Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Tuesday, January 17, 2017

Januari - Semacam Lagu Galau dari Glenn Fredly

Nggak spesifik juga sih akan ngebahas soal lagu Glenn Fredly, atau kisah yang dihubung-hubungkan sama lagu Glenn Fredly, hanya saja kurang lebih bulan Januari adalah sebuah bulan yang penuh kegalauan.
Aku bukan orang yang percaya cosmic, atau tahayul, tapi tidak sepenuhnya merunut pada kitab suci juga. Aku menikmati hidup dengan berbagai dimensi. Aku jelaskan ini karena hanya ingin mengungkapkan perasaan di hati saja.

Selalunya, tiap tahun itu kurang lebih mempunyai big theme. Contohnya di tahun 2015, kejadian-kejadian yang terjadi semuanya seakan-akan adalah jawaban atas doa atau permohonan aku secara nggak langsung. Aku kepengen ke US, di bulan April aku diberi kesempatan. Aku sedang bertanya-tanya, tiba-tiba aku dikasih kesempatan untuk menyelesaikan pertanyaanku. Susah dipercaya, tapi memang begitu. Tahun 2016, uji kesabaran. Semuanya serba misterius, menggantung, dan pelan-pelan terselesaikan. Jadi, seperti apakah tahun 2017?

Bulan Januari menjadi bulan yang galau hanya gara-gara, aku sendiri belum bisa memutuskan tahun macam apa ini. Apa yang harus aku siapkan, ceritanya nanti seperti apa. Masih meraba-raba. Bulan Januari sebagai bulan awal, dan juga bisa kusebut sebagai bulan transisi. Bulan penuh observasi. Tentu saja, aku percaya bahwa hidup itu bukan pre-destined seutuhnya. Manusia bebas memilih, tapi... aku percaya bahwa aku nggak sepernuhnya bergerak sendiri. Hidup aku seperti dituntun. Ada sebuah benang merah yang bisa aku jadikan panutan sepanjang tahun ini. At least that was what happened 

Bulan Januari juga menurutku seperti satu fase setelah kita menekan tombol restart. Seperti ada babak baru yang dimulai. Kadang, rencana yang tersusun tahun lalu bisa berubah 180 derajat di tahun yang baru. Dan semua perubahan ini cukup terasa di awal bulan, ya di si bulan Januari ini. Seakan-akan tahun ini emang benar-benar di-restart. Akhirnya, kita butuh waktu beberapa saat untuk kembali bisa beradaptasi lagi. Ada banyak hal baru, adjustment lagi. Tahun baru semacam menerima paket baru. Tugas baru lagi untuk naik level, atau tugas yang sama karena levelnya belum selesai. Januari seakan-akan menjadi semacam penentu.



Aku menulis ini, hanya sebagai pengukuhan saja kalau semua akan baik-baik saja. Aku merasa beberapa tahun belakangan ini 'program'nya sama. Ada semacam - refresh - di awal tahun. Dan seberjalannya tahun, kita jadi bisa lebih tahu patternnya seperti apa. Mungkin... ini hanya terjadi sama aku saja.
Either way, I have been thinking if I still have 300 more days to conclude what kind of year 2017 is. I feel good about it; though, these gloomy and sunny days coming and going. At least, I am starting with small goals. Building up what I am aiming. Little by little. So chin up Chen :) soon is February,  nggak ada lagi lagu galau ...

harusnya...

haha...

Walaupun mungkin aku harus sedikit merubah rencanaku di tahun 2017 karena segala unexpected things yang terjadi tahun lalu, aku masih merasa positif, kalau tahun 2017 akan menjadi tahun yang menyenangkan lagi :).

Kunobatkan bulan Januari sebagai bulan yang mengajariku untuk bersabar... karena terlalu banyak hal yang cepat-cepat ingin kuketahui. Apakah aku jadi ke Belanda atau Penang tahun ini seperti yang kurencanakan sebelumnya? Apakah aku akan sukses tahun ini? Apakah 20 buku bisa terbaca tahun ini? Apakah aku akan bertemu teman baru? Apakah hubungan-hubungan dengan orang terdekatku akan lebih baik? Apakah akan ada anjing baru? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul secara voluntary, Tentu saja, aku masih punya 300 hari ke depan untuk bisa mennyelesaikan satu per satu. Ah Chen,... nikmati saja. Tidak usah terlalu terburu-buru. Nikmati segala perasaan; sakitnya, bahagianya. Tidak perlu terkaburkan dengan ketakutanmu sendiri. Begitulah caranya untuk menghadapi tahun baru.

#iknowiamrandom


Cheers

CVB

Sunday, January 17, 2016

17 Days

It is 17 days after new year and yet, it has started as an odd beginning I must say.
Too much of weird things happened, like today. I am confessing to you that I was too-determined to skip going church. My excuses were I got nausea, my body temperature is rising again, I felt sick (like want to vomit), and it was raining. I did not want to take car at the office nor do I want to take a walk to church. Not to mention, bomb and shooting in Jakarta a few days ago, and our beloved Prof. Snape's death at the very same date.
I must add, everything that set as resolutions was going against my self. I am having a hard time controlling my appetite, not to mention hitting the pool or do mat exercise like I did in 2015. Bank account is hitting low whereas I am planning on a big travelling plan in the end of the year. Everyhing seems require more effort.It is a new beginning indeed. Like I am at a new level now (because my resolution was a bit of continuity of 2015).
It's been 17 days in the new year, but I start to feel... I somehow need to be 'stronger'.
I know it is just SEVENTEEN days in 2016, and I sound slightly defeated. But, really... I feel so weird. January started a bit weird anyway.

oh well...
It is just day 17 Chen, 2016 still has a long way to go. 349 days are awaiting. And, I do know that miracle happens, magic exists, good things are available, and happiness is around. I just need to do extra work to stay on track.

Ready to rock and roll in 2016!!!!








CVB

Wednesday, September 16, 2015

The word - Sincere

It is a busy week indeed. School starts, students are sent, yet I feel uneasy.
Nervous to the max without a realistic reason.

Yesterday I especially was not feeling well. Had a long day, got a phone call in the middle of the night, felt a little bit being ignored by that particular student, just could not feel easy. It was just bad. Bad mood.
You know what? I was back with Misaeng. Please don't be bored to hear I repeat myself about Misaeng.
It is indeed a healing. I watched it again and again, and haven't got tired of it. The more I see it, the more I appreciate the show.
I could notice details, could make a possible causal, why this character be this or do that. Ah, it is just my therapy. How funny that I could still laugh, even though I knew what's going to happen. It became my way to enlighten my mood. Like eating a piece of chocolate. I could be immersed completely like I haven't watched it before.  Oh well, oh well...
Life is fair indeed... Just hours before leaving the office, I got another phone call from a parent. This one was a nice one indeed. She reminded me how great just doing pure consultation, just to be sincere.

Sincere...

Yes this word

Be sincere...
It is just the nicest thing, to give or to get. Anything that is given sincerely, or anything that we give sincerely always feel good. Since it is the purest, truest, most naive feeling that we have. I was not the one who send her son abroad even though she used our agency. I was just there to answer questions and concerns for I have been trough the same experience being an international student. Just that. She still said appreciation of what I have done which I thought, nothing much.
She just made me smile. Concluded my day at work with a sweet note. Thank you tante...

Onwards, I will try my best to just simply being sincere... including the night phone call from student asking trivia things haha... ooh well.. they were just as confused as I was before, so yeah.....



Sincerely...
CVB

Tuesday, June 2, 2015

That Last Day Again. That New Place Again

Part 1

That Last Day Again

May 28th 2015


Gosh, it's always hard to say goodbye even though I am not leaving the company. However, I am going to move to the other city. Ending my 1 year and 9 months and 10 days in East Surabaya office, I felt loved. Despite my rough time in the beginning, annoying colleagues, stressful moments, and other negativity, I learnt a lot and in the end, established a beautiful bond with these crazy peeps. There was a high turn-over, but for those who remained, we all agree that we are the crazy bunch who have survived.
I have this love-hate feeling towards Good Bye. It is a bittersweet feeling. You always feel loved when it comes to good bye. Yes, there might be people who relieved that they are going to separate with you. Yes, it is always hard to be parting with something that you are used to, you are comfortable with. Then, people will say, "if you want to move forward, you have to go out of your comfort zone." (long sigh)
So, here I am on my last day in the office. Got a little surprise from my crazy colleagues. They knew me too well. I was given a big Plush of ELMO, a towel, and last batch of Starbucks! I will not have a lot of chance of Starbucking in the new city. Good! I need expense-diet. That little surprise has brought tears to my eyes... I love these peeps! Our fun time in the office. Our stressful moments together.
Oh well!
People have been congratulating me and wishing me well. They also said that I must be excited. Excited? Low level yes. Not as much as in the past. Moving to a new place, will have to adjust again, adapt again, get to know around again. I have to step outside my comfort zone again.
At last, everybody is moving forward. There is no time to regret anything. I have to put aside my inner ego to just be under the blanket. Here is that time when I am at the start-point again. Gaah. It is actually not really comfortable, but I have this slight feeling that "everything is going to be alright"
For it is always going to be alright

:)

Till we meet again my Genk Koplak!
Going to miss our BS on skype, everybody's laughter, my kriwul manager, free pizzas and starbucks, and everything about it!

Love you full!!!!


Part 2

That New Place Again

June 2nd 2015


Sorry for getting a little cramp here, but I was so busy till I did not have time to post this up. Therefore, here is a short glimpse of my new place.

Malang is my 4th city to live. I have no idea how long it will last. How it will turn out out. But, surprisingly Malang reminds me of Minneapolis in some ways. One! it is cooler than Surabaya although it is not comparable to Minty Minneapolis' Winter, but it has its own cool weather since it is up in the mountain. Two! I have stayed here for about 4 days and I did more walking than other city I have lived in Indonesia. Just like in Minneapolis, I think I walked about 30-45 minutes to Newman Center every Sunday. Not to mention walking from Marcy Holmes to Downtown. Now it takes me 12-15 minutes to go grocery shopping, and I plan to walk to the church every Sunday and go back by Becak hahahaha. Malang is small, so it is useless to ride a cab. Too short, too much to pay. Three! I live in a rented room of a 20 rooms - house. Reminiscing, Centennial Hall. We have 2 communal kitchens, and people dont really care to each other and most of them are still students. Will see how it goes...It is also walking distance to office, my main reason why I picked this place. 

All in all, I want to tell you one last thing. There is a reason why I felt tired of moving, tired of adapting into a new place. I think it is because I forgot the excitement of 'new place'. New place usually goes with a new hope, new dream, and new life again. I forgot these. I was too immersed to the negativities, to the pressures, and all the bad things that might be happened. I forgot how to have a hope again. Haha. Oh well! New place new hope kinda theory was actually working for me. The fact that I lost nearly 13 kg when I was in Minneapolis can be taken as an example. I had tried so hard to lose weight in Indonesia or Seattle, but it finally worked in Minneapolis. I indeed moved to Minneapolis with a high determination. I think Minneapolis was the place that I excited moving to the most.
Last Sunday I went to the mass, then I started finding my grip again. Mass and church are always the most familiar thing I found in a new place. It reminded me to have a hope again. Just like starting a new habit in this new month (I started a new habit on 1st day of June btw). 
Moving to anew place can be made as when we enter a new year. It is with hope. 

Well! Let's do it right then!

:)
Oh I forgot to tell you. I heart all the houses around my place and office. It is so Dutch influence and pretty! 
Pictures are coming!!!

CVB

Sunday, February 8, 2015

Cerita malam - 'Kepada Hati'

Selamat malam hati,
apa kabarmu?
Merindukah atau menyepi sebab sepi?
Kau kira akan ramai lagi?
Ternyata tidak begitu?

Angin malam menyapu,
tanpa pesan apapun
Bahkan yang diharap tak berkunjung
Yang dilakukan hanya tunggu, menunggu, dan menunggu.
Sambil kembali berharap semu.
Kembali merindu...

Selamat malam hati...
tidurlah...
biarkan malam mengganti membuat melupa.
Walaupun, kau tahu betul, otak tak mengingat, tapi hati tak pernah tahu perihal lupa
Rasa tetap ada dan membekas.
Lalu... apa yang kau buat setelah tahu?

Diam 

CVB

Thursday, May 29, 2014

29 Mei 2014

Bolehkah aku mengulangnya lagi?
"Tidak ada yang kebetulan. Bahkan, setiap orang yang kita temui hari ini, setiap makanan yang kita makan, bahkan setiap cerita yang kita dengar hari ini bukan sebuah kebetulan"

Selamat hari Kenaikan Isa Almasih... :)
Rencana hari ini ternyata direstui sama Dia.
Bangun pagi walaupun agak berat meninggalkan kasur (mumpung hari libur), tapi toh akhirnya bangun dan dijemput Cath-cath untuk misa Kenaikan di Redemptor Mundi, sebuah paroki di daerah Surabaya Barat. Kesempatan ini lumayan menarik karena nge-kos di wilayah Timur, jadinya cuma bisa pergi ke Gereja-gereja sekitar sini saja. Kebetulan kita berdua (aku dan Cath-cath) lagi ngidam makan Brunch, so we appointed Libby brownies for our destination after mass. Mungkin motivasinya rada nge-blur akibat brunch itu, but anyway, Redemptor Mundi is one 'hot' church. At least in my opinion...
Begitu masuk gerbang, Gereja itu berdiri dengan kemegahan sendiri. Dia nggak berbentuk Gereja peninggalan Belanda, tapi, ketahuan kalau Gereja itu dibangun oleh tangan orang Indonesia. Atapnya sedikit meningatkan dengan rumah-rumah Joglo, walaupun tidak persis sama. Kita melewati pintu Barat, dan dari situ sudah terlihat altar dengan salibnya yang luar biasa besar. Yang bikin menarik adalah dinding yang melatarbelakangi salib corpus itu. Batu bata oranye dengan salib dari bahan kayu dengan ukuran raksasa. Dari pintu Utara atau pintu utama bahkan lebih "wah" lagi. Warna oranye batu batanya yang menyatakan bahwa Gereja ini "Indonesia banget." Agak terasa sedikit nuansa Bali di tanah Jawa.
Misa jam 10 itu misa Bahasa Inggris. Sekalian nostalgia sedikit.
Setelah besar begini baru sadar bahwa ada banyak hal yang bisa "menyentuh" saat menghadiri misa. Dari koor, arak-arakan pastor, atau homili. Hari ini, homilinya sedikit menyentil mengenai "fear"
Pasturnya benar dugaanku adalah seorang dari Filipina dengan aksennya yang super khas. Aku pribadi suka dengan aksen mereka :)
Beliau menceritakan tentang pengalamannya bertemu seorang wanita tua yang duduk di kursi roda pada saat penerbangannya ke Taiwan. Wanita tua tersebut bisa langsung menebak bahwa pastor ini berasal dari Filipina, dia langsung diajak ngobrol dalam bahasa tagalog. Kelihatannya, wanita tua ini butuh teman untuk ngobrol, tetapi si pastor terpaksa meninggalkan wanita tua itu karena dia "takut", dia "khawatir" nanti dia ketinggalan pesawat. Padahal, pesawatnya baru 8 jam lagi. Dia takut karena dia di tanah asing, dan ini penerbangan internasional, dan dia belum pernah berada di Taiwan airport, jadinya dia butuh secure diri dengan cara tanya ke informasi. Sayangnya, ketika dia meninggalkan wanita itu untuk bertanya di informasi, dia tidak bisa kembali ke wanita itu setelahnya. Karena, dia sudah cek in. Kejadian itu meninggalkan penyesalan. Dia menyesal lebih ikuti ketakutannya, padahal dia bisa saja menemani wanita tua itu ngobrol, karena dia mengerti bahwa orang tua yang sudah tidak bekerja biasanya senang mengobrol. Lalu, si pastor mengerti bahwa tidak ada yang kebetulan. Dia ditakdirkan untuk bertemu dengan wanita itu untuk menyadari bahwa kekhawatiran itu tidak akan membawanya ke mana.
Cukup berkesan untuk misa pertama di Redemptor Mundi.

Lebih berkesannya lagi ketika makan di Libby Brownies seperti yang sudah direncanakan. Makanannya mendapatkan "Oke", not that great, but not that bad. Eventually, I enjoyed my time more because of the companion. :)
Hari ini, aku kenalan dengan satu orang baru, dan mendengar ceritanya.
Bukan sebuah kebetulan kalau yang aku temui itu orang perhotelan.
Bukan sebuah kebetulan kalau dia cerita soal pengalamannya yang luar biasa dengan kerja hampir 2 tahun di salah satu hotel di Bali.
Bukan sebuah kebetulan kalau konsep kerjanya di hotel dulu itu "bekerja dengan hati"
Bukan sebuah kebetulan kalau GM di hotelnya dulu itu lulusan Swiss
Bukan sebuah kebetulan kalau dia cerita dia marah-marah ketika dia kerja di Surabaya yang notabene manajemennya nggak serapih di Bali.
Bukan sebuah kebetulan kalau aku merasa... ceritanya dia jadi pelajaran buat aku.
Bukan sebuah kebetulan kalau dia share soal bagaimana dia dididik sama atasannya yang dulu.

Sebelumnya, mari saya jelaskan sedikit...
Saya suka kerjaan saya yang sekarang, tapi performance saya bukan yang terbaik. Entah beruntung atau tidak, saya merasa saya tidak mendapatkan teguran keras dari orang-orang, namun...kesadaran saya sendiri yang sepertinya menjadi cambuk buat saya.

Dengar cerita si teman tadi, aku merasa seperti dapat cambukan baru yang melecut pedas tapi membuatku siap lari seperti kuda yang habis dilecut.
Pernah sekali, si teman cerita kalau dia pernah kena tegur keras dari GMnya mengenai performanya yang tidak memuaskan. si GM cuma bilang begini...
"I give you 4 days off. Jangan gunakan 4 hari itu untuk introspeksi. Yang kamu harus lakukan adalah ketika kamu libur dan tidak bekerja bertanya pada dirimu sendiri, apa kamu rindu sama segala sesuatu yang ada di hotel ini atau tidak. Kalau tidak, you can come here pack your things and go back home, itu berarti tempatmu bukan di sini. Tapi, kalau kamu rindu tentang segala sesuatu mengenai hotel ini, berarti cari your missing point. Apa yang membuat kamu jadi "hilang", cari dan temukan"
That is exactly what I have been doing these days. I have been trying to find the missing piece. I realized that I was not in the office even though I was there. Aku udah beberapa kali di-evaluasi dan entah beruntung atau tidak, para supervisor ku itu masih berbicara dengan halus. I should have said that I am lucky, maybe I am... but luck can stop in a minute, otherwise, I admit it and find the way out quickly. I hope it's not too late. It's been 8 months, and I might enjoy it too much; but, I haven't worked my butt off. Adaptation is enough. It's time to get real. Sudah berhari-hari ada sebuah kesadaran yang cukup menganggu, kalau saya belum serius. Belum punya goal. Masih meraba-raba, dan terlena. Ini tidak bisa jadi excuse. it's time to stay in focus while I have time. Karena beruntung atau tidak, saya masih belum dilepas.

Boleh kau katakan, ini sebuah pengakuan. Dan memang ini adalah sebuah pengakuan tentang apa yang sedang menari-nari di kepalaku sepanjang akhir bulan Mei ini. I am facing a challenge, but still looking at it without doing any extra effort to solve it.

My good good friend once said to me when we graduated from college, that we actually entered the university of life. Kita akan terus belajar. Bahkan, ini tingkat yang lebih advance daripada sebelumnya. Dia benar. Working life is actually not a monotone one if we are moving to its dynamic. Beradaptasi di semua challenge. I know quiet well that I am not educated to be a quitter. Nevertheless, I usually took too much time to realize and make a move.
Tapi, apapun yang sudah terjadi bukan sebuah kebetulan.

Itu saja...

Thanks for today...
29 Mei 2014

CVB

Wednesday, December 4, 2013

Desember oh Desember

Cerita hari ke-4 bulan Desember membawa aku ke tahun 2011 di Minnesota, Dimana aku mengalami 2 kali kebajiran. Ya, teman di Minnesota, kebanjiran pun bisa terjadi, apalagi di Surabaya :D hahaha
Stories here: Mellow Minneapolis & Banjir Lagi
Nah, semalam tanggal 4 Desember, Surabaya diguyur hujan keras kurang lebih selama 1 1/2 jam. Beberapa menit pertama, bumi seperti diguyur air hujan deras, seperti air yang dibuang melalui ember super gede! hahaha. Aku saat itu masih leyeh-leyeh di tempat tidur, menunggu untuk terlelap. Eh, begitu turun tempat tidur untuk ke kamar mandi, aku merasa kakiku menginjak air. Genangan air lebih tepatnya. Begitu sadar, ternyata kamar saya sudah dialiri air.
Bagaimana menurutmu reaksiku? hahaha

Yang aku lakukan, hanya berjalan jingkrat-jingkrat, air sudah setinggi mata kaki di luar kamar. Halaman belakang sudah seperti taman air haha, bahkan kamar mandi di luar, sudah seperti kolam anak-anak. Aku cuma membangunkan si mbok dan mulai mengambil kain apapun dan mulai mengeringkan kamarku. Airnya mengalir pelan-pelan merembes. Awalnya kasurku belum kena air, tapi lama kelamaan kena. Untungnya spring bed, jadi bukan kapuk. Kalau dari kapuk, aku mungkin sudah mengungsi ke sofa ditemani nyamuk2 lapar hahaha.

Kamu tahu, apa yang kurasakan saat itu?
"tidak ada"
Panik pun tidak, katakan aku aneh. Tapi, sekali lagi, aku cuma mengingat bahwa ada orang lain yang mengalami banjir yang lebih mengenaskan.
Aku hanya merasa syukur.Ini bagai paradoks, merasa syukur atas 'musibah'.
Merasa bersyukur. Tertawa-tiwi, malah aku mengenang pada saat aku kebanjiran di Minnesota. Saat itu, my lovely roomate lagi nggak ada di rumah, dua kali banjir, dua kali tidak ada di rumah. Alhasil, cuma aku yang menjadi saksi mata air merembes masuk tanpa diundang haha. Our landlord sampai ngasih kita banyak koin $1 untuk laundry, ada $30an hahaha. . 

Semalam, aku tertidur, dan paginya kasurku sudah basah semua di bagian bawahnya. Tidak bisa berharap kepada matahari hari-hari ini, jadi hal terakhir yang aku lakukan hanya mengangkatnya dan membiarkan air merembes keluar lagi dari kasur. Ditemani kipas angin pinjaman sang empunya kos, aku berharap kasurku bisa cepat kering. Dan tentu saja, semoga hujan tidak terlalu deras malam ini.

Paling pulang kantor, waktunya aku membersihkan kamarku dan mengatur ulang. Ya, ini bisa jadi karma karena aku jarang mengepel kamar (uups hihihihi).


CVB

Monday, December 2, 2013

Cerita awal Bulan Desember

Halo Desember, kamu ternyata mengawali bulan ini dengan hari yg campur aduk, mengetes intuisi.
Tanggal 1 Desember hari Minggu, pagi-pagi aku ke Gereja dengan semangat walaupun terlambat. Pasalnya temanku mengajakku ke sebuah paroki lain. Saya selalu semangat untuk mengeksplor sebanyak mungkin Gereja yang ada di Surabaya :) Dan pilihan saya tidak salah. Gereja itu unik berdiri di antara ruang kelas.
Umat bergelimang di tiap kelas. Kami mengikuti misa melalui layar televisi dengan zoom in zoom out seperti nonton live pidato. Hebatnya, tiap umat walaupun mengikuti misa melalui layar tv, kami tetap berdiri pada saat kami harus berdiri, menjawab setiap jawaban (ex: Tuhan Sertamu "dan sertamu juga"), bahkan memberi hormat ketika para misdinar ingin mendupai kami (perayaan masa adven).Padahal aroma wiruq hanya sebatas layar kaca. 
Bulan Desember itu diawali dengan perasaan unik oleh perayaan unik. Dan itu masih cerita pagi.
Cerita Siang berlanjut ketika dengan tidak sengaja aku mengikuti doa sel inti KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus), yang berarti dihadiri oleh para pelayan sel KTM, wakil pelayan sel, dan semua yg 'petinggi-petinggi'. Saya nyasar di situ karena ruwetnya cerita yg menyangkut soal mobil yg diparkir terhalang tak bisa keluar, waktu mepet, pindah mobil, dan akhirnya terseret ke pertemuan itu. Kapan lagi bisa mengikuti sel inti, padahal status masih dalam masa "probation" hahahaha
Lalu, cerita malam hari pertama bulan Desember menurutku adalah tindakan nekat ala Chendani.
Beberapa minggu lalu, tante Retty di Makassar mengatakan bahwa akan ada undangan pernikahan sepupu mama yg juga sudah almarhum di Surabaya. Saya diminta untuk hadir karena dia termasuk yg terdekat dengan mama. Saya awalnya agak malas, karena tidak ada yg menemani, dan saya tidak begitu kenal dengan mereka. Silsilahnya saja, saya tidak tahu hahahaa.
Tetapi, semakin dekat hari H, semakin kuat saya merasa bahwa saya harus hadir. Alasan pertama, karena kedua belah pihak yg awalnya bersaudara sudah meninggal. Almarhum papa dari penganten wanita adalah sepupu ibu saya yang juga seperti kalian tahu sudah menjadi almahumah. Tetapi, undangan itu dilayangkan kepada papa. Saya juga harus tahu diri, sekarang saya adalah wakil ibu saya mau tidak mau. Jadi, saya nekat pergi ke sana, berharap tidak mati gaya karena pergi sendirian. kalaupun tidak ada yang saya kenal, saya sudah berniat untuk makan sebanyak-banyaknya hehehehe.

Terus terang, saya ketika tiba, hati saya agak riuh. Tempat undangan masih kosong kecuali keluarga mempelai sudah ada, tapi parahanya tidak ada satupun yang saya ingat. Bahkan ibu pengantin perempuan pun saya tidak tahu. Mau perkenalkan diri, tapi tidak tahu pada siapa. Alhasil masuk WC. Sengaja berlama-lama.
Ketika sudah tenang, baru saya keluar dan menyalami keluarga penganten, sambil menebak-nebak apakah mereka mengenali saya atau tidak? Maklum, saya terkenal seperti ciplakan ibu saya. Baiklah, urusan salam menyalam terlewat sederhana tanpa cerita. Masuk ke cerita pencarian tempat duduk.
Dengan trend masa kini, Event organizer yang mengambil alih posisi pengaturan tempat duduk yang dulunya diisi oleh para anggota keluarga. Alhasil, terjadilah percakapan berikut.
EO 1: ........ (diam menunggu sambil memberikan senyum tercantik)
Saya:... (berdiam sejenak menunggu ditanya, tapi karena si EO 1 diam tersenyum), "saya dari keluarga perempuan"
EO1: kartu mejanya ce...(masih tersenyum manis)
Saya: (kagok), saya tidak dapat kartu meja, tp saya dari keluarga perempuan
EO 1 bertemu EO2
saya disambut EO 3
EO 3: Kartu meja ce
EO4: teman kuliah ya?
Saya: bukan, saya dari keluarga perempuan dari Makassar. Di kartu souvenir cuma ada nama ayah saya
EO2 membaca peta meja rumit dengan nomor-nomor
EO2: meja 42 saja ya...
Saya: manggut-manggut
Sesampainya di sana, saya duduk dengan 2 orang lain yg saya tidak kenal tp mereka jelas keluarga perempuan.
Saya menunggu dan menunggu...
Selang beberapa waktu, meja mulai diisi. Kursi di samping saya ditarik ke belakang. Begitu saya menoleh, betapa bahagianya saya, orang yang menarik kursi itu adalah orang yang saya kenal baik :)
(Adegan wajah saya, tersenyum sumringah. Adegan hati saya berteriak gegap gempita, seperti meloloskan bola salju yang menggumpal... hahaha) 
Kursi itu ditarik oleh istri sepupu mama saya yang lain. Mantu dari saudara perempuan kakek saya.saya cukup akrab dengan beliau, Angkim Nirma, angkim favorit saya dengan gaya yang keren (ppsst; dia orang Bugis asli).  :) Lega... dan akhirnya wajah-wajah familier semakin bermunculan. Ketemu dengan Ai Shennie (yang ternyata saudara dengan papa si pengantin perempuan), yang bertahun-tahun cuma kenal lewat cerita mama, dan baru ketemu muka ketika dia datang melayat mama Januari lalu. Dan betapa ajaibnya, saudara ai Shennie yang tidak pernah saya temui (atau seingat saya begitu) mengenali saya dan memperkenalkan saya ke anak-anaknya lengkap dengan informasi di mana saya bersekolah.
Luar biasa sekali jaringan keluarga ini. Entah memakai sinyal apa.
Hahaha.
Pesta pernikahan tersebut sangat mengingatkan saya akan mama. Pasalnya, sudah lama mama tidak bisa pergi ke pesta-pesta seperti itu sewaktu mama hidup, sayalah yang selalu menjadi matanya. Saya selalu meng-update dengan sms. Siapa yang datang, si angkim ini pake baju apa, atau makanannya apa-apa saja. Semua saya lapor secara terperinci dan mama selalu bilang, dia seperti sedang ada di pesta :')
Saya merasa sangat bersyukur bahwa saya pergi ke pesta itu. Merasa sperti "sudah ditakdirkan"
Saya ingat, ai Shennie memandang saya lama, dan berkata "jangan sampai karena mamamu sudah tidak ada kau tidak cari-cari kita lagi :)" saya menjawabnya dengan janji akan selalu keep in touch.
 Ah Bulan Desember, hari pertama saja, saya sudah mengalami kejadian-kejadian yang menurutku bukan kebetulan.
yang pasti, Bulan Desember saya awali dengan mengikuti intuisi, dan intuisi saya mengatakan mengenai "bulan yang baik"
Tahun yang baik...
ya... "semua akan baik-baik saja"

CVB

Saturday, October 26, 2013

The arts of "Ketidakpastian" - Kita

kespastian adalah salah satu hal yg ingin kita cari.  sebaliknya lawan kata kepastian, ketidak pastian adalah salah satu hal yg ingin kita hindari. 
Namun, kini aku bertemu denganmu dan lalu aku sadar bahwa segala sesuatu tentang kita adalah ketidakpastian. 
Satu yg pasti, kamu awalnya hanya hadir dlm bentuk pengandaian yg tak berwujud. Hanya sebuah konsep. Celetukan yg.entah datang dr mana. 
Satu yg pasti, kehadiranmu yg nyata di hadapanku saat itu adalah sebuah euphoria. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu ada. nyata. dalam bentuk padat. Hanya semalam aku mengandaikan kamu tanpa pernah bertemu denganmu. 
Satu yg pasti, aku menikmati segala sesuatu tentang kamu yg nyata. tatapanmu salah satunya. 
Satu yg pasi, aku menikmati percakapan yg kita lakukan hingga akhir td. 
Satu yg pasti, selepas peninggalanmu, aku kembali sadar akan ketidakpastian. 
Satu yg pasti, aku akan mengabadikan tatapanmu, senyumanmu, bunyi2an yg kau keluarkan saat berpikir, dan namamu. 
Karena "kita" adalah "ketidakpastian"


CVB
hujan pertama 
dan listrik pun padam 

Wednesday, July 17, 2013

#10000miles - third edition "Last MInute"

Last Minute

I believe in intuition...
For me, it is the easiest way to make a decision...
Logic can give u headache sometimes, sedangkan intuisi bisa bikin segala-galanya menjadi "mudah" :p

Aku jadi ingat dengan keputusan aku mengenai pulang-for-good di thaun 2011 membawa aku ke sebuah pemikiran bahwa intuisi memang tidak pernah berbohong. Mungkin mengelabui pada awalnya, namun pada akhirnya mau nggak mau kita setuju dengan intuisi itu.
Keputusan aku di tahun 2011 memberi aku kesempatan untuk bersama dengan mambo selama setahun... daaan... aku nggak menyesal sama sekali... :). It was started out pretty roughly - story here.
But it was not a regret at all - story here.

Nah,
I honestly cant tell you what I actually gained out of this semi-impulsive-journey. It didn't take me a long time to decide. It's absolutely not only for recharging and relaxing. Anyway, it's more miraculous in terms of meeting friends. I first told you in the second week about how I bumped into friends without any plan at all! Hahaha... 
Now, it's all about last Monday - my last day in Minneapolis.
I headed out in the afternoon. I was going to Keiko san for last lunch with her, and impulsively I stopped by at Newman Center which was a long the way. I hardly met Greg - my ex boss when I was a peer minister 3 years ago - on every Sunday for mass. Based on father Ivan's information, I urged my self to once again look for meeting him. Yes! He was there. I did not try hard to look for him, he was just standing there at the gathering space. LOL... it was only 5 minutes meeting, but it was a miracle number 1 for me. Very last minute, yet very special.


Then, I had a wonderful lunch with Keiko san and friends. She made a pasta with fresh organic pesto. Also, I was surprised how delicious sweet met savory - prosciutto and cantaloupe- was amazing my friend. We talked a lot about food culture LOL... There were Korean American Indian, Chinese Indonesian, and Japanese. All was about food... :)

In the evening, I headed out to campus to meet another friend in the last minute. Since, she was really busy during summer school. She's a Korean friend who was in psychology major. While I was walking, I found a familiar face on the road. LOL. It's Tony, an African gentleman who played jembe at Newman Center in the evening mass. How lucky I was. I was thinking about him during my visit in Minneapolis, but I always went to morning mass so it was quiet impossible to meet him. Oh miracle number 2!
5 minutes but again... it's a special encounter...

That very night, a dear dear friend of mine whose place I invaded for three weeks turned 21! HAPPY BIRTHDAY @cehaha.
That then be my last chance to meet all fellow Indonesians... :) Glad to meet them in the last minute..

My last weekend was also memorable. Saturday morning was quiet an exercise and adventure haha. I was out with Ern and her friends to Minehaha park and fall. Though, it's not my first time going there, it was my first time going down to see the fall upclose, and ride quart surrey hahaha. Remarkably tiring. FUN! haha


At night, I finally got to go to jazz bar. Well, it's not actually a jazz bar but there was a live jazz performance aaaand good cocktail as a companion. Gah! Best "malam minggu" ever! It was one of my want-to-do-list. It's well executed. Thank you bang Weha and Ceha..


My Last Sunday was also amazing! Started out with a breakfast date with Katie my super CA. How funny that her boyfriend said that we two were so alike. She is American Chen version and I am Indonesian Katie version LOL Yep, we had so much in common regardless our appearance difference LOL
Then, at the mass, at St. Lawrence Newman Center, I found it was a super good last mass when I was sitting with all my good friends in one bench hahaha. Katie became one of 'Indonesian'(s) hahaha... The mass was led by Father Bob whom I knew since I first came to Minneapolis 3 years ago.
It's a great last mass!
Lunch was loud and delicious. We were eating at Old Spaghetti Factory. I did not know how it happened, but we giggled all the time until stomach was about to explode by good food and good laugh.
Dinner was the best. I had the best meal ever hahaha. I was so excited about Kimchi pizza and it's soooo gooood... :)
Kimchi Pizza

The Forager - mushrooomssss

Korean BBQ Pizza


Ah I had a wonderful time... but thinking about airport, airplane, baggage, and flying back home made me nervous. Remember how sucks United regarding baggage checked in? I was so ready to pay my second baggage - $100 :(
I kept praying to get a last minute miracle...
AND
yes... it happened :)
MIRACLE NUMBER 3...
I still needed to pay my baggage but only $60. I knew it's not so much different. But hey! I still got $40 to spend in Singapore and Hongkong hahaha. I could get starbucks, nylon magazine, and took a shower in Singapore... God is good...

In the end, this journey is ended with a smile...
I smile because I had so many good good friends...
I smile because they all care about me...
I smile because there are these people who exceptionally accepting who I am...
I know I am not a perfect friend... for some people, they found me annoying and immature, but I still smile... because I cannot lie that these wonderful things (including those whom I hurt) strengthen me...
I know I don't have my mother to share laugh with anymore, but she's still there... I feel the exact same love that she would give to me trough these friends... :)
I am sorry that everytime I write a blog, it's always being related to my mom. hehehe
She was my good example of how treat people. She is an expert in hospitality. She does not hesitate to ask people for help and she has no hesitation to give more... more... and more...

Thanks mambo to teach me to smile to everyone...

Thank you EVErYONE!! Thanks Minneapolis..
and yes...


Till we meet again...




PS: More pictures are on instagram- sivibi
Can I tell you that I can't wait to meet them ??? My summer is not ended yeeet !
More smile to come...
mej dutch folks ;)


Current time: 6.21 AM and I need to board at 6.45 AM - a last minute post :P

CVB

Sunday, May 26, 2013

Amayzing May

Finally in 2013, I could say that this month I am feeling ALIVE!!! hahaha...

Hm... started out with back to the pool again! Yeah baby, swim regularly is back on schedule. Almost everyday excluding Wednesday and Saturday, me and papo and retty will go swimming. Not losing any weight yet, but at least feeling a bit freshened. However, there are some issues of swimming in Makassar.
1. All the swimming pool is outdoor so if you dont want to get too tanned, you must have to wait until nighttime - my swimming time is around 6.30 - 7 PM
2. The other thing about swimming pool is most of people who go there are not swimming. They are in the pool for hanging out. If you are unlucky, you get into a hotel swimming pool and think about doing 15 laps at least, you end up going home after 2 or 3 laps. Why? Because you have to swim zig zag, or you just bump into everybody. In another case, you are making the other peeps jealous since you are doing 5 laps non stop and they are only doing one-go and stop. Sometimes, they are dealing with phone (with the water proof casing of course) in the pool. OH MY!!! hahahahahahaha
Anyway, swimming helps me a lot!

Second thing about Amayzing May is - I watched a very cool drama that keeps me giggle everytime I watched it. Called What's Up - I've made a post in my MABOG (Majalah Blog, all about reviews). Watching each episode feels like watching a movie. Each episode was made with a handful of care. I even made a note of which episode that I really liked the most, which scene, and so on. I ended up making a journal about it hahahaha. I have never been hooked by a drama this much. Before I went to sleep, I would see a scene or in the end, I just wanted to re-watch it again.

Also, I found a book that answer my questions about country with a name - Stan,. Stan, Stan. Turkmenistan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan. Agustinus Wibowo's book - Garis Batas. It reminds me of my Anthropology's textbook or Asian-American History textbook. Full of Anthropological points hahaha and history of East Asia, a foreign land for most of us. I did not know how they look until I encountered a friend of Kazakhstan and a cute waiter from Kyrgyzstan in 2008. Since then, I always wanted to know more about those Stan Stan countries. Don't worry, I will write about it in MABOG as soon as I finish reading about it. I personally wish, it can be published in English, should have told Agustinus Wibowo to work with John McGlynn in Lontar Foundation

Third thing, I GOT MY SUPER (Belated) Birthday Present! It's SOEGIJA's DVD with a signature of Garin Nugroho, the director. Gosh kudos to Stella Pacis!!! hahahahahahaha




However, this month, my mood is still out of control. There were two days that I felt miserable again! I cried out of blue. I was suffocated till my heart wanted to explode. And I cried, alone! My father was out at that time. At night, I cried loudly without knowing the reason. and Today, I am feeling lazy. Lazy meeting people. So here I am writing a post.

Regardless those unfortunate feeling, I am still saying that May is AMAYZING ;) You dont know that nowadays, feeling extremely free of worried, or exciting are really rare for me? So 20 days of excitement minus 2 days of mellow-ing, I am still saying that that's an achievement. And Can't WAIT FOR JUNE!
Why?!
Numero Uno... I will not be a teacher anymore. I will have my getaway to pull myself and ready for a new adventure out of Makassar. (deep breath).
3 weeks for calming my self. Watching drama, movie, variety show. Writing blog, my Alex,Alex, dan Alex, writing articles, travel notes. Reading English books, improving my English. Embrace my past and at the same time....    my future. Thinking of it, make me realize that 2013 is really fast. 2012 did not let me to have a dream. early 2013 was too hard for me, and in this month of May (after 100th day of my mom) I start thinking about this again - dreams... goals...

When I decided to go home for good in 2011, I knew that I could be stuck. In 2012, I just realized that I did not have any goals; thus, I was nearly stuck - lazy. monotone. Therefore, goals are needed to keep me moving. Dont you think?

Kim Byun Gun ever said (one of the characters in What's Up, played by Jo Jung Seok), a dream is becoming real when you are not sitting down and daydreaming about it. Yes indeed.
So this is what I want to do.
1. August 2013; finish Alex, Alex, and Alex
2. September 2013; start working at ..... 
3. December 2013: upgrade my phone
4. March 2014; JAVA JAZZ FESTIVAL
5. October/November 2014; Korea trip!

Pray for me as I can reach those goals :) aaah just thinking about it, I can smile... that's the power of 'dream'
 



My father had put a lot of care in doing this. The only one in the world I may say, a woman he loved is accompanied by a stone turtle. A sign of immortality, fortune, and loyalty...






CVB

Sunday, January 27, 2013

Perfection...

We all agree that nothing is perfect... Tetapi kesempurnaan itu ada...
It's a perfect time to write on a blog again...
It's a perfect thing to start 2013...
It's a perfect way to tell you... that my mom took her leave with a peaceful heart...

Jika saya pensil, maka mambo itu adalah serutannya...
Mambo telah mempersiapkan saya untuk hari itu selama kurang lebih 20 tahun. Ia berusaha mengikis semua sifat-sifat yang membuat saya menjadi lemah, ia mempertajam sifat-sifat dan bekal untuk menjadi seorang yang kuat... dan pada akhirnya ia merasa... cukup. Saya cukup dibekali... Perziarahannya di dunia juga sudah cukup... Ia sudah ke Amerika melihat saya berjalan memakai toga walaupun dengan keadaan sakit. Ia mempersiapkan kami berdua, papa dan saya, dengan amat sangat baik. Kepergian saya di Amerika, membuat papa dilatih untuk hidup tanpa saya, dan itu juga yang membuat saya bisa hidup mandiri... Ia ... adalah serutan yang baik..

It was her time....
Nothing I can say other than the quote I just wrote... "It was just her time"
It was a privilege to be with my mom for over one year... She had accomplished so much...
Mulai dari ketemu keponakan beserta cucu-cucu lucu dari Inggris, sepupunya papa yang sudah lama tidak ketemu, Maureen..., sahabat-sahabat, dan juga sudah sempat kalomping Pangsit Goreng 2 KG!!! sendiriaaaan! Tidak ada yang lebih hebat daripada itu semua..Dan ia sudah betul-betul tahu apa artinya Bersyukur....Ia yang mengajari orang untuk bersyukur.

Tanggal 24 Januari 2013, ia pergi dengan tenang ditemani oleh saya, papa, tante Lenny, dokter kepercayaannya, anak dokter yang juga ia dekat, Retty (orang kepercayaannya), dan juga Pastor Ronny, MSc. She had a very good departure. God had let her to prepare for her last departure. Di sela desahan napasnya, ia bergumam pelan... "panggil pastor...". dan kami melepas mambo satu jam setelah menerima Sakramen Perminyakan Suci. Dalam sakratul maut, mama melakukan rekonsilias dengan banyak orang. Ia memohon maaf kepada nama-nama yang telah ia sakiti secara sengaja maupun tidak sengaja. Beliau pergi dengan dihantar oleh nama "Yesus... Yesus... Yesus..." yang keluar dengan lemah dari mulutnya sendiri.
 Sudah genaplah perjuangan mambo untuk berperang dengan penyakitnya selama 20 tahun. Dan ia menangkan dengan menerima segala kekurangannya dan belajar untuk bersyukur... beryukur... bersyukur...
Bagi kami keluarga, mambo adalah pendekar wanita sejati.Kata Pastor Ronny dalam homilinya, ia berkata bahwa mama adalah pribadi yang terluka namun menyembuhkan. Memang itulah ajaibnya mama. Di tengah kelemahannya ia menguatkan orang lain, walaupun ia sendiri merasa lemah, namun aura yang ia pancarkan adalah aura keberanian dan semangat tinggi.
Ia juga dikenal sebagai wanita perfeksionis. Tidak boleh ada pigura yang bengkok, harus lurus simetris. Pakaian dari tumpukan paling atas sampai bawah, ukurannya sama. Jika ada yang 'salah' dari aturannya, ia bakal menjadi sangat sibuk, baik tangan dan mulutnya akan sibuk hahaha
 Itulah dia... wanita cerewet namun berhati lembut, wanita yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain, teman menggila, tante pemburu diskon, dan orang yang sangat bersemangat bercerita soal makanan.





Bon Voyage mambo... 
Selamat jalan tante Diskon...
We're going to miss you...
Good bye Mrs. Perfectionist...
Till we meet again...

PS. Proses kepergian mama dari mulai kematian hingga pemakaman adalah atas kehendak beliau. Kami semua (papa, dan keluarga) merasa bahwa apa yang kami lakukan dikontrol oleh satu sutradara. Semuanya terskenario. Mulai dari orang-orang yang hadir saat kepergian mama sampai cuaca pemakaman. Rintik-rintik, mendung, sejuk, tidak panas, padahal paginya sudah hujan keras... satu kata saja...
It was perfect...


 





CVB

Friday, December 21, 2012

Album 2012

Aku duduk di sini, menatap bulir-bulir air yang jatuh perlahan di kaca jendela. Tanganku menggenggam sebuah album berisikan coretan, gambar, cerita, air mata, dan tawa. Aku menggenggamnya erat-erat dan biarkan diriku melebur menjadi satu. Telingaku menutup dirinya sendiri, tak mendengar apa-apa. Hanya detak jantungku yang terdengar... deg...deg...deg..deg...
Aku membuka album itu...
Halaman pertama mengingatkanku pada betapa muramnya hidup. Ia tidak tertawa, ia tidak menangis, hanya expresi datar yang membuatku frustrasi. Hidup tidak berubah, namun ia menuntutku untuk berubah... Jawabanku pada saat itu adalah... "tidak" Aku belum ingin berubah. Aku rindu akan hidupku yang dulu, aku rindu mereka... walaupun kutahu juga, bahwa mengingat mereka sama saja membawa kecewa.
Berikutnya, cerita di album itu mengingatkanku pada arti 'bertahan' dan 'berjuang'
Pelan-pelan... luka yang ada di hatiku, aku obati... walaupun perih.
Pelan-pelan aku mulai menutup telingaku dan terus bekerja, walaupun banyak sekali 'suara sumbang' terdengar di luar sana, aku tertatih-tatih bertahan pada pendirian...
3 halaman berikutnya mengingatkanku bahwa 'aku tidak sendirian'. Ibuku juga berjuang. Kami semua berjuang...
dan berpuluh-puluh halaman berikutnya mengingatkanku bahwa semuanya membuahkan hasil...

Rumah pernuh dengan suara tawa ibu, anjing menggongong dan mengibaskan ekornya tanda gembira, suara denting piano yang ceria, bunyi gelas beradu dengan sendok saat membuat kopi, rumah ini hidup. Kami menertawakan penderitaan dan kebodohan, kami memilih untuk tertawa dan terus bergerak. 
Halaman demi halaman kembali mengingatkanku pada arti 'hadiah'.
Hidup ini adalah anugrah.
Pilihan dan keputusan adalah permainan yang memberikanku hadiah yang sesungguhnya, yaitu pengalaman hidup itu sendiri.
Sebuah pilihan membawa ke sebuah keputusan, dan akhirnya beruntai cerita... panjang berkelok. dan indah...

Terima Kasih 2012... 
 
January - meeting best friends since junior high on my left and right, and high school... ;) one of them is getting married next year!!!
April, got to celebrate my birthday with mambo and papo... and I got 7 birthday cakes in total! hahaha

Got to meet my cousins whom I haven't met for what... thousand years? hahaha (can be 7 or 8 years)

Got to see my grand uncle too in June. We haven';t met for 10 years

Could visit Monas UPCLOSE hahaha June, jakarta

Got to witness seeing my koko nickiku tied a knot... and yes we haven't met for 7 years

I could see Soegijaa!!!

and Perahu Kertas the movie


Experienced a great experience in Tumpang, Malang for camping Rohani. In July!
Got to see Dee and had all my Deelicious collections signed!!!!

THIS CLOSE!!!! In August!

Celebrating Oma's 90th birthday, and tante Elsye 50th birthday

Got a chance to be Year2B homeroom teacher!!!

and my mambo can go out and smile widelyyyy

In the end, got to be loved by Nadia... my British niece! hahaha first time meet, love in a first sightDecember 2012








CVB

Sunday, September 30, 2012

Aku Indonesia

John McGlynn

Televisi menyala sekenanya tanpa diperhatikan. Saya daritadi cuma lalu lalang tanpa tujuan. Tujuan utama saya sebenarnya menenggelamkan diri sendirian, mencatat, membaca, dan merenung. Saya tadinya cuma menyalin beberapa kutipan bagus dari sebuah novel - Unforgettable oleh Winna Efendi sambil sesekali keluar kamar karena dipanggil mama. Rencana saya masih terinterfensi sana-sini.
Setelah membulatkan tekad untuk duduk diam dan menikmati diri sendiri, tiba-tiba mataku tertumbuk pada acara televisi yang disiarkan oleh Metro TV.

Face to Face with Desy Anwar. Kali ini, tentang seorang expat yang rela mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan sastra Indonesia. Dia penerjemah sastra Indonesia. Seorang Kaukasian, bukan orang Asia. Orang berkulit putih dengan makanan pokok gandum bukan nasi. Orang yang sering menyerukan huruf 'R' dengan lucu dan tidak tegas. Seorang yang bernama John H. McGlynn. Seorang dari Wisconsin yang mengambil Indonesian Literature sebagai program Masternya di University of Michigan Ann Arbor.
Judul-judul buku yang sudah diterjemahkan - masih banyak lagi.
Saya seketika merasa perasaan berkecamuk antara terharu gara-gara ada seorang yang bukan orang Indonesia yang mau peduli soal HARTA negara ini. Tertusuk karena orang asing, Amerika pula yang seringkali masyarakat kita (sebagian - kelompok tertentu) hujat, dan ia juga yang mencoba menyelamatkan naskah-naskah kita dan ingin mempromosikan Bahasa Indonesia di kancah internasional. McGlynn mengatakan bahwa jika ingin mengenal sebuah negara, kita harus mempelajarinya melalui karya sastranya.

Dan ia benar. Saya mengetahui soal orang Inggris yang mendewakan teh dan rela menyisakan waktu mereka di Sore hari untuk meminum teh sambil mengemil kudapan dari serial Lima Sekawan oleh Enyd Blyton. Ayah saya mengenal budaya orang China dari buku-buku silat yang ia lahap sewaktu muda dulu. Saya mengetahui tentang PolPot dan pembantaiannya yang tidak masuk akal melalui Lucky Child by Loung Ung. Mempelajari budaya India melalui cerpen Jumpa Lahiri, dan masih banyak lagi. Buku adalah bukti. Buku adalah brankas penyimpanan harta yang paling aman. Karena... ia akan selalu di sana... apa yang sudah ditorehkan hitam putih, tercetak di sana... selamanya. Bahkan... kita mengetahui apa yang terjadi di masa lalu dan peradaban suatu bangsa dimulai dari karya sastranya.
McGlynn menyayangkan bahwa Literature atau sastra tidak dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Padahal, identitas sebuah bangsa ditemukan melalui sastra. Lihat saja negara-negara hebat seperti Korea Selatan, Jepang, China, negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Peradaban mereka tertata dan rasa nasionalisme mereka tinggi. Mereka adalah negara-negara yang memperjuangkan karya sastranya dan mencintai mereka. Saya ingat, anak host family saya di Seattle dulu harus membaca novel untuk PR mereka.
McGlynn juga menyatakan "Indonesia is the Fourth biggest country, but they are not learning from their own literature." Padahal, ia menambahkan, bahwa manuskrip dalam bahasa Melayu ditemukan pada abad ke-17. Jauh sebelum manuskrip di negara-negara Barat ada. Melayu adalah sebuah bahasa kuno. dan bahasa Indonesia adalah keturunannya. Tapi, sekarang... banyak teman seumuran saya yang tidak tahu banyak soal Bahasa Indonesia yang benar. Mereka hanya fasih berbahasa Indonesia sehari-hari. Kata 'mengigau' saja mereka tidak tahu. Jangankan teman seumuran saya, murid-murid saya banyak yang lebih tahu kata-kata dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Itu juga yang menjadi alasan bagi saya ingin cepat-cepat hengkang dari sekolah tersebut. Saya terkadang merasa bersalah mengajarkan bahasa lain kepada tunas baru negara ini. Untungnya, sebagai wali kelas saya juga mengajarkan bahasa Indonesia. Walaupun cuma dapat jatah sejam satu minggunya, saya bisa melihat antusias tinggi dari murid-murid saya, dan ini akan saya pertahankan...
Cukup sudah saya mengajarkan legenda Indonesia melalui bahasa asing. Mereka juga harus tahu bagaimana rasanya menikmati cerita rakyat melalui bahasa sendiri. Bahasa Indonesia. Banyak teman-teman saya di Amerika mengatakan bahwa bahasa Indonesia enak didengar, dan ingin saya berkata... bahwa bahasa Indonesia juga enak untuk dibaca.

Ketertarikan saya kepada bahasa Indonesia muncul sejak saya hobi membaca novel. Kira-kira SMP . Dan semakin menjadi ketika saya menemukan kesenangan dalam menulis. Setiap bahasa mempunyai keindahan tersendiri dan keunikannya yang distinctive. Lihat saja postingan ini, ada kata-kata yang lebih tepat jika menggunakan bahasa Inggris, namun... secara keseluruhan postingan yang berbahasa Indonesia ini tidak menyusahkan mata bukan? haha.
Pernah sekali, seorang muridku bertanya... "what people are you Miss?" saya ternganga sebentar. Saya menyadarkan diri bahwa ia hanya bocah berumur 6 tahun yang masih polos. Ia menyatakan dirinya sebagai Chinese people, memang lebih panjang jika mengatakan saya orang Indonesia berketurunan China, jadi kebanyakan dari kami hanya mengatakan "saya orang China." Padahal maksudnya adalah saya keturunan China. Sedih memang, jika isu SARA masih menghantui kami minoritas. Jadinya, ada perasaan membedakan "saya orang Indonesia asli" dan "saya orang Indonesia keturunan"
Hati saya semakin rikih ketika sadar bahwa sekarang sedang Trend utnuk memasukkan anak ke sekolah bertaraf Internasional. Ini seperti gerakan bunuh diri pelan-pelan. Nilai-nilai luhur Indonesia sudah banyak bergeser, ditambah lunturnya budaya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, makin gawatlah keadaan negara ini. Ujung-ujungnya, rasa nasionalisme berkurang drastis, dan akhirnya perpecahan.
Saya berharap, ketika saya mempunyai anak - bilanglah 6 atau 7 tahun ke depan, saya tidak perlu mengikuti arus trend  ini. Tidak ada yang lebih penting daripada membentuk identitas anak melalui kesadaran bahwa ia adalah orang Indonesia.
Apalagi, bahasa Indonesia itu bahasa yang sederhana. Bahasa Indonesia memang hanyalah sebuah bahasa serapan dari bahasa Arab, Belanda, Inggris, Sanskerta, China, dan masih banyak lagi. Namun, kita tidak perlu susah-susah menghafalkan rumus tenses. Cukup dengan membaca yang banyak, kita bisa fasih berbahasa Indonesia.
Terdengar sok nasionalis ya? hahaha
Ironis memang karena saya ini menimba ilmu di negara orang. Justru karena itulah saya makin merasa 'Indonesia'. Ternyata saya tidak sendiri, negara ini tercetus juga karena anak-anak yang sekolah di luar negeri. Sebut saja Mohammad Hatta dan sederet pejuang kemerdekaan. Mereka adalah anak-anak terpilih yang disekolahkan oleh pemerintah Belanda. Tujuan sebenarnya, pemerintah Belanda ingin memperkejakan orang lokal yang berpendidikan. Maka, pemerintah Kolonial mengirim beberapa orang terpilih dan...itu menjadi bumerang bagi pemerintah Belanda. Orang-orang ini dibuka wawasannya dan semakin merasa identitas mereka lain dari pemerintahan Belanda. Mereka harus mengukuhkan identitas  yang mereka sudah rasakan sejak Sumpah Pemuda - 20 tahun sebelum kemerdekaan. Maka, mereka dengan gigih mengompori rakyat yang lain untuk membentuk suatu negara kesatuan.
Kata McGlynn lagi... adalah suatu kesalahan jika kita menggantungkan semuanya kepada pemerintah. Maksudnya, pemerintah memang harus berkomitmen untuk mempertahankan budaya negeri ini, tetapi adalah bodoh jika semuanya tergantung pemerintah. Makanya, ia tetap berusaha untuk optimis bahwa ia bisa mempertahankan literatur Indonesia. Dia sudah mulai mengerjakan mimpinya sejak tahun 1987 ketika ia mendirikan Lontar Fondation bersama 4 sastrawan Indonesia lainnya. Lontar yang menerjemahkan banyak mansukrip Indonesia untuk diterbitkan di negara lain. Tetapi semuanya sia-sia jika bangsa Indonesia sendiri tidak mengenal karya sastranya.  Bayangkan! Penduduk Indonesia adalah 250 juta jiwa, penerbit biasanya hanya menerbitkan paling kurang 5000 kopi. Hmmm....
Maukah kau melihat negeri ini jatuh hancur, karena harkatnya rusak? Seperti buku-buku itu?


McGlynn tidak sendirian. Banyak penulis muda yang gigih mempertahankan bahasa Indonesia dalam karya-karyanya. Dee, Winna Efendi, Andrei Aksana, Andre Hirata, dan banyak lagi yang masih terus berkaya dan mempromosikan budaya Indonesia melalui karya-karyanya.

Negara akan kuat, jika bangsanya merasa memiliki negara ini. Bangsa akan merasa memiliki ketika ia menyadari identitasnya sebagai suatu bangsa. Dan identitasnya dikuatkan oleh Bahasanya. Harusnya kita bangga... Bahasa Melayu di Malaysia bukan lagi menjadi bahasa nasional mereka. Mengingat ada 3 bangsa besar yang mendomisili di sana, jadinya mereka lebih banyak berbahasa Inggris. Di Phillipina bahkan masih banyak yang tidak fasih berbahasa Tagalog. Mereka lebih fasih berbahasa bahasa daerahnya masing-masing. Kita di Indonesia... sampai ke pelosok pun masih tahu berbahasa Indonesia. Kita masih bisa berkomunikasi dengan orang yang di Sabang maupun di Merauke.


Mama selalu berkata... "saya senang kalau kau tinggal di Amerika. Indonesia sudah bobrok. Servis orang-orang tidak bagus, banyak korupsi" Saya cuma jawab... saya suka Indonesia. Om saya bilang, "Chen jago bahasa Inggris, kenapa nda tinggal di sana saja?" saya cuma balas... "saya suka tinggal di sini, saya suka bahasa Indonesia. suka sekaliii..." dan saya harap ada dari kalian yang setuju.Memang... sampah ada di mana-mana, saya pun mengeluh soal itu, belum lagi servisnya, cara mengemudi, sopan santun yang makin bergeser, tetapi... entah mengapa jika saya tidak menyebut Indonesia sebagai rumah, saya seperti membohongi diri saya sendiri. Saya menyeleweng dari identitas saya.
Jika saya meninggalkan Indonesia karena negara ini sudah bobrok, saya tidak beda dengan penjahat yang lari dari tanggung jawab. Walaupun tangan saya cuma dua dan saya hanya bisa bergerak pelan-pelan, tetapi saya yakin... pekerjaan sekecil apapun jika niat saya tegas, semua akan bisa membantu membangun negara ini lagi.

Saya mengerti bahwa negara ini terlalu banyak persoalannya. Kalau salah satu orang pemerintahan membaca postingan yang semacam ini, mereka hanya meliriknya sambil lalu dan mungkin bergumam "masalah kami yang lain masih banyak..." Ya... memang benar negara ini terlalu banyak masalahnya. Sampai tidak ada pikiran mau mulai dari mana. Paling tidak, kita harus mulai dari diri kita. Aku tahu ini terdengar super klise dan kita sudah bosan setengah mati untuk mendengarnya. Tetapi memang begitu...
Kita yang bisa memperbaikinya atau... menghancurkannya.

Mungkin masiha da sisa-sisa pertanyaan di kepala kalian... "apa gunanya sih sastra itu?" Saya pernah bertanya hal serupa kepada ayah saya. Ayah saya dengan simpel menjawab "seni memperhalus jiwamu... dengan banyak membaca, kita makin banyak tahu, bukan soal ilmu pengetahuan, atau informasi, tetapi bagaimana caranya menghadapi masalah, merasakan situasi, dan berpikiran kritis"
Sekarang setiap kali membaca novel Indonesia, saya merasa ada pelajaran sastra kental yang kadang-kadang menggelitik saya untuk menelaahnya lebih jauh. Tidak jarang, saya menyalin quote-quote bagus dan berpikir untuk membuat essay panjang mengenai sastra itu. Sastra membantu kita untuk berpikir kritis, dan berpikir out of the box - kreatif. Dan buku- buku kita juga menawarkan itu...


SAya ingat di akhir seminar Merry Riana, ia mengatakan "... yang terakhir saya bangga menjadi orang Indonesia. Walaupun saya tinggal di negara orang, saya tidak akan melupakan negara  saya, dan saya ingin memajukan negara saya. Indonesia!!! Pasti Bisa...!" dan seminar itu pun ditutup dengan lagu Indonesia Raya... yang ternyata... mampu membuat saya merinding dan menitihkan air mata...

Aku Indonesia...
 kalau bukan kita... siapa lagi...

it's always been you...
Refrain oleh Winna Efendi

Fun Facts:
ada beberapa Universitas di Amerika Serikat yang menawarkan bahas Indonesia sebagai salah satu mata kuliah..
South-east Asian Studies, University of Michigan
Northern Illinois University
University of Washington

Saya masih belum banyak baca bacaan-bacaan sastra negara ini, tetapi saya akan memulainya... sekarang...
Another great link 



CVB