Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

Friday, November 10, 2017

Let me be ... sad

For months I have been trying to stand strong. To stand still. To keep doing what I am doing. But, I think I want to pick today as my "leash out" day.

I am sad.

The wounded heart is not healed yet. It relapses.
You might look at me as a strong individual, but today I am allowing my self to be vulnerable. Embracing the ache. Swallowing it. Let my nerves feeling all the pain.

I am sad.

Not because I regret things happened, but because I am still grateful of what has been done, and deep in heart longing for more. A longer episode. Still, the episode has ended. Next chapter has been not revealed yet.

I am sad.

Not because I cannot turn back the time, but because I need to carry on while my heart is still wounded. Keep doing what I am doing while healing my self.

I am sad.

Because as human being, I never satisfy. Craving for more morphine than I should take.

I am sad.

I know all things happened for the good, but still, I am sad and feeling like being ungrateful.



I am in love with life, but just... today, I want to be selfish and hate it only for today

for I want to be selfish.

Let it be.

Because after taking a break, then I can comeback fully charged again. Better than today.
So, let me be sad

Because sadness is necessary to keep my humanity.




CVB

Tuesday, September 12, 2017

Indahnya Jazz, Merdunya Gunung (Jazz Gunung 2017)

Alam, jazz, dan Maliq and d'essentials serta Monita yang membuat aku tidak pikir panjang untuk langsung cari informasi lebih lanjut soal Jazz Gunung 2017. Dan, pada akhirnya... there I was, sitting on the amphitheater at Jiwa Jawa resort, sumringah lebar sekali menonton semua artis favoritku, menyanyi gila-gilaan dengan lagu-lagu yang aku suka, dan merasakan dingin 12 derajat celcius di Indonesia.


Aku bilang konser Jazz Gunung itu seperti pertunjukan Magic. Semuanya terasa ajaib. Mulai dari background panggung yang dihiasi gunung-gunung dari jauh, pohon-pohon tinggi, burung atau kupu-kupu yang sesekali terbang melintas, dan musik. Aku nggak tahu mereka bikinnya gimana, tetapi aku mau kasih 10 jempol untuk krunya. Sound konser hari itu flawless. One more time, it was FLAWLESS. Tidak ada gaung, tidak ada missed, tidak ada adegan suara ngilang, dan hello, kita di alam terbuka, di gunung. Belum lagi kalau aku sudah sebut satu-satu artis yang tampil di konser dua hari satu malam itu.

Tidak perlu waktu yang lama untuk aku langsung mutusin bahwa tahun 2017 is my year to experience Jazz Gunung. Tahun ini line upnya adalah
Dewa Budjana
Indra Lesmana
Ring of Fire
Charged Particles,
Monita
Dira Sugandi and Trio Sri Hanuraga
Glenn Fredly, dan Maliq and d'essentials.
Done, I am done here.



Aku paling excited untuk Maliq. Udah lama tahu kalau live performance dari one of my favorite Indonesian band ini emang topcer. Dan oh my, exceeded my expectation indeed!
Monita is another thing. Nggak tahu kenapa albumnya yang terakhir (Dandelion) is the beauty of music. Sungguhan. I love every single song in it. Very cheerful and couraging.
Dira Sugandi and Trio Sri Hanuraga is my hidden gem this year. Dira Sugandi is famous of her great vocal and I was once bumped into their covers of Indonesian traditional songs, seperti Kicir Kicir, Manuk Dadali, Ayam Den Lapeh, and so on, and traditional song with jazz? oh yes, I am in.
Dan Glenn Fredly oh Glenn Fredly. Because of his performance back in 2003 I then finally knew that Indonesia has great singers.

Tapi, kalau mau jujur aku cukup penasaran dengan penampilan Ring Of Fire arahan Djaduk Ferianto. Tiap tahun selalu menggandeng banyak musisi dari berbagai macam background. Tapi, yang pasti selalu mengawinkan musik jazz dan irama tradisional. Pernah aku lihat projeknya jazz campur gamelan Bali. Elemen musik tradisional dicampur dengan jazz. Kapan lagi bisa lihat saxophone dimain barengan dengan seruling sunda.

Semuanya udah cukup buat aku untuk niat ke Jazz gunung 2017. Begitu nemu informasi, ternyata dapat deal yang cukup bagus. Nggak hanya Jazz Gunung, aku akhirnya beli paket wisatanya juga sekalian. Ke air terjun Madakaripura, gunung Bromo dan teman-temannya.Bisa cek Berangan tour



Day 1, 18 August 2017.

Jam 4 sore, kami (me, my cousin, and two other companions) memasuki daerah Jiwa Jawa Resort tempat konser Jazz Gunung diadakan. Dari jauh, kita udah bisa dengan para MC udah membuka acara sore itu. Setelah dapat tempat duduk, langsung aku terpukau sama semuanya. Kita nontonnya di amfiteater terbuka dengan panggung yang membelakangi pucuk pohon-pohon tinggi, dan bisa lihat jajaran pegunungan dari kejauhan. Opening act hari itu adalah Surabaya All Stars, and amboy! Never underestimate the power of local artists. Surabaya All Stars adalah salah satu grup musik yang udah lama wara wiri mencoba merawat jazz di Surabaya. Para musisinya memang sudah sedikit berumur, tapi yang namanya musik jazz emang nggak pernah mati. Lagu-lagu klasik Jazz seperti Cheek to Cheek, LOVE, dan lain-lain ramai disambut para penonton, dan nggak cuma itu aja, lagu dangdut alamat palsu sukses dibuat jazz tapi nggak meninggalkan warna dangdutnya. and the star of that opening act is lagu "It's My Life"nya Bon Jovi yang dibawain dengan gaya jazz! But, please... please picture this in your head, yang membawakan lagu tersebut adalah laki-laki berperawakan tidak begitu besar, dengan rmabut gondrong sedada, dikuncir, ada kumis tipis, dengan jaket kulit. Tampang boleh rock, tetapi jiwa tetap jazz.

Lalu disambung dengan Charged Particles dari America. I could say, it was a very typical American JAzz group. Lumayan menarik. Jadi, biasanya tiap hari konsernya akan disuguhkan pertunjukkan musik jazz pure atau penyanyi *bintang tamu. Menurutku konsep ini bagus. Karena namanya saja konser Jazz. Walaupun Maliq lebih cenderung mau dipanggil musik pop, Monita juga tidak pure jazz, apalagi Glenn Fredly, tetapi tetap saja esensi musik jazz masih ada di gaya musik mereka.

Nah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.

Matahari sudah di penghujung petang, 
kulepas hari dan sebuah kisah
tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku. 
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama....
- Memulai Kembali, MOnita

Matahari sudah bener-bener tenggelam. Langit sudah benar-benar gelap. Lampu panggung sudah mulai beraksi. Monita memulai pertunjukkannya dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan (tentu saja) irama jazz. Disambung langsung dengan lagu Hai. Ah, dan seterusnya seterusnya, dan seterusnya. Pertunjukkan 1 jam lebih 10 menit itu nggak kerasa. Hanya saja, ada sensasi aku di dimensi lain. Musiknya keterlaluan indah. Cuma ada kontra bass, gitar, piano, dan drum, dan suara Monita. Suaranya Monita juga terlalu kece untuk ukuran live. I can say better than recording. Dari jaman dia Indonesian Idol, I have put my eyes on her, and when she released her first album in 2009 or 2010, I set my ears for her, and then the last album and that very performance on the mountain, I set my heart and soul for her.

Diikuti dengan Dewa Budjana Zentuary. Kalau menggambarkan musik Dewa Budjana ini, seperti musik etnik yang dibaluti elemen rock dan sedikit jazz etnik. Highlightnya adalah si pemain seruling bambunya. Tidak ada vokal. Kalau aku bilang, aku suka. Cukup enjoy. Tidak begitu urakan untuk ukuran pertunjukan pure music

I have to close my eyes and repeat all the tunes, the lights, the ambience, and the heat I felt in the midst of cold night. I believe Maliq is one of those awesome live performer. The know how to have fun. They know how to make us have fun. Kita diajak nyanyi bareng, dan aku suka banget sama kekompakkannya mereka. Beneran bikin panggung terasa lebih wow. Maliq bisa bikin malam jadi lebih romantis. Dia minta kita nyalain flashlight di HP, dan mereka nyanyi lagu Untitled. Bikin merinding. They did save some excitement until the very end of the performance. Indah bisa nge-rap. She killed it. Funk Flow dibuat lebih funky dari lagu originalnya. Ah, really! Surpassed my expectation.




Day 2, 19 Agustus 2017
As I previously mentioned, aku ngambil paket wisata Bromo juga. Hari kedua, kami bangun pagi dan melihat pemandangan depan kamar kami yang mungkin harnya di film-film. Jajaran pegunungan, sedikit tiang pemancar, sawah, dan matahari pagi. Aku benar-benar nikmati setiap detiknya. Kami minum kopi ditemani lagu-lagunya Sri Hanuraga Trio, dan akhirnya siap 'bertempur' di air terjun Madakaripura.



Nama air terjun Madakaripura sudah nggak asing sih sebenarnya. Beberapa kali teman ada yang ke sana, tetapi nggak pernah terpikirkan bahwa air terjun itu bisa jadi tempat yang menyenangkan. Konon, air terjun ini adalah tempat Gajah Mada bersemedi dan menghembuskan napas terakhir. Jujur, aku sedikit skeptis. Apalagi, pas lihat foto-foto teman, aku pernah melihat air terjun yang lebih bagus. Tetapi, ternyata bukan air terjun yang di foto yang jadi highlight. Melainkan air terjun yang berada di sekitar dinding tebing, dan juga perjalanan ke sana yang lebih menyenangkan.
Kami berangkat dari penginapan, menempuh sekitar 1 jam, baru masuk ke pelataran parkir. Dari situ, kita harus siap-siap dengan sendal jepit dan jas hujan di tas. Yes, jas hujan saudara-saudara. Melewati air terjun-air terjun kecil untuk ke tempat Gajah Mada semedi yang menurutku lebih asyik haha. Sebelum ke jalan untuk menuju air terjunnya, kita harus naik ojek, dan ini juga sebuah pengalaman lain. Sekitar 50an pemuda berumur 18-22 atau 24 siap dengan motor masing-masing, sedikit berdebu, dan berkendara tanpa helm. Perjalanan dari tempat parkir ke gerbang air terjun sekitar 4 km. Lalu, dilanjutkan dengan berjalan kaki sedikit menanjak sekitar 1.5 KM. Cukup bikin napas tersengal-sengal, but was still OK. Apalagi pemandangan sepanjang naik ojek itu lumayan menenangkan. I was really enjoying the heat of sun rays in the morning, sedikit debu jalan, dan gronjalan membuat perjalanan makin asyik.

Sekitar 30 menit kemudian terdengan bunyi air jatuh. Masih skeptis. Lalu kami memakai jas hujan kami dan menggulung celana. And I loved it!!!
Begitu keluar dari jeratan guyuran air, aku senyum lebar sekali. Rasanya memang aku dan air tidak bisa dilepaskan dari satu sama lain. Bahagia itu sederhana juga, hanya diguyur air sejuk aja sudah bikin senyum lebar. Begitu aku membalik badan, aku terpukau dengan air yang jatuh di latar belakangi dinding batu berbenalu dan lumut. Bagus sekali.


Keseruan belum selesai sampai di situ, jika ingin melihat tempat semedi si Gajah Mada, kita harus melewati gundukkan bebatuan yang menonjol di sisi dinding gunung. Agak seram juga, karena cukup tinggi, berbatu, dan sedikit licin. Tapi, pura-pura berani, ikut aja si guide dengan merangkak pelan-pelan. Begitu di atas, kita makin excited dengar bunyi suara air terjun yang deras. Alam memang nggak bisa ditandingi.




Kami pulang untuk bersiap-siap konser hari kedua. Jujur, lelah. Tapi, it was worth it. Really.

Pertunjukkan hari kedua tidak dimulai dengan bagus menurutku pribadi. Terlalu salah, haha. Sana Seni Ensamble yang membuka konser hari itu. Mereka bilang kalau musik mereka itu Kronch Wrong which was a bit off. Ide musik keroncong dicampur jazz harusnya menarik, tetapi mungkin karena aku bisa dibilang bukan penggemar jazz murni, jadi agak sedikit terganggu. Untungnya setelahnya ada Dira Sugandi dan Sri Hanuraga Trio. Another exceeding expectation performance. Air mata sedikit meleleh ketika dengar kita nyanyi lagu Rayuan Pulau Kelapa bareng-bareng. Dira juga sampai sedikit nangis. Pertunjukkan sore itu sendu, namun tetap indah. Hari itu, kita dapat tempat sedikit depan. I could see Sri Hanuraga's fingerss dancing wildly on the piano. Gila. Orang jenius.




Berikutnya Indra Lesmana. Ok, he's pretty stiff as a performer I guess. Dan musiknya terlalu ketebak, jadi sedikit membosankan. Tapi, ya sudahlah. Di Jazz Gunung, orang bebas masuk keluar arena. Hanya sayangnya tempat jajannya terbatas. Jadi, tidak begitu banyak yang bisa dilakukan di luar konser. Anyway, akhrnya RIng Of Fire tampil. Kali ini mereka menggandeng Soimah. Iya, Soimah yang itu. Yang menor dengan suara pecah. But wait, she can sing. She can really sing! Really really well. Pertunjukkan RIng of Fire hari itu dimulai dengan lagu Dangdutnya Soimah diiringi big band style orchestra lengkap dengan kolintang melodi, gendang, dan saxophone. Disambung dengan lagu jazz classic yang dinyanyikan dengan gaya karawitan. My oh My, Soimah's voice is a true gem. Never underestimate penyanyi dangdut. Their vocal range, and the technique itu nggak main-main. Dengan penampilan Soimah dan Ring Of Fire Project, konser hari kedua berhasil diangkat lagi moodnya. Then, the star of our show, the man who portrays broken hearted really well, who gets the eastern music swirling in Indonesian music, yep Glenn Fredly.



As expected, lagu-lagu yang dinyanyikan Glenn adalah lagu-lagu yang sering ia bawakan saat konser. Rasa Sayange, medley Timur, You are My everything, Kisah Romantis. Sedikit kasih surprise, Glenn memanggil bang Idang Rasjidi untuk special showcase. Pianisnya Glenn hanya memainkan 3 bar lagu yang mau dinyanyikan Glenn, bang Idang langsung serta merta memainkan tuts tuts piano seakan jariya mengenal lagunya. Padahal, dia nggak dikasih tahu sebelumnya, dan mungkin aja nggak tahu lagunya. It was a real magic show. That's the power of Jazz. Blending in. Setiap jenis musik jika di syncopated, diberi chord kromatik, sudah bisa jadi musik jazz. Siapa bilang jazz itu musik exclusive, menurutku... semua musik bisa jadi jazz. Jazz itu musik universal, tapi mungkin susah dimengerti dibanding pop atau rock.

Aku suka jazz. Menurutku Jazz bisa menjadi musik romantis, fancy, atau mellow, bahkan dansa. Bisa dimainkan untuk jadi score dari sesi kehidupan kita. Aku selalu enjoy dengan tunes Jazz yang kadang sedikit off. Itulah seninya. Jazz di gunung? Dingin-dingin? Amazing experience. Aku mau salut untuk penggalang konser Jazz gunung yang tetap menjaga esensi ke-jazz-an. Konser jazz yang paling jazz walaupun ada banyak elemen jenis musik lain dilempar ke situ, tetapi tetap terasa esensi jazznya, dan mampu membuat para penonton terhibur. Aku bangga menjadi jamaah Al-jazziah di konser Jazz Gunung ke-9 ini. Terima kasih sudah bertahan, dan makin bagus tiap tahunnya. Terima kasih Djaduk Ferianto, Butet Kertarajasa, dan Sigit Pramono yang tiap tahun rajin membuat jazz Gunung semakin bagus, dan bagus lagi. Untuk tahun ini, tiketnya sold out loh!!!Padahal di pekan yang sama ada dua konser "Jazz" lainnya yang juga sedang berlangsung, di Jogja, dan di Surabaya.



Menarik juga ketika mengetahui yang tonton itu dari segala kalangan. Pas konser hari kedua, lebih banyak tante-tante dan om-om usia kira-kira di atas setengah abad, datang menjadi penonton. Memang konser ini sedikit lebih exclusive dibanding konser yang lain, karena untuk ke sana butuh effort lebih. Harus naik kereta api dulu, atau driving berjam-jam. Harus nonton konser dengan berbalut jaket tebal bahkan sarung tangan dan topi. Di situlah daya tariknya, apalagi mengingat betapa besarnya antusias penonton. Beberapa klip di youtube tentang Jazz Gunung terdahulu, banyak yang datang dari luar Jawa Timur untuk menikmati jazz. Jazz Gunung ini memang membuat kita menyadari Indahnya Jazz, merdunya Gunung.

Tahun ini, temanya yang diusung adalah Merdekanya Jazz, Bersatunya Indonesia, karena dibuat tepat sehari setelah hari Kemerdekaan.
Konser tahun ini membuktikan bahwa jazz itu musik yang bebas, merdeka. Mau dimainkan dengan gaya apapun tetap bisa disebut musik jazz, mau dimainkan dengan seruling sekalipun. Dan, aku jadi sadar bahwa Indonesia itu emang kaya. Jenis musiknya, para artisnya, alamnya, orang-orangnya.

Konser ditutup dengan gemilang tepat tengah malam. Itu berarti kita cuma punya 2 jam sebelum melanjutkan perjalanan utnuk melihat sunrise di Bromo. Terus terang, aku lelah luar biasa, karena pagi-pagi sudah menguras tenaga di Madakaripura, but hey we were there anyway, dan apa artinya kalau bilang ke Bromo tapi belum melakukan ritual di sana; nonton sunrise, ke bukit teletubies, pasir berbisik, dan kawah Bromo.


Kami dibawa ke Penanjakan satu, dan tempat itu terlalu touristy, too packed. I was more annoyed then enjoyed the sun rise. Nggak bisa dipungkiri emang bagus bangettt, tapi aku udah terlanjur kesal dengan orang-orang yang ribut dan tongsis sana sini. Kenapa nggak diem aja dan menikmati perubahan warna alam? Mulai dari semburat tipis membatasi di tengah cakrawala, pelan-pelan tambah besar, membuat gradasi paling cantik di langit. Lalu pelan-pelan menampakkan pegunungan Tengger.








Selepas berkutat dari kerumunan orang-orang dan melawan angin dingin, kami berhasil turun dan istirahat sejenak di warung dekat situ sebelum melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo. Lumayan, mengisi energi sebelum ber-adventure ria dengan jeep. Oh iya, sensasi naik jeep gelap-gelap pas mau nonton sunrise itu seru juga. Jeep-jeep dari berbagai arah ketika memasuki taman Nasional Tengger itu dengan gagahnya tanpa ada rambu-rambu.. Tinggal stel lagu soundtracknya Indiana Jones, udah bisa jadi film petualangan seru. Benar-benar gelap, hanya ada lampu-lampu sorot dari jeep-jeep yang berlari kencang. Yang nyupir saat itu tidak lebih tua dari 20 tahun, tapi tangkasnya bukan main. Seru. haha. Jadi, hilang kantuknya sedikit.

Lanjut, ke kawah. Rencananya tidak ingin naik kuda, tetapi semuanya mau naik kuda dan karena perginya berkelompok daripada pacenya nggak sama, akhirnya aku bersedia untuk naik kuda juga. Lumayan, pengalaman menunggang kuda di tengah gurun pasir.Kudanya cantik-cantik. Naik ke kawah sama sekali tidak melelahkan. Disediakan anak tangga, dan sudah dipisah antara yang naik dan yang turun, hanya satu antrian panjang untuk masing-masing arah. Begitu sampai di atas, ternyata cukup packed dan jalanan yang tersedia cukup sempit. Aku sempat gemetaran, nggak tahu mau langkah ke mana, karena takut licin, apalagi sebelah kiri udah jurang, sebelah kanan udah kawah yang masih aktif. Sempat takut banget. Bingung mau ngapain haha, mau maju salah, mau diam salah. Menariknya, ada banyak orang lain yang melenggang jalan begitu saja di tepi-tepi jurang tanpa rasa takut, seakan itu trotoar biasa. Akhirnya beranikan diri untuk jalan dan mendekati kawah. Amboy, kaki sumpah gemetar, mau noleh ke arah kawah itu pelan-pelan. Jadi, geli mikirin hari itu. Kawah Bromo mengeluarkan suara mirip pesawat jet. Ini memang masih Bromo, seperti stage 1 untuk yang namanya petualangan dengan alam. Papa mamaku pernah memanjat gunung Bawakareng berkali-kali dengan medan yang lebih sulit. Ini sih nggak ada apa-apanya, and by going to Bromo, I felt inspired to do more hikings, or more nature traveling. Beneran deh, yang namanya jalan-jalan ke alam itu can push us to the other limit. Yang tadinya takut, ternyata bisa juga melintasi medan yang nggak pernah kita mikirin sebelumnya. Pas ngelewatin sungai, kita menyentuh batu-batu di situ, tiduran di padang rumput. I felt so happy.


Lanjut ke padang rumput, alias Bukit Telletubies, aku langsung serta merta merasa amat sangat excited. Jadi inget, pas aku ke Vermonth 2015 silam. Waktu itu ke daerah Lodgenya Von Trapp Family, letaknya sekitar 2 jam dari kota Burlington, Vermont. Pas lihat hijau-hijau langsung senyum-senyum sendiri. Waktu ke bukit Tawangmangu juga gitu. Langsung pengen nari-nari ala Maria Von Trapp sambil nyanyi

"The Hills are aliveeee with the sound of music"


Aku merasa beruntung banget, perjalanan alam ini ditemani dengan orang-orang yang sevisi. Yang berani push their limits too. Tahu gimana caranya having fun dalam keterbatasan. Tahu gimana caranya enjoy tiap momen, menghargai tiap momen itu, dan mau belajar tentang alam. Pada nggak takut kena matahari, atau debu, siap dengan toilet ala kadarnya, siap kotor-kotor, siap basah-basah. Karena, di situlah serunya.

Alam itu seperti stage, di mana matahari menjadi lightingnya, suara angin, burung, kawah, adalah lagunya, dan segala yang terjadi saat kita mau dekat sama alam, adalah aksinya.
What should we do, only enjoy it.



Kalau aku mau rangkum, pertunjukkan Monita itu adalah mood booster banget. Seperti energy bar, langsung energi level full, dan siap menghadapi segala realita hidup. Maliq di satu sisi seperti fire works performance, bikin hati sedikit kejut dengan ledakan-ledakan kecil, dan nonstop. Dira Sugandi dan Sri Hanuraga Trio itu ibarat Royalty. Very elegant. Tapi, kalau boleh jujur the star of the show was Ring of Fire and Soimah. I was so into their performance! Aku beneran kagum dengan cara mereka meng-aransemen musik, mengawinkan musik timur dan barat, memadukan ketukan tak beraturan dengan lenggok suara khas karawitan. Gendang dan saxophone bisa juga disatukan. I just love it. Soimah, you are my queen!

Dan alamnya. Aku harus ke Bromo lagi, pada saat lebih sepi, naik sampai ke kawahnya lagi, duduk di pinggir kawah. Lalu, mau lihat sunrise yang lebih sepi juga.But anyway...
Jazz Gunung?
checked
Bromo?
checked

Smile?
checked
Happy?
oh yes... super checked.

Akhir kata,

Sampai bertemu di Jazz Gunung 2018!!!!

#28goingstrong
.
CVB

Tuesday, March 28, 2017

Di Balik Retina - Edisi Bali

Bali...

Aroma Pantai...

Peringai Santai...

Tak ada yang percaya kalau kota lain di Indonesia jauh dari yang namanya Bali.
Bali, sebuah komponen berdiri sendiri dengan membawa tradisi dan modernisasi bertumbuh bersama-sama. Tak ada satu kata yang lebih tepat selain #Baligenic. Hanya Bali yang bisa. Hanya di Bali... Ya.. dan kali ini retinaku merekam segala sesuatu yang kutangkap selama di Bali.

Tak ada gambar, hanya sebuah rangkaian kata-kata mencoba untuk memproyeksi apa yang mataku rekam.

Ke Bali bukan sebagai pelancong kali ini, tapi punya sedikit kesempatan untuk akhirnya bisa benar-benar "melihat" Bali lebih jelas. Tinggal di daerah Sanur sedikit membawaku ke masa lalu. Keluarga angkatku tinggal di Bunderan Renon, aku sering dibawa pagi-pagi ke pantai Sanur untuk berenang dan malamnya biasanya dibawa untuk makan Gelato dekat-dekat situ. Tapi, selain itu, aku tidak mengingat hal lain apa yang ada di Sanur. Tidak banyak sebenarnya yang bisa aku ceritakan, hanya malam itu aku baru sadar kalau aku belum pernah menikmati Bali seperti malam itu.
Malam itu setelah makan di tepi pantai, aku memutuskan untuk berjalan menyusuri jalanan sepanjang hotel. Hanya aku dan suara ipod. Tidak ada tujuan. Sekitar pukul 20.30, beberapa gerai sudah tutup, tapi sepanjang jalan masih terang. Aku berjalan tanpa arah, tanpa hp, tanpa dompet. Hanya jalan saja sekenanya. Yang kuperhatikan adalah sedikit dari kota di Indonesia yang mempunya pedistarian friendly. Mungkin hanya di sekitar daerah turis saja, tapi sepanjang jalan aku tidak terlalu khawatir akan pengendara motor atau pengendara mobil yang lalu lalang, tidak seperti jika aku sedang di Surabaya atau di Makassar.
Hal lain yang aku lihat, aku merasa seperti berada di negara orang, tetiba menjadi minority, merasa diri bukan turis, bukan lokal. 80% manusia-manusia yang lalu lalang di sepanjang jalan jelas bukan berasal dari Indonesia. Model bangunan dan restoran pun disesuaikan. Semuanya tanpa jendela, tanpa AC, hanya satu lantai, dan mennyediakan tempat outdoor. Mungkin banyak yang sudah sadari ini soal Bali, Tentu saja, ini hanya trjadi di sekitar tempat touristy. In the end, this is a part of Bali. A city in my very own country.
Aku berhenti beberapa saat di sebuah bar yang paling penuh malam ini. Merka menyuguhkan musik raggae dan bisa kubilan tempat itu yang paling penuh. Botol-botol beer, beberapa piring berisi kudapan, dan terlihat semua pengunjung menikmati tempat itu. Aku melepaskan earphone dan ikut menikmati musiknya. Mataku menangkap tanda lin.

"NO SHRT, We Don't serve!"

Note that...
Buatku ini menarik. Beberapa waktu lalu, daerah Kuta dan mungkin hampir semua daerah Touristdi Bali dipenuhi dengan pelancong pria tanpa atasan. Kupikir, mereka tdak akan perduli, namun ternyata mereka mulai perduli. No more bikini and shirtless man on the street. :) Aku rasa itu juga kontribusi dari para pelancong yang mulai sadar bahwa Bali itu Indonesia. Sebuah negara yang masih memegang beberapa nilai conservative, berasaskan agama. Beberapa postingan di Trip advisor juga mendukung perihal berpakaian di Bali. Tanktop and shorts are definitely appropriate, menurutku pribadi, aku lebih leluasa berpakaian ketika di Bali. Yang mana kadang memakai short pants saja bisa membuat risih karena banyak orang-orang yang memperhatikan ketika di kota lain selain di Bali, Makassar salah satunya tapi tidak di Bali tentu saja. Bali mempunyai fashionnya sendiri. #Baligenic, hanya di Bali. In the end, I am still smilin seeing that sign - "NO SHIRT, We don't serve" Commonsense babe, it is all about common sense. Bikinis on the street is a bit too much belum lagi tidak baik untuk kesehatan. Kata orang Indonesia.. "nanti masuk angin, dan juga banyak nyamuk"

Hal lain yang aku tangkap, hanya di Bali hampir sepanjang jalan menawarkan pizza, pasta, burger, dan makanan Indonesia sekaligus di satu restoran. It is all about adapting and adjusting. Para pelancong dan lokal saling mencoba memahami satu sama lain melalui makanan. Menarik... Ada juga yang khusus menawarkan makanan tradisional tapi dengan gaya yang lebih global. Aku ingat ketika pesiar di Korea Selatan, hampir semua tempat di luar tourist area masih menggunakan Hangul. On the other end, I enjoyed it more than things are tourist ready. Hanya saja, di Bali menurutku ini satu hal lain yang memang #Baligenic.

Bali memang tempat yang unik. Di antara semua kota di Indonesia, kita mengakui bahwa orang-orang Bali adalah masyarakat yang masih sadar akan pelesarian kebudayaan. Orang-orang lokal masih memahami bahasa tradisional Bali. Mempunyai kepribadian beragama yang kuat. Solidaritas tinggi. Gedung dan banyak peraturan lain masih ikut peraturan budaya dan agama. Tidak ada gedung yang tinggi, karena tidak boleh lebih tinggi dari pura. Di satu sisi yang lain, masyarakat Bali juga bisa dibilang yang paling 'terbuka' dengan segala kebudayaan lain. Makanan salah satunya. Aku rasa aku bisa makan makanan dari banyak negara hanya menyusuri satu jalan di daerah Kuta atau Sanur atau bahkan di daerah Ubud. Greek, Mexican, Mediteranean, Japanese, Middle-eastern, Italian, Nasi Padang, you name it
Itulah Bali...

Hanya di Bali...
Hanya Bali yan bisa..

#Baligenic.













*my work attire when in Bali.. sudah cukup #Baligenic? lol
CVB

Thursday, May 26, 2016

Malaysia Bersama Kugy

Warning!: it is going to be a mixed language post ya.. Continuity of Malaysia euphoria where I spoke mixed languages; three! English, Melayu and Indonesia. Well, Melayu and Indonesia sama saja. lol

me and the malaysian guy, payung man is obvious
Setelah dari petualangan Batman 2 di Malaysia tahun 2014, aku dan sahabatku Kugy berencana untuk ke KL di bulan April tahun 2015, tapi seperti yang sudah diketahui, aku malah ke US. Rencana itu terpaksa ditunda walaupun tiket sudah kebeli. It was pretty sad, since our main point was to meet our friends in Malaysia, and it would be my first adventure with Kugy. Me and Kugy are in the group that we call Malindo 101 :) It contains my friends from University of Minnesota and Kugy who is my neighborhood friend. In short, we both agreed in the end that it was not a good time to go anyway since she had something come up as well,  We couldn't go last year, and we did not think when we could go anytime soon. The thing that we did not know that there is always another good time for it.. Well, it is just postponed. Until this year!
Exactly couple of days before my birthday, Kugy told me that one of our friends in the group was getting married, dan lucunya lagi, aku sudah membatin pada diri sendiri kalau si teman itu get married, I should go! LOL. What a conspiracy! He's my college friend, kupanggil dia Payung Man! Hehehe karena dulu, kami pernah dalam satu show ketika PERMIAS Minnesota mengadakan Indonesian Night. Kami harus mempertunjukkan tradisi pernikahan adat ala Padang. I became the mother of the bride, payung man became a payung man lol. He needed to hold an umbrella for the groom. Bisa dikatakan jadi dayang-dayang hehehe. Kita dekat jauh sebelumnya. Mahasiswa Indonesia saat itu hanya sekitar 50an, sedangkan pelajar Malaysia jumlahnya paling tidak 150an. Jadilah, kami sering meminta bantuan mereka saat kami mengadakan event. Aku pun akhirnya sering diundang saat mereka juga ada event. That's how we got closed.

It took me and Kugy only three days to decide to go to KL in the end of April. Everything went so perfect. I got a pretty decent air fare, and there we were on the April 29th met at the airport. But, before we went far into our adventure, there's always a pre-story to be told.
Tiap tempat selalu punya cerita. Oh My! And why! I have to have a drama with my flight story, at least ONCE a year, and it is the first in this year (I hope it is the last). I bought a ticket from Air Asia in April. You know what, I just got a text message at 6PM on Thursday 27th April! A day before our departure time. My original schedule was at 3.45PM an hour before Kugy's and I was supposed to arrive an hour before Kugy as well, but it turned out that I was rescheduled to the later time at 6.25 PM. Meaning I would arrive at least 1.45 hour after Kugy which was nearly midnight. It was quiet a hassle since we needed to take taxi to our place. Note, that place that we stayed is in Selangor, another state from KL. Took about 30 minutes from KL. So, I was pretty upset. I slept not really peacefully. My mind was so focus for getting an earlier flight. I arrived at Juanda (surabaya airport) at 1 PM, I rushed to Air Asia office and explained my situation. Thank God, I could be rescheduled to earlier time; 2PM! lol! 1 hour before departure. wew. But, anyway... I got through everything and finally arrived at KLIA 2 hours before Kugy's. I was Ok with it, I already prepared with a book with me, so I waited for her and finally met Kugy!! And guess what!!! the plane scheduled on 6,30PM, the one that I was supposed to take because of rescheduling, was DELAYED hahaha. Bless air asia.
Yeaay! It is my second time travelling with a friend and woo another Pisces lol. Anyway, we both arrived safely at our hotel. And our adventure was started at that very night.

Kami dijemput salah satu teman kami dan itu kali pertamanya Kugy mendengarkan aksen Malaysian English. LOL He was surely speaking pretty fast, yang terjadi I translated for both party. LOL! We slept at 2.30AM and decided to just straight going to KL for shopping. woohooo...

Malaysia is always special for me. Because it is so the same yet so different. I feel I can easily understand anything about it. The simplest thing is language. Aku nggak perlu susah-susah cari penjelasan dalam bahasa Inggris kalau misalnya cuma ada petunjuk dalam bahasa Melayu. Walaupun penggunaan kata yang dipakai tentunya berbeda, tetapi aku masih bisa paham apa maksudnya. Misalnya nih DEPARTURE alias KEBERANGKATAN jadinnya Balai Pelepasan. Food Court yang kita juga nggak pernah punya kata yang pas, dalam bahasa Melayu itu Gerai Santap. Kata-katanya masih bisa kita mengerti. Seru kan? Apalagi semua kata-kata pokok seperti jalan, kanan, kiri, tempat, dan lain-lain itu sama persis. Hanya ketika aku ngobrol sama teman Malaysiaku, aku lebih memilih kata-kata yang bukan adaptasi dari bahasa Belanda seperti kata persis itu berasal dari bahasa Belanda, tentunya orang-orang Melayu yang dijajah Inggris ini nggak ngerti hehe. Mungkin di sini aku akan lebih banyak berbicara soal sharing culture antara Indonesia dan Malaysia.
Pernikahan adat Malaysia juga tidak jauh berbeda dengan pernikahan/resepsi adat Indonesia. Akad nikahnya tentu saja sama dengan punya Indonesia. Pakaian mereka juga mirip. Pestannya sendiri lebih diisi musik bernuansa islami, dan berpantun :)



Dulu sewaktu kuliah, aku sering diundang ke acara Hari Raya (Idul Fitri)nya mereka. Jauh di tanah orang, makan nasi dengan tangan? Heaven haha. The food is similar. But, I am a big fan of their roti jala and ayam rendang ;)
Malaysia is always interesting for me. Three big races living together. They claim themselves as 'pretty racist' among themselves, lol. I used to make Malaysian anthropology as my topic paper. Our lingua franca (sharing language) is also interesting. I truly have no trouble communicating whether using Indonesian words or hearing Malaysian words.





Ah Malaysia, I am falling in love. I have promised myself to explore you more. I still have to go to Batu caves, Merdeka Square, Melaka, and Penang.
It is on my to-go-list. Perjalanan kali ini, kami lebih fokus ke temu kangen dan pernikahan sahabat kami itu. Oh and shops hehehe.Kali ini kuliner experience aku itu makan di tempat tongkrongan ala-ala food court punya anak muda yang buka sampe malam tapi makannya Bengkoang! hahahaha. Enak tapiii. Mereka bilangnya 'Sengkuang', di potong hampir berbentuk pizza mini dengan diolesi gula melaka atau gula jawa dan ditaburi irisan kacang tanah. Enak loh. Seger ala-ala rujak (sori, waktu itu ga sempet poto karena batere habis).

Curry
 Terus, pengalaman berikutnya itu makan Banana Leaf. Ini sih kebaiasaan Indian Mamak, atau Indian muslim kalau makan kari. Aslinya, kita beneran makan di daun pisang di atas meja, nasi dan kari dan lauk dicampur semua dan makannya pake tangan. :) Nah yang ketiga itu Rojak ala Penang. Nah, ini yang menurutku agak interesting. Latar belakang aku adalah Makassar dengan banyak influence dari Maluku karena orang tua aku semuanya berasal dari Maluku. Kalau kami bilang rujak ya di pikiran kami itu adalah rujak buah yang rasanya manis. Nah, setelah di Jawa baru aku tahu kalau rujak itu juga bisa digunakan untuk rujak cingur yang dimana lebih savoury. NAH, kalau di Malaysia juga begitu. Rojak a.k.a. rujak itu lebih asin.Isinya irisan mangga muda, bengkuang, gorengan, dan bisa milih mau pake telur atau ayam. Nah loh! hahaha Mereka juga ada rujak manis yang mereka specially sebut rujak manis. Sekilas Rojak ala Penang ini mirip banget sama Ddeukboki nya Oppa oppa . lol

Rojak
 I am so blessed. Karena setiap perjalanan itu aku selalu dibantu banyak orang. Punya banyak teman di mana-mana emang sangat menyenangkan. Aku beruntung banget punya teman sampai di KL. Kami jadinya sangat 'terpelihara' gagal travelling ala backpacker hahaha. Terima kasih Malaysia,
till we meet again.

with Shasha
Malindo 101 minus Jfarghali





Next on my to-go-list. Penang and Melaka :) Wait for me!
Till we meet again


CVB

Wednesday, December 2, 2015

#48HoursAway - second December Series

It has happened in November, but I include it as my second story of December Series because it has a significant impact on me. That particular event is the reason why I feel so excited and ready for December.

These past few days, you have seen none other things than this hashtag - #48HoursAway on my social media! Yes! I got too excited about this trip because it turned out to be.... a ultimate series of answers, a thanksgiving getaway, and surely a big reunion frenzy. It is all because of Mr. Anton again! Why on earth he got an idea to have "thanksgiving dinner" while we are in Indonesia. We don't celebrate thanksgiving in Indonesia. But, he did host this party. And I think only him could think something as ridiculous like this. Additionally, I also think I was a bit crazy to agree to this whole idea.
One fine day, there was a message via facebook messanger, a group message to be precised. It was about this whole gathering. From 8 people down to only 5 people who agree to meet. I did agree because I thought it was the chance for me to meet up with Sara and spend time in Bogor. We have been talking about meeting up for months. The chance were never come until that message came in. So, I grabbed it, said yes, found a ticket, and bam... I was in the plane ready for my weekend getaway. . FYI, Sara and Anton and I were united because of one odd thing; alcohol. But, don't get me wrong, we are a responsible drinker ;) and devoted Catholic as well.

Anyway... days after I told everybody else that I bought the ticket, Sara told me that Atay is getting married! Atay is one of "petinggi" of Mudika Seattle. Both me and Sara knew each other from Mudika. The wedding would be held on Friday 27th when I arrived. Initiative planning was we went to the holy matrimony because Sara was concerning about her 3 years old baby had to stay up late two consecutive nights for our 'thanksgiving dinner' would be held on the Saturday the 28th.
D-1 she told me that it was OK for us to go to the reception instead. It had a bigger chance to meet up with everybody else. Therefore, there we were greeted everybody. Had so much fun meeting familiar face once we were in Seattle. It's been about 5 or 6 years I haven't met them. The night went out and the morning came.


As a die hard fan of Dee, me and Sara decided to pay a visit to Filosofi Kopi, Melawai. Of course we visited a local coffee shop at Bogor called Imahnini gallery and coffee shop. I love that place! Vintage and cozy. Even the TV is still black and white, and it has a rustic piano which still could be played. Yeyeyeye. Had a little jam with Sara ( we were in the music group of Mudika for a while).


Then, we went to Melaway. To be honest with you, I think I would not go back there again. The ambience was a bit off, like everybody was in rush, the coffee was OK, but the churros was one of the best I would say.Well, the coffeeshop is very photogenic






Then, the night was coming. We arrived at Hang Lekir street just at the same time with the other party, Bejo. Gosh, I haven't met Bejo for 5 years. Anton btw I met by coincidence before, and me and Sara managed to meet him again earlier this year (story is here)


Proceed to the dinner, instead of turkey and pumpkin pie, we had ayam bakar, casserole, mie goreng, and kare ayam, don't forget rice and kerupuk of course. Desserts were chocolate pudding, banana bread, and crispy almond. And yes... booster.


Ah, that night was one of the happiest moments ever. Added as one of the high lights in my 2015 fanfare. It's been a while I haven't felt the joy of gathering with friends. I have been moving around too much, and only went out with a person or two. We had a lot of fun. We reminisced some old times, gave updates of each other, brought new member (spouse, brother, and kid), and had a lot of fun.



Do you know the feeling of meeting the right people in the right moment?
I want to say that I met them because I needed to meet them, the universe has made us to meet so. Ah.. I wish I really can express this well. Let me just use the words; impulsive and intuition. I hope this can lead you to the idea I am trying to share here. This trip was one of an impulsive action. I could say that it was lead by an intuition that I did not realize at first.
It turns out this journey has helped me to solve one little problem that I have. Sorry, but I think I have to add word in Bahasa for the sake of writing.
Sadar nggak sadar, I have been struggling with one particular case that myself has no courage to really step in and solve it. Parts of myself knew the answer already. A guess. Maybe that's why I did not dare to even ask about it. I let it settled in the bottom of my consciousness. However, this whole trip has helped me to put a period in it. Case closed.
I've been thinking that the whole universe was in conspiracy. I knew from the beginning that this trip was no ordinary trip. Impulsive trip has its own charm. It turned out to be finding answers. It is indeed 'a series of answer.' Every event happened, out of what I have been wondering. I was asking myself when I would be in a wedding where I could meet friends that I haven't met before. You know that I kept moving around so sadly I got little wedding invitation from my circle because they knew it would be hard to me to travel. But hey, Atay got the jackpot (or I may say, I got the jackpot). I was asking myself when I could meet my fellow Mudika Seattle peeps, and hey... there was the wedding night. I was asking myself when I could go to Bogor, and you knew the answer already.
One last miracle, I also got a chance to meet my friend from Minneapolis at the very same night :)
How blessed I am

I am glad that this fragile heart has a strength to shout out, to be listened. I am glad that I chose to listen to it. To let it lead the way.
This is always fascinating. I am glad that my heart still has its ability to show me the right way just  like before. Precisely, this year, I have so many events that was absurd but turned out to be 'I got what I needed'. It's been done.

I also realize one thing. My #48HoursAway trip is a thanksgiving trip.
Yes, I am grateful for this trip.

Enough said :)

More to come in other December series. Stay tune


CVB

Monday, August 10, 2015

Tiap Tempat Memang Selalu Punya Cerita - Makassar

Tiket sudah di tangan, bahkan boarding pass sudah masuk lewat sms, tinggal tunggu check in bagasi, lalu syuuuuut, terbang dan tiba di Makassar ketemu Gassing. Waktu itu baru pukul 10 pagi WIB. Berangkat dari Malang jam 7 pagi WIB, ready by 6 AM, as a result, I did not sleep at all. Mau tidur nggak bisa-bisa... akhirnya nonton Kpop Star sampai jam 4 subuh. Maybe because it was my first time to travel by plane from MALANG via Juanda airport, jadi agak lebih banyak hal yang dipikirin. Takut macet lah, takut travelnya nggak enaklah, dan seterusnya-seterusnya.
 It turned out to be not bad. Aku udah khawatir supirnya bakalan ngebut-ngebut, aku mabuk, mobil bau, dll. Nope. It was not at all. Mobil penuh barang sih, tapi masih sangat nyaman, dan mungkin karena aku nggak tidur semalaman, alhasil tidur nyenyak.
Pesawatku terjadwal untuk berangkat 13.45 WIB, itu artinya masih ada 3 jam sebelum berangkat. Sengaja aku milih berangkat paling pagi dari Malang; karena takut macet, musim liburan, daaan bisa nge-bucks lagi. Baru 2 bulan tinggal di Malang, but oh My God, begitu masuk Terminal 2 Juanda, berasa orang gunung masuk kota. hahahahaha. Apalagi di gerai Starbucks, percakapannya seperti berikut;
"ko, punya credit card ANZ nggak?" koko-koko dengan rambut dandy bertanya kepada papa-papa muda yang tidak kalah dandy sambil menggendong baby boy yang udah cas cis cus pake bahasa Inggris.
"Nggak ada, kalau pake BCA bisa mas?" si papa-papa dandy bertanya kepada si barista
"Kalau ada yang platinum ko..." jawab si barista kalem
"Oh ada... itu beli gratis semua? atau gimana?" papa-papa muda tadi bertanya lagi
"Satu kartu satu transaksi ko" jawab mas barista
"Pa, papa punya kartu platinum nggak?" si papa-papa muda bertanya kepada engkong pake baju kaos oblong dan celana pendek.
"Ada. Itu kartunya titi juga ada..." pandangannya menuju ke si koko-koko yang tampangnya nggak lebih dari umur anak SMA or freshman in college
#bengong

Sambil mikir, orang kaya punya kartu kredit bejibun dengan fasilitas "prioritas" tetap heboh dengan gratisan. hahahaha.
Ah Surabaya, dandanannya, logatnya, orang-orangnya kok jadi asing ya? Padahal baru 2 bulan ditinggalin. Di Malang, jajanan paling mahal cuma Calais tea saat ini, dengan harga 25000an, nggak ada promo kartu kredit kecuali promo 10 stamps 1 free drink, yang udah sukses aku dapatin dari pembelian Calais Tea di berbagai kota. Orang Malang kebanyakan mahasiswa, jadi nggak terlalu banyak lihat tas Michael Kors di mana-mana, adanya cuma tas-tas lokal yang nggak kalah cantik. Unik. Personal. Di Surabaya, dulu kalau ke Galaxy Mall, hampir semua cewek menjinjing tas yang sama entah asli apa KW paling bagus. Bukan menjelekkan loh ya. Just want to point out these differences. Intinya, aku resmi merasa seperti orang gunung.

Hahahah
Eittss... cerita belum berakhir.
Setelah happy ngendem di Starbucks dan makan Hoka-hoka Bento (FYI, hok ben ada kok di Malang hahaha), aku akhirnya masuk ke ruang tunggu. Waktu menunjukkan pukul 13.25 WIB. Agak harap-harap cemas, karena tadi waktu di Starbucks udah dengar banyak penerbangan delay dan cancel. Kebanyakan Singapura Surabaya. Semuanya gara-gara gunung Raung menyemburkan abu vulkanik lagi. Kejadiannya seminggu sebelum lebaran. Aku awalnya tidak begitu khawatir, toh nggak ada pemberitahuan resmi kalau Juanda ditutup, yang aku dengar Bali dan Lombok yang penerbangannya jadi kacau balau.

But, jeng jeng... 13.45 langsung diumumkan Juanda ditutup sampai pukul 20.00 dan semua penerbangan di cancel.

Sigh...
Again? That's the first question I had in my head.
14 Feb 2014, aku juga terjebak di Juanda gara-gara gunung Kelud. Kali ini gunung Raung. Itulah akibatnya tinggal di daerah yang mempunya ribuan gunung vulkanik. Oh well, surprisingly, aku lebih calm. Mungkin karena udah ada firasat sedikit. Aku kangeeeeeeeeen setengah mati dengan Gassing. Nggak biasanya. Kami disarankan untuk refund atau reschedule. Aku milih reschedule. Bener-bener pengen pulang aku, but as always I have plan B in my head, yaitu... jadi anak Surabaya lagi kalau nggak pulang. UNTUNG ada teman yang baik hati mau menampung pengungsi kesasar ini. Sebelum kita lanjut ke sana, let me tell you about my special encounter yang bikin hari itu berjalan jauh lebih tenang.
Waktu masuk ruang tunggu, I spotted pasangan bule di situ. Waktu diberitahukan oleh petugas bandara soal Juanda ditutup itu pakai bahasa Indonesia logat Jawa, jadinya si bule rasanya nggak gitu clear infonya. Si cewek menatap aku dengan pandangan meminta informasi lebih. I guessed, I had to tell her about the situation then. Si cowok pun datang bergabung dan mendengarkan informasi yang aku sampaikan dengan seksama. Dari aksennya ternyata mereka bukan dari Amerika, somehwere in Europe, sekilas seperti bahasa Belanda, but no.. it was not Dutch. Ternyata mereka mau ke Raja Ampat melalui Makassar. Jadi, kami sepakat untuk berbarengan reschedule. Nama mereka Olivier dan Irina. Pasangan dari Swiss. Untung perusahaan yang aku kerja sangat hopeng dengan Glion (one of the top hospitality schools in the world baby), jadinya bisa ngobrol ngibril sedikit tentang Swiss, sekolah2 hospitality di sana dll.
Antrian di gerai Garuda Indonesia belum terlalu panjang. Mungkin karena kami bergegas setelah dapat pengumuman. Tapi, tetap saja lumayan lama juga menunggu giliran. Setiap orang kira-kira menghabiskan waktu paling kurang 20 menit. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin ada sesi curhat dulu, marah-marah sedikit, baru mengambil keputusan. Kami bertiga sudah sepakat untuk mengambil waktu penerbangan malam karena menurut tinjauan Tuan Olivier, kalau malam sudah tenang, sudah aman, gunungnya sudah capek katanya kalau malam... hahahaha. Jadilah kita setujut untuk mengambil penerbangan jam 19.00 keesokan harinya. Kita juga sudah omongin kalau Juanda masih ditutup atau kalau Gunung Raungnya masih meraung, si suami istri orang Swiss itu akan ganti haluan ke kawah Ijen dan Bromo (masih aja gunung vulkanik), aku cuma memikirkan Galaxy Mal dan Tunjungan Plaza. Maklum butuh memaksimalkan kesempatan masuk kota.
Selama ngantri, kita jadi ngobrol macam-macam. Cas cis cus pake bahasa Inggris, agak menarik perhatian orang sekitar juga sih. Yang kita obrolin banyak hal. Aku jadi tahu kalau mereka terobsesi sama Indonesia! Sekali lagi OBSESI. Si cowok udah kelima kali ke Indonesia, dan mereka ambil cuti 3 bulan! Udah ke Kalimantan ketemu orang utan, dan emang udah rencanain untuk keliling pulau Jawa soon. Orang Eropa yang negara-negaranya nggak kalah eksotis itu jatuh cinta sama Indonesia. Percakapan kita jadi nyambung ke Toraja, Borobudur, dkk. Tiba-tiba dia nyeletuk kalau di Indonesia ngantrinya rapi ya, nggak kayak di Swiss. Bengong. Aku noleh ke belakang dan takjub sendiri melihat antrian panjaaaaaaaaaaaaaaang tapi rapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Nggak biasanya. Masih trauma dengan kejadian Feb kemaren, yang Juanda terminal 1 udah kayak terminal bus. Mungkin karena ini International airport, dan rata-rata adalah penumpang-penumpang Garuda. Bukan berarti merendahkan, tapi mungkin mereka kagok melihat ada banyak expat juga yang ngantrinya rapi. Dan tentunya dibantu ama petugas bandara yang lebih sigap. Nice one Juanda. Kata si Olivier, kalau di Swiss udah ada kejadian kayak begini, semua orang akan stress, panik, dan byuuur berkerumun di loket, marah-marah.Bengong lagi. Dalam hati aku, kamu nggak tahu aja orang Indonesia aslinya kayak gimana. Ini kebetulan, peristiwanya itu alam yang punya kendali, jadi manusia nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi, tetep aja aku bengong. Dia bilang lagi "you are very organized, nice. We usually get stressed when the situation turns out like this. You seem so calm, and handle everything nicely". Makin bengong. Aku kira selama ini orang Eropa itu tertib dan organized, ternyata nggak juga?, and if I may add, orang Amerika jauh lebih tertib kali ya? Soalnya aku jadi patuh sabar ngantri itu gara-gara di'training' waktu di Amerika dulu. Sepanjang apapun, selama apapun, mereka tertib ngantri. Pas aku ngomong begitu, pasangan orang Swiss itu setuju. Mereka juga nambahin kalau yang tertib ngantri juga itu orang UK. Well, itu sih nggak bikin bengong.
Anyway, akhirnya tiba giliran kita. Selama ngantri, aku juga ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang bernasib sama. Jadi, udah punya strategi. Alhasil, urusan kami nggak makan waktu lebih dari 10 menit. Si mbak-mbaknya ketak-ketik, ngeprint. Done. Untunnnggg masih ada 3 seats. Tinggal tunggu besoknya, apa kami bertiga akan sampai di Makassar apa nggak?
Setelah semua beres, Olivier ngomong... "Thank you, because we are on this together, everything went well" "Thank you, same here..." I replied :)
Asli, kehadiran mereka emang bikin situasi lebih fun. Kami bisa bareng-bareng brainstorming, nggak neko-neko, dibantu petugas Garuda yang nggak neko-neko juga. Fiuh. Done! Waktunya leha-leha dan akhirnya bisa curi waktu untuk nikmatin 'luxurious living' di Surabaya lagi hehe.
Karena dadakan, aku terpaksa dikunci di rumah si teman hahaha. Dia masih keluar, cecenya juga ada janji. Jadi, aku sukses istirahat tanpa diganggu. Besoknya, dibawa ke Tunjungan Plaza dan ketemu Big Salenya Zara. Nggak lupa ditraktir Sushi tei sama cece wulan. yeyeyeyyeye..
Ternyata bukan cuma aku yang bernasib begitu, hampir semua crew vistarian lain yang mau mudik juga kena. Kita saling ngupdate di What's app. Making it more meaningful somehow. Soalnya, berasa 'we got this together, and we get trough this together.' Peristiwanya nggak fatal sih, tapi lumayan dredek istilah orang Surabaya. In short, aku bersyukur bisa ketemu orang-orang yang secara nggak sengaja jadi membantu.

Keesokan harinya, aku gambling ke airport. Pokoknya kalau masih aja ditutup, ya udah tiketnya direfund, aku jadi anak surabaya selama sepekan kedepan.
Ketika check in, masih di waiting list? Bener? Nggak salah? Untung ngomongin kalau kemaren itu nggak dibilang kita di waiting list, toh ini gara-gara Juanda ditutup kok. So, akhirnya check in smoothly, masuk ruang tunggu ketemu Olivier dan Irina, dan akhirnyaaaa terbaaaaaaaaaang. Sumpah, hati aku belum tenang sampai pesawat itu mendarat di Hasanuddin Makassar. Finally pukul 21.00 WITA, aku, Olivier, dan Irina tiba di Hasanuddin dengan selamaaaaaatttt, amaaaan, sentosaaaaaa *joget-joget.
Sampai di rumah disambut mesra sama anjing-anjing cakep; Gassing dan Echong tentunya. Bisa hang out dengan teman-teman, makan makanan enak, tidur sampe siang, main piano sampai hati puas, ketemu mambo, daaaaan akhirnya liburan selesai.

Tapi, tenang... cerita belum berakhir sebelum ditutup dengan BANG.

Ada cerita keberangkatan, ada cerita kepulangan.
Tedeng deng deng, salah ingat tanggal. Chendani Vianey Budhi ini harusnya berangkat itu tanggal 21 Juli, bukan 22 Juli. Dasar tolol. Aku mengumpat-ngumpat diri sendiri. Pasalnya, aku udah tiba dengan cantik di airpot saat itu hahaha. I am forever grateful punya papo yang nggak panikan, jadi dengan cool head but beating heart, aku ngurus tiket. Hats off for Garuda, tiketku nggak hangus dan bisa diupgrade! Tambahnya lumayan sih, tapi naik business class karena seat yang tersisa cuma business class (OMG). Namun, setelah dibandingin sama maskapai yang bukan Garuda dan bukan business class, harganya kurang lebih nggak jauh beda,  jadi oke lah. So.... drum roll... Chendani Vianey Budhi pulang ke Surabaya - Malang naik business classnya Garuda... #eaaaaaaaaa. Emang beda ya kalau naik business class. Ngantri di counter khusus, mau ngambil bagasi bisa tunggu di lounge, bagasi turun pertama. That's what we call first class isn't it?Tiket kemaren aku beli dapat tiket promo, jadi kalau diakumulasiin, nggak rugi-rugi amat. Sooooooo.... aku merasa beruntung tapi tetap merasa tolol. hahahahaha
Dan lengkaplah sudah pengalaman pulang pas liburan lebaran kemaren. Tanggal 21 itu ada untungnya aku masih di Makassar, jadi bisa ketemu adek-adek group PAKAR (papa Kami Arsitek, para sepupu yang papanya arsitek semua). Karaokean sampe hati pun ikut sumringah. Senang. Bahagia.
Memang ada harga yang harus dibayar ya untuk sebuah kebahagiaan. Oh well... apapun itu, I am still grateful. Thank God. Ceritanya nggak pernah biasa, heran deh. Tapi, that's the fun part. Nggak bosenin.

Tiap tempat memang selalluuuu punya cerita.

Pelajaran kali ini:
1. Garuda is the best
2. Kalau beli tiket promo dari jauh-jauh hari, jangan lupa doa rosario biar perjalanannya lebih lancar
3. Lihat tanggal keberangkatan sehari sebelum keberangkatan
4. always ready with plan B, biar nggak begitu kecewa dengan worst case.
5. Forever grateful...

Dan mari kita katakan AMEEEEEENNNN

Maaf baru menceritakannya sekarang, harap belum basi. Abis pulang liburan ada meeting ala-ala Misaeng di Malang, jadi harus tertunda sejenak.

Hope you enjoy reading it as much as I enjoy writing it and remembering it again...

#writingistherapeutic



CVB

Tuesday, May 19, 2015

Magical April (Wrap Up)


It's been 2 weeks since I have arrived from US. I think this time I just type it to wrap it up!
I will tell you what the trip has given to me.


So, you might have known that I flew by Korean air from SBY to DPS to ICN to ORD. Not bad actually because I had a minimum time of layover. I love the food in Korean Air because I do love Korean food and they served wines. However, I got a narrower seat, so that's the problem. I couldn't have a good sleep.
Green tea poridge

never tired of bibimbap

The famous Deep Dish Pizza
Anyway, as I said, I passed the immigration nicely and arrived at the hotel safely. By the help of a nice United Airline's stewardess, I found my way trough CTA (Tram) to the hotel from the airport. The hotel was nice, but I got a little misunderstanding which was solved in no problem. I got myself to meet with one of the students I sent to Chicago. Had a nice dinner with her, and I put myself into a deep sleep in no time. The next morning, I went to my appointment. A respected hospitality school in Chicago. I love hospitality school, they sure know the word 'hospitality' meaning. I had a good lunch and I enjoyed myself in a hot bath tub later on that day. The next day, I treated myself to have little shopping. Chicago was famous with Willis Tower, Millenium Park, Deep Dish Pizza, and MICHIGAN AVE. Well, it cannot beat Manhattan nor Rodeo Drive, but still it's a nice long road full of shopping craze. I always got back to hotel with soar feet.





hey chipotle
I reminisced the most in Chicago because I did have a lot of time by myself. I ate Panda Express while I was looking for Chipotle, of course I did eat Chipotle, I had a little me time at the Corner Bakery, regular trip to the Bean :D, and finally, I watched a musical. I claimed myself as a musical fan now. I crave for more.  I also had a priviledge to visit a city campus. It is just like Chicago. Old and New buildings.

 Who wants to reject the view of Lake Michigan and BUckingham Fountain while they are in library or study room? I wont. haha.
Michigan Lake and Buckingham Fountain

I actually went to the mass in Chicago. The church was located in the heart of downtown, in between the tall buildings. It was a flat church, there's no bell tower, it's definitely looked like a city church. Neat. I had a chance to do architectural tour as well. Got into the cruise and went trough the rivers to see the buildings,. It showed that Chicago is indeed a city with old and new side by side. You could find a building built in 1900s, next to a modern look glass tower. It was the first meeting with the group that I would be at the rest of the trip. In the end of the day, I fell in love with Chicago even more. Nope, I did not want to leave. I wanted to just stay.

However, I could not wait to see my dream place, D.C. DC was a traditional city. Not old, but traditional is more suitable. It has similar buildings across the streets, not too tall because buildings cannot be taller than the capitol state building. I love the museums and monuments though. My heart was for Lincoln Memorial Hall. I was ecstatic to see it from a far. I could not stop smiling, and oh Mr. Lincoln was so handsome sitting there. You could also see the monuments from a far. I could not believe myself that I finally was there. In DC, I had enough of sandwiches and cold salad, so me and 4 other people went to Chinatown and had some Asian food with decent rice. The university that I visited also gave me a traditional feeling. All the faculty buildings were looked like big mansions. It's a huge university. But, one thing that I didn't like about DC, its traffic. Yea baby. Traffic.

oh Dear handsome Mr. Lincoln, I heart your statue
Chinatown, DC


on Amtrak
Next, I enjoyed our ride on AMTRAK from DC to Philadelphia.We passed Baltimore, Maryland which I just figured that it was an industry city. In my mind, Philadelphia was a small city, and I am sorry to think like that. I surely underestimated Philly, and awed by it. It's a modern city even though it still has its 'old city'. Oh you could see many historic places in Philly. The first hospital, Benjamin Franklin's place, Liberty Bell, and the old flag of America. I just could not get enough. We only spent 2 days there, it was surely not enough. I went to UPenn though. An IV league school. Well, maybe I am biased, but I think UW and UofM are more beautiful. hahahaha. Maybe because it was so hugeeeee, and it's just like a city.
first hospital

a museum

UPenn - University city

My UofM

Coffman Hall, UofM
Last place, the place I heart the most, the place that I want to stay forever, was Vermont. Burlington, Vermont. It reminded me a lot like Duluth, MN. Small peaceful city, with lake Champlain and mountains around the city, I could just stay there forever. Okay, I sound too much. The thing is, Burlington is very peaceful, very pretty, very small. The downtown's size is like one factory outlet. You could find almost every big franchise like Panera Bread, M.A.C, Urban outfitters, and Starbucks. But, not as many as in other places. There's only one Mc Donald. haha. Burlington focused on their local products more. Thus, you could find cute little coffee shops or boutiques along the street. University of Vermont was taking my breath away. Who could dream to be studying with the view of mountains, but you just realized that you are actually in a city, not village. I mean, there's business going on, there's big companies, but yes, not as busy as other cities. Just, a perfect place to study. If you get a little bored, hop on the train and off to Boston or maybe Montreal, Canada? And, what made me more excited was Von Trapp Lodge. As a die hard fan of Sounds of Music, I was just crazy about eating lunch at the lodge. it was indeed a beautiful lodge. Oh I just loved it loved it.

church street

church street

Von Trapp Lodge

Lake Champlain

The view from UVM


SO!!?? The conclusion is? Do I like Chicago, DC, Philly, or Vermont? or Seattle? or Minneapolis?
hahahaha

The conclusion is, America has different places. Different states different stories. Different faces. Different things going on. It's not like Indonesia which is also has different tribes even languages, but every places has their own thing. I had traveled from West to East coast. This East Coast trip made me believe that there's so much more about America. It has its conservative people, modern look, traditional look, histories, and the list is on and on.
taken in 2013

Off to Wisconsin in 2013
LA and San Fransisco were my first cities that I visited in USA. I went trice to LA, but still not a big fan.I went there to visit my uncle and to let my parents had a little taste of Hollywood. I have visited Miami and disliked it, I guess Bali was way better. I have lived in Seattle, WA for 2 and a half years. I visited Portland for 2 days, also visited Wisconsin for a few hours drive. I stayed in Minneapolis for 1 and a half year, and called it my second home. My so-called hometown. Minneapolis was one of the two cities I called home. Makassar and Minneapolis - home. I still love Chicago! Never get tired to get back there. I could claim it as my favorite city in the world! DC was still adorable with its museums and monuments. Maybe I would go back there in 10 years? Philly was nice as well, but comparing Chicago and Philly, I already fell in love with Chicago. I might go back there again to explore more on its arts museum. But, Vermont oh Vermont. It is just a peace little town. People were nice, views were beautiful. I am basically not a big city girl, so to live there? I think I will not get bored. hahahaha Oh my!

Gas Work Park, Seattle, 2011

I could say this trip was an A satisfaction. I got a very good overviews with the schools I visited, met a lot of inspiring people, ate Eistein Bros bagel - Everything with strawberry cream cheese (My college favorite food), I enjoyed my 'me' time, I have made friends, met my old friends, and got to know more about America and myself. It is always true, that you could find yourself when you travel. I find a piece of me whenever I travel. This time, I found a 'fusion' in me. Well, I have been Westernised, even the American woman who helped us trough this trip said that I was the most American person that she has ever met (from South-East Asia). hahaha I took that as a compliment. Yes, I am different from many of my colleagues or friends in Indonesia. Now and then. But, I just knew that I have adapted well. Adapted in an individualist culture, and adjusted my self in collective culture. Not perfect, it was a rough start at the beginning for both places. My first time in America or when I was in Indonesia for good, but I have been doing well. This is very meaningful to me since I am at the point where I feel exhausted to adapt in a new environment again. Nonetheless, next month, in June, I will have to adapt some more. I will be moving again. Guess what. These are cities I have lived; Makssar, Seattle, Minneapolis/St. Paul, Makassar (again), Surabaya, and next...? Malang. hahahaha you see the sequence? I will be moving to Malang with everything new. New place, new coworkers, new environment, new position, and new rented room of course. Still in the same company and same area. Believe me, moving to a new place has never been easy even I have done it many times. But, I guess, I will do it alright because I have done it many times anyway :). Well... this trip personally has made my way to be prepared, to be aware of what I should do in this new environment again. Because new environment might require new strategy. 
Once upon a time in Chicago - SPring 2011

me and mambo in Hollywood, 2011

Wish me best of luck, and till we meet again America.

One other thing that this trip has given to me. It made me want to do a solo traveling. I guess many places in South-East Asia are waiting for me ;).

So, hopefully, soon I will be able to type my other adventure.

CVB













Dear mambo, your little girl has been doing quiet well she guesses. She is now going to a place where you love. Malang. Just because the weather is so you. Please always guide her just like you have always been doing. She might feel a little scared, a little tired, and a little worried, but you had made her become a survivor hadn't you? So, she should be fine, don't you think? Just like you had always said to her, "if something new comin tru, just close your eyes and 'cambok saja' (Just do it). Things will never get wrong unless you are stealing or not telling the truth" 
So I guess, I will just do it...

 your daughter