Thursday, March 22, 2012

Lirihan Pohon Kamboja

Hidupku kalau dipikir-pikir tidak begitu menyedihkan maupun menyenangkan. Memang lebih condong ke hal-hal yang menyedihkan kalau aku harus memilih. Aku lahir dan tumbuh dikelilingi batu nisan. Jangan tanya akar-akarku mendapatkan asupan nutrisinya dari mana. Yang pasti aku tumbuh sehat walafiat. Awalnya, tanah di samping-sampingku masih lapang dan ada beberapa sesama pohon kamboja saudara-saudara jauhku yang tumbuh bersamaku. Kami tidak segemuk peliharaan orang tetapi hidup tenang-tenang saja. Sampai saudaraku yang paling ujung ditebang. Kami menghalangi sepetak tanah untuk dijadikan tempat peristirahatan terakhir sebuah keluarga China kaya. Lebih parah lagi ketika aku melihat pohon yang paling cantik itu ditebang hanya karena dia menghalangi kuburan keluarga kaya yang akan dipasangkan atap. Ya penebangan kami termasuk membuahkan uang kepada yayasan atau apalah itu namanya. Tebangan ke 3,4, dan seterusnya membuatku kehilangan napsu hidup. Ya, aku hanyalah tumbuhan. Hanya sebuah pohon yang bunganya selalu dicap sebagai bunga kuburan. Hidupku hanya mencium kesedihan, mendengarkan tangisan dan teriakan orang-orang pilu. Belum lagi ketika matahari sudah beristirahat, dahan-dahanku menjadi tempat singgahan mereka yang belum berangkat.  Aku bukan kalejengking yang bisa menyusup ke tanah atau menusukkan bisa ketika bahaya datang, aku bukan anjing yang tinggal, makan, tidur di rumah berlantai marmer. Aku hanya pohon. Makhluk hidup yang mati. 
 Kira-kira sudah 10 tahun berlalu. Sekarang aku betul-betul dikelilingi batu-batu nisan mewah dengan segala kemegahannya. Tinggal tunggu waktu aku ditebang sebelum bungaku gugur. Ada desas-desus bahwa aku bisa saja ditebang karena akan dibangun pagar besi di sekeliling kuburan seorang kakek tua. Kuburannya tepat di depanku. Kuburan yang sepi namun terawat.
Hari ini ada beberapa orang yang datang membawa alat ukur. Seorang wanita dengan 2 pria. Mereka mulai membicarakan rencana-rencana mereka. Aku hanya menatap lesu dan sambil bergerak seadanya karena tiupan angin yang tidak kencang. Merasakan tiap sengatan matahari dan membiarkan daun-daunku berfotosintesis. Tiba-tiba, salah satu pucukku bergerak kencang. Kukira habislah riwayatku. Gergaji segera mengeranyam dan memotong habis badanku yang masih muda ini. Lama-kelamaan, aku merasakan bahwa dahan-dahanku masih utuh, daun-daunku masih mengerjakan tugasnya dengan sukses, memberi makanan kepada tubuhku dan melepaskan oksigen ke luar.
Kupasangkan telingaku dengan hati-hati.
*"Janganmi. Nda usah mi ditebang. Biarmi saja, kita pasang pagar lalu nanti kita pasang kawat duri saja di sekitar pagarnya mengelilingi pohonnya" wanita itu berkata.
"Ya... cocokmi itu. Eh kau rasa ada bau-bau wangi?" kata seorang pria tegap.
"Itumi, makanya janganmi tebang, biar kasih angkong bau-bau wangi sedikit" jawab wanita itu dengan santai sambil membersihkan sisi-sisi kubur.

satu bunga terjatuh dibawa angin, terletak manis di atas pasir-pasir sepi sebagai tanda terima kasih
Taken from tumblr.
 *Dialek Makassar



CVB

No comments:

Post a Comment