Sunday, December 8, 2013

Scorpionism

 Aku sedang ingin mempelajari yang namanya "scorpionism." Sebuah istilah yang (maaf) kuciptakan sendiri. Karena, efek yang pernah aku dapatkan ketika bergaul dengan banyak "scorpus" - orang yang lahir di bawah bintang Scorpio.
Terlebih satu manusia itu, yang tak usah kusebut namanya.
Sederhana saja, 'dia yang namanya tak boleh disebut' (versi Chendani), telah membuat duniaku jumpalitan, dan membuka mata ku yang selama ini tertutup debu, terbentur kebiasaan buruk, menjadi terbuka.
Kebiasaanku terdahulu adalah mengambil impresi pertama secara cepat dan memakluminya sebagai teori paling benar. Padahal, itu masih varian pertama, tidak banyak yang kulihat, tapi sudah cepat aku menyimpulkan. Ini pun terbentuk karena memang... lingkungan ku dulunya seperti ini. Teman, mama, keluarga, dan sinetron. Ya, komunitas kolektif yang menyebut dirinya Indonesia yang pelan-pelan membentukku seperti itu. Bukan sebuah kesalahan teman. Tentu saja, aku tidak menyalahkan siapapun. Dan tidak ingin mengecam bahwa kebiasaan ini adalah kebiasaan buruk. Hanya saja, 'dia yang namanya tak boleh disebut' telah membuatku ... 'berpikir', menggunakan logika tanpa terlalu menumpu pada impresi pertama.
Pernah kusebutkan di sebuah postingan mengenai Persepsi  bahwa kadang kebiasaan orang Indonesia ini membuat satu individu menjadi bodoh, dan tertipu. Kusebut tertipu, karena suatu kejadian, atau seseorang tidak bisa disimpulkan hanya sebatas impresi pertama.
Mungkin judul ini terlalu menjereralisasi, tidak semua scorpus begini adanya, hanya saja, aku tidak bisa memikirkan judul yang lebih baik daripada ini hehehe.
Nah, kembali ke Indonesia, aku merasa efek yang diberikannya kepadaku mulai melemah, kadang menguat, kadang hilang sama sekali. Menurutku, ini sebuah peringatan. Ujian.
Menolak menelan bulat-bulat impresi pertama mirip dengan kriminalitas di sini haha, aku bahkan merasa diberi cap "outisder" dan sebagainya dan sebagainya. Ya, aku memang berbeda. Kadang, merasa terlalu blak-blakan, tetapi terus terang terlalu gemas untuk tidak berkomentar. Apalagi ketika ada orang yang langsung loncat pada kesimpulan impresi pertama.
Aku tidak menyalahkan siapapun. Ini hanyalah jalan untuk aku menginstropeksi diri sendiri.
Sekarang, mungkin adalah waktu buat aku untuk komtemplasi, menjadi "arian dewasa".
Aku memang seorang Arian - seorang yang lahir di bawah bintang Aries. Seorang yang selalu tergesa-gesa. Menurut teori astrologi, seorang Arian dikatakan dewasa ketika dia mampu untuk "slowing down."
Dan, kembali ke lingkungan seperti ini mengingatkanku untuk lebih "slowing down"
Komitmen aku ke depan, biarlah efek scorpionism yang diberikan "dia yang tak boleh disebut namanya" tumbuh lagi pelan-pelan. Karena aku membutuhkannya.
Sangat membutuhkannya...

   
CVB

No comments:

Post a Comment