Kapan lagi bisa lihat saxophone dimain barengan dengan seruling sunda.

Semuanya udah cukup buat aku untuk niat ke Jazz gunung 2017. Begitu nemu informasi, ternyata dapat deal yang cukup bagus. Nggak hanya Jazz Gunung, aku akhirnya beli paket wisatanya juga sekalian. Ke air terjun Madakaripura, gunung Bromo dan teman-temannya.Bisa cek Berangan tour



Day 1, 18 August 2017.

Jam 4 sore, kami (me, my cousin, and two other companions) memasuki daerah Jiwa Jawa Resort tempat konser Jazz Gunung diadakan. Dari jauh, kita udah bisa dengan para MC udah membuka acara sore itu. Setelah dapat tempat duduk, langsung aku terpukau sama semuanya. Kita nontonnya di amfiteater terbuka dengan panggung yang membelakangi pucuk pohon-pohon tinggi, dan bisa lihat jajaran pegunungan dari kejauhan. Opening act hari itu adalah Surabaya All Stars, and amboy! Never underestimate the power of local artists. Surabaya All Stars adalah salah satu grup musik yang udah lama wara wiri mencoba merawat jazz di Surabaya. Para musisinya memang sudah sedikit berumur, tapi yang namanya musik jazz emang nggak pernah mati. Lagu-lagu klasik Jazz seperti Cheek to Cheek, LOVE, dan lain-lain ramai disambut para penonton, dan nggak cuma itu aja, lagu dangdut alamat palsu sukses dibuat jazz tapi nggak meninggalkan warna dangdutnya. and the star of that opening act is lagu "It's My Life"nya Bon Jovi yang dibawain dengan gaya jazz! But, please... please picture this in your head, yang membawakan lagu tersebut adalah laki-laki berperawakan tidak begitu besar, dengan rmabut gondrong sedada, dikuncir, ada kumis tipis, dengan jaket kulit. Tampang boleh rock, tetapi jiwa tetap jazz.

Lalu disambung dengan Charged Particles dari America. I could say, it was a very typical American JAzz group. Lumayan menarik. Jadi, biasanya tiap hari konsernya akan disuguhkan pertunjukkan musik jazz pure atau penyanyi *bintang tamu. Menurutku konsep ini bagus. Karena namanya saja konser Jazz. Walaupun Maliq lebih cenderung mau dipanggil musik pop, Monita juga tidak pure jazz, apalagi Glenn Fredly, tetapi tetap saja esensi musik jazz masih ada di gaya musik mereka.

Nah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.

Matahari sudah di penghujung petang, 
kulepas hari dan sebuah kisah
tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku. 
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama....
- Memulai Kembali, MOnita

Matahari sudah bener-bener tenggelam. Langit sudah benar-benar gelap. Lampu panggung sudah mulai beraksi. Monita memulai pertunjukkannya dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan (tentu saja) irama jazz. Disambung langsung dengan lagu Hai. Ah, dan seterusnya seterusnya, dan seterusnya. Pertunjukkan 1 jam lebih 10 menit itu nggak kerasa. Hanya saja, ada sensasi aku di dimensi lain. Musiknya keterlaluan indah. Cuma ada kontra bass, gitar, piano, dan drum, dan suara Monita. Suaranya Monita juga terlalu kece untuk ukuran live. I can say better than recording. Dari jaman dia Indonesian Idol, I have put my eyes on her, and when she released her first album in 2009 or 2010, I set my ears for her, and then the last album and that very performance on the mountain, I set my heart and soul for her.

Diikuti dengan Dewa Budjana Zentuary. Kalau menggambarkan musik Dewa Budjana ini, seperti musik etnik yang dibaluti elemen rock dan sedikit jazz etnik. Highlightnya adalah si pemain seruling bambunya. Tidak ada vokal. Kalau aku bilang, aku suka. Cukup enjoy. Tidak begitu urakan untuk ukuran pertunjukan pure music

I have to close my eyes and repeat all the tunes, the lights, the ambience, and the heat I felt in the midst of cold night. I believe Maliq is one of those awesome live performer. The know how to have fun. They know how to make us have fun. Kita diajak nyanyi bareng, dan aku suka banget sama kekompakkannya mereka. Beneran bikin panggung terasa lebih wow. Maliq bisa bikin malam jadi lebih romantis. Dia minta kita nyalain flashlight di HP, dan mereka nyanyi lagu Untitled. Bikin merinding. They did save some excitement until the very end of the performance. Indah bisa nge-rap. She killed it. Funk Flow dibuat lebih funky dari lagu originalnya. Ah, really! Surpassed my expectation.




Day 2, 19 Agustus 2017
As I previously mentioned, aku ngambil paket wisata Bromo juga. Hari kedua, kami bangun pagi dan melihat pemandangan depan kamar kami yang mungkin harnya di film-film. Jajaran pegunungan, sedikit tiang pemancar, sawah, dan matahari pagi. Aku benar-benar nikmati setiap detiknya. Kami minum kopi ditemani lagu-lagunya Sri Hanuraga Trio, dan akhirnya siap 'bertempur' di air terjun Madakaripura.



Nama air terjun Madakaripura sudah nggak asing sih sebenarnya. Beberapa kali teman ada yang ke sana, tetapi nggak pernah terpikirkan bahwa air terjun itu bisa jadi tempat yang menyenangkan. Konon, air terjun ini adalah tempat Gajah Mada bersemedi dan menghembuskan napas terakhir. Jujur, aku sedikit skeptis. Apalagi, pas lihat foto-foto teman, aku pernah melihat air terjun yang lebih bagus. Tetapi, ternyata bukan air terjun yang di foto yang jadi highlight. Melainkan air terjun yang berada di sekitar dinding tebing, dan juga perjalanan ke sana yang lebih menyenangkan.
Kami berangkat dari penginapan, menempuh sekitar 1 jam, baru masuk ke pelataran parkir. Dari situ, kita harus siap-siap dengan sendal jepit dan jas hujan di tas. Yes, jas hujan saudara-saudara. Melewati air terjun-air terjun kecil untuk ke tempat Gajah Mada semedi yang menurutku lebih asyik haha. Sebelum ke jalan untuk menuju air terjunnya, kita harus naik ojek, dan ini juga sebuah pengalaman lain. Sekitar 50an pemuda berumur 18-22 atau 24 siap dengan motor masing-masing, sedikit berdebu, dan berkendara tanpa helm. Perjalanan dari tempat parkir ke gerbang air terjun sekitar 4 km. Lalu, dilanjutkan dengan berjalan kaki sedikit menanjak sekitar 1.5 KM. Cukup bikin napas tersengal-sengal, but was still OK. Apalagi pemandangan sepanjang naik ojek itu lumayan menenangkan. I was really enjoying the heat of sun rays in the morning, sedikit debu jalan, dan gronjalan membuat perjalanan makin asyik.

Sekitar 30 menit kemudian terdengan bunyi air jatuh. Masih skeptis. Lalu kami memakai jas hujan kami dan menggulung celana. And I loved it!!!
Begitu keluar dari jeratan guyuran air, aku senyum lebar sekali. Rasanya memang aku dan air tidak bisa dilepaskan dari satu sama lain. Bahagia itu sederhana juga, hanya diguyur air sejuk aja sudah bikin senyum lebar. Begitu aku membalik badan, aku terpukau dengan air yang jatuh di latar belakangi dinding batu berbenalu dan lumut. Bagus sekali.


Keseruan belum selesai sampai di situ, jika ingin melihat tempat semedi si Gajah Mada, kita harus melewati gundukkan bebatuan yang menonjol di sisi dinding gunung. Agak seram juga, karena cukup tinggi, berbatu, dan sedikit licin. Tapi, pura-pura berani, ikut aja si guide dengan merangkak pelan-pelan. Begitu di atas, kita makin excited dengar bunyi suara air terjun yang deras. Alam memang nggak bisa ditandingi.




Kami pulang untuk bersiap-siap konser hari kedua. Jujur, lelah. Tapi, it was worth it. Really.

Pertunjukkan hari kedua tidak dimulai dengan bagus menurutku pribadi. Terlalu salah, haha. Sana Seni Ensamble yang membuka konser hari itu. Mereka bilang kalau musik mereka itu Kronch Wrong which was a bit off. Ide musik keroncong dicampur jazz harusnya menarik, tetapi mungkin karena aku bisa dibilang bukan penggemar jazz murni, jadi agak sedikit terganggu. Untungnya setelahnya ada Dira Sugandi dan Sri Hanuraga Trio. Another exceeding expectation performance. Air mata sedikit meleleh ketika dengar kita nyanyi lagu Rayuan Pulau Kelapa bareng-bareng. Dira juga sampai sedikit nangis. Pertunjukkan sore itu sendu, namun tetap indah. Hari itu, kita dapat tempat sedikit depan. I could see Sri Hanuraga's fingerss dancing wildly on the piano. Gila. Orang jenius.




Berikutnya Indra Lesmana. Ok, he's pretty stiff as a performer I guess. Dan musiknya terlalu ketebak, jadi sedikit membosankan. Tapi, ya sudahlah. Di Jazz Gunung, orang bebas masuk keluar arena. Hanya sayangnya tempat jajannya terbatas. Jadi, tidak begitu banyak yang bisa dilakukan di luar konser. Anyway, akhrnya RIng Of Fire tampil. Kali ini mereka menggandeng Soimah. Iya, Soimah yang itu. Yang menor dengan suara pecah. But wait, she can sing. She can really sing! Really really well. Pertunjukkan RIng of Fire hari itu dimulai dengan lagu Dangdutnya Soimah diiringi big band style orchestra lengkap dengan kolintang melodi, gendang, dan saxophone. Disambung dengan lagu jazz classic yang dinyanyikan dengan gaya karawitan. My oh My, Soimah's voice is a true gem. Never underestimate penyanyi dangdut. Their vocal range, and the technique itu nggak main-main. Dengan penampilan Soimah dan Ring Of Fire Project, konser hari kedua berhasil diangkat lagi moodnya. Then, the star of our show, the man who portrays broken hearted really well, who gets the eastern music swirling in Indonesian music, yep Glenn Fredly.



As expected, lagu-lagu yang dinyanyikan Glenn adalah lagu-lagu yang sering ia bawakan saat konser. Rasa Sayange, medley Timur, You are My everything, Kisah Romantis. Sedikit kasih surprise, Glenn memanggil bang Idang Rasjidi untuk special showcase. Pianisnya Glenn hanya memainkan 3 bar lagu yang mau dinyanyikan Glenn, bang Idang langsung serta merta memainkan tuts tuts piano seakan jariya mengenal lagunya. Padahal, dia nggak dikasih tahu sebelumnya, dan mungkin aja nggak tahu lagunya. It was a real magic show. That's the power of Jazz. Blending in. Setiap jenis musik jika di syncopated, diberi chord kromatik, sudah bisa jadi musik jazz. Siapa bilang jazz itu musik exclusive, menurutku... semua musik bisa jadi jazz. Jazz itu musik universal, tapi mungkin susah dimengerti dibanding pop atau rock.

Aku suka jazz. Menurutku Jazz bisa menjadi musik romantis, fancy, atau mellow, bahkan dansa. Bisa dimainkan untuk jadi score dari sesi kehidupan kita. Aku selalu enjoy dengan tunes Jazz yang kadang sedikit off. Itulah seninya. Jazz di gunung? Dingin-dingin? Amazing experience. Aku mau salut untuk penggalang konser Jazz gunung yang tetap menjaga esensi ke-jazz-an. Konser jazz yang paling jazz walaupun ada banyak elemen jenis musik lain dilempar ke situ, tetapi tetap terasa esensi jazznya, dan mampu membuat para penonton terhibur. Aku bangga menjadi jamaah Al-jazziah di konser Jazz Gunung ke-9 ini. Terima kasih sudah bertahan, dan makin bagus tiap tahunnya. Terima kasih Djaduk Ferianto, Butet Kertarajasa, dan Sigit Pramono yang tiap tahun rajin membuat jazz Gunung semakin bagus, dan bagus lagi. Untuk tahun ini, tiketnya sold out loh!!!Padahal di pekan yang sama ada dua konser "Jazz" lainnya yang juga sedang berlangsung, di Jogja, dan di Surabaya.



Menarik juga ketika mengetahui yang tonton itu dari segala kalangan. Pas konser hari kedua, lebih banyak tante-tante dan om-om usia kira-kira di atas setengah abad, datang menjadi penonton. Memang konser ini sedikit lebih exclusive dibanding konser yang lain, karena untuk ke sana butuh effort lebih. Harus naik kereta api dulu, atau driving berjam-jam. Harus nonton konser dengan berbalut jaket tebal bahkan sarung tangan dan topi. Di situlah daya tariknya, apalagi mengingat betapa besarnya antusias penonton. Beberapa klip di youtube tentang Jazz Gunung terdahulu, banyak yang datang dari luar Jawa Timur untuk menikmati jazz. Jazz Gunung ini memang membuat kita menyadari Indahnya Jazz, merdunya Gunung.

Tahun ini, temanya yang diusung adalah Merdekanya Jazz, Bersatunya Indonesia, karena dibuat tepat sehari setelah hari Kemerdekaan.
Konser tahun ini membuktikan bahwa jazz itu musik yang bebas, merdeka. Mau dimainkan dengan gaya apapun tetap bisa disebut musik jazz, mau dimainkan dengan seruling sekalipun. Dan, aku jadi sadar bahwa Indonesia itu emang kaya. Jenis musiknya, para artisnya, alamnya, orang-orangnya.

Konser ditutup dengan gemilang tepat tengah malam. Itu berarti kita cuma punya 2 jam sebelum melanjutkan perjalanan utnuk melihat sunrise di Bromo. Terus terang, aku lelah luar biasa, karena pagi-pagi sudah menguras tenaga di Madakaripura, but hey we were there anyway, dan apa artinya kalau bilang ke Bromo tapi belum melakukan ritual di sana; nonton sunrise, ke bukit teletubies, pasir berbisik, dan kawah Bromo.


Kami dibawa ke Penanjakan satu, dan tempat itu terlalu touristy, too packed. I was more annoyed then enjoyed the sun rise. Nggak bisa dipungkiri emang bagus bangettt, tapi aku udah terlanjur kesal dengan orang-orang yang ribut dan tongsis sana sini. Kenapa nggak diem aja dan menikmati perubahan warna alam? Mulai dari semburat tipis membatasi di tengah cakrawala, pelan-pelan tambah besar, membuat gradasi paling cantik di langit. Lalu pelan-pelan menampakkan pegunungan Tengger.








Selepas berkutat dari kerumunan orang-orang dan melawan angin dingin, kami berhasil turun dan istirahat sejenak di warung dekat situ sebelum melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo. Lumayan, mengisi energi sebelum ber-adventure ria dengan jeep. Oh iya, sensasi naik jeep gelap-gelap pas mau nonton sunrise itu seru juga. Jeep-jeep dari berbagai arah ketika memasuki taman Nasional Tengger itu dengan gagahnya tanpa ada rambu-rambu.. Tinggal stel lagu soundtracknya Indiana Jones, udah bisa jadi film petualangan seru. Benar-benar gelap, hanya ada lampu-lampu sorot dari jeep-jeep yang berlari kencang. Yang nyupir saat itu tidak lebih tua dari 20 tahun, tapi tangkasnya bukan main. Seru. haha. Jadi, hilang kantuknya sedikit.

Lanjut, ke kawah. Rencananya tidak ingin naik kuda, tetapi semuanya mau naik kuda dan karena perginya berkelompok daripada pacenya nggak sama, akhirnya aku bersedia untuk naik kuda juga. Lumayan, pengalaman menunggang kuda di tengah gurun pasir.Kudanya cantik-cantik. Naik ke kawah sama sekali tidak melelahkan. Disediakan anak tangga, dan sudah dipisah antara yang naik dan yang turun, hanya satu antrian panjang untuk masing-masing arah. Begitu sampai di atas, ternyata cukup packed dan jalanan yang tersedia cukup sempit. Aku sempat gemetaran, nggak tahu mau langkah ke mana, karena takut licin, apalagi sebelah kiri udah jurang, sebelah kanan udah kawah yang masih aktif. Sempat takut banget. Bingung mau ngapain haha, mau maju salah, mau diam salah. Menariknya, ada banyak orang lain yang melenggang jalan begitu saja di tepi-tepi jurang tanpa rasa takut, seakan itu trotoar biasa. Akhirnya beranikan diri untuk jalan dan mendekati kawah. Amboy, kaki sumpah gemetar, mau noleh ke arah kawah itu pelan-pelan. Jadi, geli mikirin hari itu. Kawah Bromo mengeluarkan suara mirip pesawat jet. Ini memang masih Bromo, seperti stage 1 untuk yang namanya petualangan dengan alam. Papa mamaku pernah memanjat gunung Bawakareng berkali-kali dengan medan yang lebih sulit. Ini sih nggak ada apa-apanya, and by going to Bromo, I felt inspired to do more hikings, or more nature traveling. Beneran deh, yang namanya jalan-jalan ke alam itu can push us to the other limit. Yang tadinya takut, ternyata bisa juga melintasi medan yang nggak pernah kita mikirin sebelumnya. Pas ngelewatin sungai, kita menyentuh batu-batu di situ, tiduran di padang rumput. I felt so happy.


Lanjut ke padang rumput, alias Bukit Telletubies, aku langsung serta merta merasa amat sangat excited. Jadi inget, pas aku ke Vermonth 2015 silam. Waktu itu ke daerah Lodgenya Von Trapp Family, letaknya sekitar 2 jam dari kota Burlington, Vermont. Pas lihat hijau-hijau langsung senyum-senyum sendiri. Waktu ke bukit Tawangmangu juga gitu. Langsung pengen nari-nari ala Maria Von Trapp sambil nyanyi

"The Hills are aliveeee with the sound of music"


Aku merasa beruntung banget, perjalanan alam ini ditemani dengan orang-orang yang sevisi. Yang berani push their limits too. Tahu gimana caranya having fun dalam keterbatasan. Tahu gimana caranya enjoy tiap momen, menghargai tiap momen itu, dan mau belajar tentang alam. Pada nggak takut kena matahari, atau debu, siap dengan toilet ala kadarnya, siap kotor-kotor, siap basah-basah. Karena, di situlah serunya.

Alam itu seperti stage, di mana matahari menjadi lightingnya, suara angin, burung, kawah, adalah lagunya, dan segala yang terjadi saat kita mau dekat sama alam, adalah aksinya.
What should we do, only enjoy it.



Kalau aku mau rangkum, pertunjukkan Monita itu adalah mood booster banget. Seperti energy bar, langsung energi level full, dan siap menghadapi segala realita hidup. Maliq di satu sisi seperti fire works performance, bikin hati sedikit kejut dengan ledakan-ledakan kecil, dan nonstop. Dira Sugandi dan Sri Hanuraga Trio itu ibarat Royalty. Very elegant. Tapi, kalau boleh jujur the star of the show was Ring of Fire and Soimah. I was so into their performance! Aku beneran kagum dengan cara mereka meng-aransemen musik, mengawinkan musik timur dan barat, memadukan ketukan tak beraturan dengan lenggok suara khas karawitan. Gendang dan saxophone bisa juga disatukan. I just love it. Soimah, you are my queen!

Dan alamnya. Aku harus ke Bromo lagi, pada saat lebih sepi, naik sampai ke kawahnya lagi, duduk di pinggir kawah. Lalu, mau lihat sunrise yang lebih sepi juga.But anyway...
Jazz Gunung?
checked
Bromo?
checked

Smile?
checked
Happy?
oh yes... super checked.

Akhir kata,

Sampai bertemu di Jazz Gunung 2018!!!!

#28goingstrong
.
CVB