Showing posts with label mixed. Show all posts
Showing posts with label mixed. Show all posts

Monday, August 10, 2015

Tiap Tempat Memang Selalu Punya Cerita - Makassar

Tiket sudah di tangan, bahkan boarding pass sudah masuk lewat sms, tinggal tunggu check in bagasi, lalu syuuuuut, terbang dan tiba di Makassar ketemu Gassing. Waktu itu baru pukul 10 pagi WIB. Berangkat dari Malang jam 7 pagi WIB, ready by 6 AM, as a result, I did not sleep at all. Mau tidur nggak bisa-bisa... akhirnya nonton Kpop Star sampai jam 4 subuh. Maybe because it was my first time to travel by plane from MALANG via Juanda airport, jadi agak lebih banyak hal yang dipikirin. Takut macet lah, takut travelnya nggak enaklah, dan seterusnya-seterusnya.
 It turned out to be not bad. Aku udah khawatir supirnya bakalan ngebut-ngebut, aku mabuk, mobil bau, dll. Nope. It was not at all. Mobil penuh barang sih, tapi masih sangat nyaman, dan mungkin karena aku nggak tidur semalaman, alhasil tidur nyenyak.
Pesawatku terjadwal untuk berangkat 13.45 WIB, itu artinya masih ada 3 jam sebelum berangkat. Sengaja aku milih berangkat paling pagi dari Malang; karena takut macet, musim liburan, daaan bisa nge-bucks lagi. Baru 2 bulan tinggal di Malang, but oh My God, begitu masuk Terminal 2 Juanda, berasa orang gunung masuk kota. hahahahaha. Apalagi di gerai Starbucks, percakapannya seperti berikut;
"ko, punya credit card ANZ nggak?" koko-koko dengan rambut dandy bertanya kepada papa-papa muda yang tidak kalah dandy sambil menggendong baby boy yang udah cas cis cus pake bahasa Inggris.
"Nggak ada, kalau pake BCA bisa mas?" si papa-papa dandy bertanya kepada si barista
"Kalau ada yang platinum ko..." jawab si barista kalem
"Oh ada... itu beli gratis semua? atau gimana?" papa-papa muda tadi bertanya lagi
"Satu kartu satu transaksi ko" jawab mas barista
"Pa, papa punya kartu platinum nggak?" si papa-papa muda bertanya kepada engkong pake baju kaos oblong dan celana pendek.
"Ada. Itu kartunya titi juga ada..." pandangannya menuju ke si koko-koko yang tampangnya nggak lebih dari umur anak SMA or freshman in college
#bengong

Sambil mikir, orang kaya punya kartu kredit bejibun dengan fasilitas "prioritas" tetap heboh dengan gratisan. hahahaha.
Ah Surabaya, dandanannya, logatnya, orang-orangnya kok jadi asing ya? Padahal baru 2 bulan ditinggalin. Di Malang, jajanan paling mahal cuma Calais tea saat ini, dengan harga 25000an, nggak ada promo kartu kredit kecuali promo 10 stamps 1 free drink, yang udah sukses aku dapatin dari pembelian Calais Tea di berbagai kota. Orang Malang kebanyakan mahasiswa, jadi nggak terlalu banyak lihat tas Michael Kors di mana-mana, adanya cuma tas-tas lokal yang nggak kalah cantik. Unik. Personal. Di Surabaya, dulu kalau ke Galaxy Mall, hampir semua cewek menjinjing tas yang sama entah asli apa KW paling bagus. Bukan menjelekkan loh ya. Just want to point out these differences. Intinya, aku resmi merasa seperti orang gunung.

Hahahah
Eittss... cerita belum berakhir.
Setelah happy ngendem di Starbucks dan makan Hoka-hoka Bento (FYI, hok ben ada kok di Malang hahaha), aku akhirnya masuk ke ruang tunggu. Waktu menunjukkan pukul 13.25 WIB. Agak harap-harap cemas, karena tadi waktu di Starbucks udah dengar banyak penerbangan delay dan cancel. Kebanyakan Singapura Surabaya. Semuanya gara-gara gunung Raung menyemburkan abu vulkanik lagi. Kejadiannya seminggu sebelum lebaran. Aku awalnya tidak begitu khawatir, toh nggak ada pemberitahuan resmi kalau Juanda ditutup, yang aku dengar Bali dan Lombok yang penerbangannya jadi kacau balau.

But, jeng jeng... 13.45 langsung diumumkan Juanda ditutup sampai pukul 20.00 dan semua penerbangan di cancel.

Sigh...
Again? That's the first question I had in my head.
14 Feb 2014, aku juga terjebak di Juanda gara-gara gunung Kelud. Kali ini gunung Raung. Itulah akibatnya tinggal di daerah yang mempunya ribuan gunung vulkanik. Oh well, surprisingly, aku lebih calm. Mungkin karena udah ada firasat sedikit. Aku kangeeeeeeeeen setengah mati dengan Gassing. Nggak biasanya. Kami disarankan untuk refund atau reschedule. Aku milih reschedule. Bener-bener pengen pulang aku, but as always I have plan B in my head, yaitu... jadi anak Surabaya lagi kalau nggak pulang. UNTUNG ada teman yang baik hati mau menampung pengungsi kesasar ini. Sebelum kita lanjut ke sana, let me tell you about my special encounter yang bikin hari itu berjalan jauh lebih tenang.
Waktu masuk ruang tunggu, I spotted pasangan bule di situ. Waktu diberitahukan oleh petugas bandara soal Juanda ditutup itu pakai bahasa Indonesia logat Jawa, jadinya si bule rasanya nggak gitu clear infonya. Si cewek menatap aku dengan pandangan meminta informasi lebih. I guessed, I had to tell her about the situation then. Si cowok pun datang bergabung dan mendengarkan informasi yang aku sampaikan dengan seksama. Dari aksennya ternyata mereka bukan dari Amerika, somehwere in Europe, sekilas seperti bahasa Belanda, but no.. it was not Dutch. Ternyata mereka mau ke Raja Ampat melalui Makassar. Jadi, kami sepakat untuk berbarengan reschedule. Nama mereka Olivier dan Irina. Pasangan dari Swiss. Untung perusahaan yang aku kerja sangat hopeng dengan Glion (one of the top hospitality schools in the world baby), jadinya bisa ngobrol ngibril sedikit tentang Swiss, sekolah2 hospitality di sana dll.
Antrian di gerai Garuda Indonesia belum terlalu panjang. Mungkin karena kami bergegas setelah dapat pengumuman. Tapi, tetap saja lumayan lama juga menunggu giliran. Setiap orang kira-kira menghabiskan waktu paling kurang 20 menit. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin ada sesi curhat dulu, marah-marah sedikit, baru mengambil keputusan. Kami bertiga sudah sepakat untuk mengambil waktu penerbangan malam karena menurut tinjauan Tuan Olivier, kalau malam sudah tenang, sudah aman, gunungnya sudah capek katanya kalau malam... hahahaha. Jadilah kita setujut untuk mengambil penerbangan jam 19.00 keesokan harinya. Kita juga sudah omongin kalau Juanda masih ditutup atau kalau Gunung Raungnya masih meraung, si suami istri orang Swiss itu akan ganti haluan ke kawah Ijen dan Bromo (masih aja gunung vulkanik), aku cuma memikirkan Galaxy Mal dan Tunjungan Plaza. Maklum butuh memaksimalkan kesempatan masuk kota.
Selama ngantri, kita jadi ngobrol macam-macam. Cas cis cus pake bahasa Inggris, agak menarik perhatian orang sekitar juga sih. Yang kita obrolin banyak hal. Aku jadi tahu kalau mereka terobsesi sama Indonesia! Sekali lagi OBSESI. Si cowok udah kelima kali ke Indonesia, dan mereka ambil cuti 3 bulan! Udah ke Kalimantan ketemu orang utan, dan emang udah rencanain untuk keliling pulau Jawa soon. Orang Eropa yang negara-negaranya nggak kalah eksotis itu jatuh cinta sama Indonesia. Percakapan kita jadi nyambung ke Toraja, Borobudur, dkk. Tiba-tiba dia nyeletuk kalau di Indonesia ngantrinya rapi ya, nggak kayak di Swiss. Bengong. Aku noleh ke belakang dan takjub sendiri melihat antrian panjaaaaaaaaaaaaaaang tapi rapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Nggak biasanya. Masih trauma dengan kejadian Feb kemaren, yang Juanda terminal 1 udah kayak terminal bus. Mungkin karena ini International airport, dan rata-rata adalah penumpang-penumpang Garuda. Bukan berarti merendahkan, tapi mungkin mereka kagok melihat ada banyak expat juga yang ngantrinya rapi. Dan tentunya dibantu ama petugas bandara yang lebih sigap. Nice one Juanda. Kata si Olivier, kalau di Swiss udah ada kejadian kayak begini, semua orang akan stress, panik, dan byuuur berkerumun di loket, marah-marah.Bengong lagi. Dalam hati aku, kamu nggak tahu aja orang Indonesia aslinya kayak gimana. Ini kebetulan, peristiwanya itu alam yang punya kendali, jadi manusia nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi, tetep aja aku bengong. Dia bilang lagi "you are very organized, nice. We usually get stressed when the situation turns out like this. You seem so calm, and handle everything nicely". Makin bengong. Aku kira selama ini orang Eropa itu tertib dan organized, ternyata nggak juga?, and if I may add, orang Amerika jauh lebih tertib kali ya? Soalnya aku jadi patuh sabar ngantri itu gara-gara di'training' waktu di Amerika dulu. Sepanjang apapun, selama apapun, mereka tertib ngantri. Pas aku ngomong begitu, pasangan orang Swiss itu setuju. Mereka juga nambahin kalau yang tertib ngantri juga itu orang UK. Well, itu sih nggak bikin bengong.
Anyway, akhirnya tiba giliran kita. Selama ngantri, aku juga ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang bernasib sama. Jadi, udah punya strategi. Alhasil, urusan kami nggak makan waktu lebih dari 10 menit. Si mbak-mbaknya ketak-ketik, ngeprint. Done. Untunnnggg masih ada 3 seats. Tinggal tunggu besoknya, apa kami bertiga akan sampai di Makassar apa nggak?
Setelah semua beres, Olivier ngomong... "Thank you, because we are on this together, everything went well" "Thank you, same here..." I replied :)
Asli, kehadiran mereka emang bikin situasi lebih fun. Kami bisa bareng-bareng brainstorming, nggak neko-neko, dibantu petugas Garuda yang nggak neko-neko juga. Fiuh. Done! Waktunya leha-leha dan akhirnya bisa curi waktu untuk nikmatin 'luxurious living' di Surabaya lagi hehe.
Karena dadakan, aku terpaksa dikunci di rumah si teman hahaha. Dia masih keluar, cecenya juga ada janji. Jadi, aku sukses istirahat tanpa diganggu. Besoknya, dibawa ke Tunjungan Plaza dan ketemu Big Salenya Zara. Nggak lupa ditraktir Sushi tei sama cece wulan. yeyeyeyyeye..
Ternyata bukan cuma aku yang bernasib begitu, hampir semua crew vistarian lain yang mau mudik juga kena. Kita saling ngupdate di What's app. Making it more meaningful somehow. Soalnya, berasa 'we got this together, and we get trough this together.' Peristiwanya nggak fatal sih, tapi lumayan dredek istilah orang Surabaya. In short, aku bersyukur bisa ketemu orang-orang yang secara nggak sengaja jadi membantu.

Keesokan harinya, aku gambling ke airport. Pokoknya kalau masih aja ditutup, ya udah tiketnya direfund, aku jadi anak surabaya selama sepekan kedepan.
Ketika check in, masih di waiting list? Bener? Nggak salah? Untung ngomongin kalau kemaren itu nggak dibilang kita di waiting list, toh ini gara-gara Juanda ditutup kok. So, akhirnya check in smoothly, masuk ruang tunggu ketemu Olivier dan Irina, dan akhirnyaaaa terbaaaaaaaaaang. Sumpah, hati aku belum tenang sampai pesawat itu mendarat di Hasanuddin Makassar. Finally pukul 21.00 WITA, aku, Olivier, dan Irina tiba di Hasanuddin dengan selamaaaaaatttt, amaaaan, sentosaaaaaa *joget-joget.
Sampai di rumah disambut mesra sama anjing-anjing cakep; Gassing dan Echong tentunya. Bisa hang out dengan teman-teman, makan makanan enak, tidur sampe siang, main piano sampai hati puas, ketemu mambo, daaaaan akhirnya liburan selesai.

Tapi, tenang... cerita belum berakhir sebelum ditutup dengan BANG.

Ada cerita keberangkatan, ada cerita kepulangan.
Tedeng deng deng, salah ingat tanggal. Chendani Vianey Budhi ini harusnya berangkat itu tanggal 21 Juli, bukan 22 Juli. Dasar tolol. Aku mengumpat-ngumpat diri sendiri. Pasalnya, aku udah tiba dengan cantik di airpot saat itu hahaha. I am forever grateful punya papo yang nggak panikan, jadi dengan cool head but beating heart, aku ngurus tiket. Hats off for Garuda, tiketku nggak hangus dan bisa diupgrade! Tambahnya lumayan sih, tapi naik business class karena seat yang tersisa cuma business class (OMG). Namun, setelah dibandingin sama maskapai yang bukan Garuda dan bukan business class, harganya kurang lebih nggak jauh beda,  jadi oke lah. So.... drum roll... Chendani Vianey Budhi pulang ke Surabaya - Malang naik business classnya Garuda... #eaaaaaaaaa. Emang beda ya kalau naik business class. Ngantri di counter khusus, mau ngambil bagasi bisa tunggu di lounge, bagasi turun pertama. That's what we call first class isn't it?Tiket kemaren aku beli dapat tiket promo, jadi kalau diakumulasiin, nggak rugi-rugi amat. Sooooooo.... aku merasa beruntung tapi tetap merasa tolol. hahahahaha
Dan lengkaplah sudah pengalaman pulang pas liburan lebaran kemaren. Tanggal 21 itu ada untungnya aku masih di Makassar, jadi bisa ketemu adek-adek group PAKAR (papa Kami Arsitek, para sepupu yang papanya arsitek semua). Karaokean sampe hati pun ikut sumringah. Senang. Bahagia.
Memang ada harga yang harus dibayar ya untuk sebuah kebahagiaan. Oh well... apapun itu, I am still grateful. Thank God. Ceritanya nggak pernah biasa, heran deh. Tapi, that's the fun part. Nggak bosenin.

Tiap tempat memang selalluuuu punya cerita.

Pelajaran kali ini:
1. Garuda is the best
2. Kalau beli tiket promo dari jauh-jauh hari, jangan lupa doa rosario biar perjalanannya lebih lancar
3. Lihat tanggal keberangkatan sehari sebelum keberangkatan
4. always ready with plan B, biar nggak begitu kecewa dengan worst case.
5. Forever grateful...

Dan mari kita katakan AMEEEEEENNNN

Maaf baru menceritakannya sekarang, harap belum basi. Abis pulang liburan ada meeting ala-ala Misaeng di Malang, jadi harus tertunda sejenak.

Hope you enjoy reading it as much as I enjoy writing it and remembering it again...

#writingistherapeutic



CVB

Thursday, May 29, 2014

29 Mei 2014

Bolehkah aku mengulangnya lagi?
"Tidak ada yang kebetulan. Bahkan, setiap orang yang kita temui hari ini, setiap makanan yang kita makan, bahkan setiap cerita yang kita dengar hari ini bukan sebuah kebetulan"

Selamat hari Kenaikan Isa Almasih... :)
Rencana hari ini ternyata direstui sama Dia.
Bangun pagi walaupun agak berat meninggalkan kasur (mumpung hari libur), tapi toh akhirnya bangun dan dijemput Cath-cath untuk misa Kenaikan di Redemptor Mundi, sebuah paroki di daerah Surabaya Barat. Kesempatan ini lumayan menarik karena nge-kos di wilayah Timur, jadinya cuma bisa pergi ke Gereja-gereja sekitar sini saja. Kebetulan kita berdua (aku dan Cath-cath) lagi ngidam makan Brunch, so we appointed Libby brownies for our destination after mass. Mungkin motivasinya rada nge-blur akibat brunch itu, but anyway, Redemptor Mundi is one 'hot' church. At least in my opinion...
Begitu masuk gerbang, Gereja itu berdiri dengan kemegahan sendiri. Dia nggak berbentuk Gereja peninggalan Belanda, tapi, ketahuan kalau Gereja itu dibangun oleh tangan orang Indonesia. Atapnya sedikit meningatkan dengan rumah-rumah Joglo, walaupun tidak persis sama. Kita melewati pintu Barat, dan dari situ sudah terlihat altar dengan salibnya yang luar biasa besar. Yang bikin menarik adalah dinding yang melatarbelakangi salib corpus itu. Batu bata oranye dengan salib dari bahan kayu dengan ukuran raksasa. Dari pintu Utara atau pintu utama bahkan lebih "wah" lagi. Warna oranye batu batanya yang menyatakan bahwa Gereja ini "Indonesia banget." Agak terasa sedikit nuansa Bali di tanah Jawa.
Misa jam 10 itu misa Bahasa Inggris. Sekalian nostalgia sedikit.
Setelah besar begini baru sadar bahwa ada banyak hal yang bisa "menyentuh" saat menghadiri misa. Dari koor, arak-arakan pastor, atau homili. Hari ini, homilinya sedikit menyentil mengenai "fear"
Pasturnya benar dugaanku adalah seorang dari Filipina dengan aksennya yang super khas. Aku pribadi suka dengan aksen mereka :)
Beliau menceritakan tentang pengalamannya bertemu seorang wanita tua yang duduk di kursi roda pada saat penerbangannya ke Taiwan. Wanita tua tersebut bisa langsung menebak bahwa pastor ini berasal dari Filipina, dia langsung diajak ngobrol dalam bahasa tagalog. Kelihatannya, wanita tua ini butuh teman untuk ngobrol, tetapi si pastor terpaksa meninggalkan wanita tua itu karena dia "takut", dia "khawatir" nanti dia ketinggalan pesawat. Padahal, pesawatnya baru 8 jam lagi. Dia takut karena dia di tanah asing, dan ini penerbangan internasional, dan dia belum pernah berada di Taiwan airport, jadinya dia butuh secure diri dengan cara tanya ke informasi. Sayangnya, ketika dia meninggalkan wanita itu untuk bertanya di informasi, dia tidak bisa kembali ke wanita itu setelahnya. Karena, dia sudah cek in. Kejadian itu meninggalkan penyesalan. Dia menyesal lebih ikuti ketakutannya, padahal dia bisa saja menemani wanita tua itu ngobrol, karena dia mengerti bahwa orang tua yang sudah tidak bekerja biasanya senang mengobrol. Lalu, si pastor mengerti bahwa tidak ada yang kebetulan. Dia ditakdirkan untuk bertemu dengan wanita itu untuk menyadari bahwa kekhawatiran itu tidak akan membawanya ke mana.
Cukup berkesan untuk misa pertama di Redemptor Mundi.

Lebih berkesannya lagi ketika makan di Libby Brownies seperti yang sudah direncanakan. Makanannya mendapatkan "Oke", not that great, but not that bad. Eventually, I enjoyed my time more because of the companion. :)
Hari ini, aku kenalan dengan satu orang baru, dan mendengar ceritanya.
Bukan sebuah kebetulan kalau yang aku temui itu orang perhotelan.
Bukan sebuah kebetulan kalau dia cerita soal pengalamannya yang luar biasa dengan kerja hampir 2 tahun di salah satu hotel di Bali.
Bukan sebuah kebetulan kalau konsep kerjanya di hotel dulu itu "bekerja dengan hati"
Bukan sebuah kebetulan kalau GM di hotelnya dulu itu lulusan Swiss
Bukan sebuah kebetulan kalau dia cerita dia marah-marah ketika dia kerja di Surabaya yang notabene manajemennya nggak serapih di Bali.
Bukan sebuah kebetulan kalau aku merasa... ceritanya dia jadi pelajaran buat aku.
Bukan sebuah kebetulan kalau dia share soal bagaimana dia dididik sama atasannya yang dulu.

Sebelumnya, mari saya jelaskan sedikit...
Saya suka kerjaan saya yang sekarang, tapi performance saya bukan yang terbaik. Entah beruntung atau tidak, saya merasa saya tidak mendapatkan teguran keras dari orang-orang, namun...kesadaran saya sendiri yang sepertinya menjadi cambuk buat saya.

Dengar cerita si teman tadi, aku merasa seperti dapat cambukan baru yang melecut pedas tapi membuatku siap lari seperti kuda yang habis dilecut.
Pernah sekali, si teman cerita kalau dia pernah kena tegur keras dari GMnya mengenai performanya yang tidak memuaskan. si GM cuma bilang begini...
"I give you 4 days off. Jangan gunakan 4 hari itu untuk introspeksi. Yang kamu harus lakukan adalah ketika kamu libur dan tidak bekerja bertanya pada dirimu sendiri, apa kamu rindu sama segala sesuatu yang ada di hotel ini atau tidak. Kalau tidak, you can come here pack your things and go back home, itu berarti tempatmu bukan di sini. Tapi, kalau kamu rindu tentang segala sesuatu mengenai hotel ini, berarti cari your missing point. Apa yang membuat kamu jadi "hilang", cari dan temukan"
That is exactly what I have been doing these days. I have been trying to find the missing piece. I realized that I was not in the office even though I was there. Aku udah beberapa kali di-evaluasi dan entah beruntung atau tidak, para supervisor ku itu masih berbicara dengan halus. I should have said that I am lucky, maybe I am... but luck can stop in a minute, otherwise, I admit it and find the way out quickly. I hope it's not too late. It's been 8 months, and I might enjoy it too much; but, I haven't worked my butt off. Adaptation is enough. It's time to get real. Sudah berhari-hari ada sebuah kesadaran yang cukup menganggu, kalau saya belum serius. Belum punya goal. Masih meraba-raba, dan terlena. Ini tidak bisa jadi excuse. it's time to stay in focus while I have time. Karena beruntung atau tidak, saya masih belum dilepas.

Boleh kau katakan, ini sebuah pengakuan. Dan memang ini adalah sebuah pengakuan tentang apa yang sedang menari-nari di kepalaku sepanjang akhir bulan Mei ini. I am facing a challenge, but still looking at it without doing any extra effort to solve it.

My good good friend once said to me when we graduated from college, that we actually entered the university of life. Kita akan terus belajar. Bahkan, ini tingkat yang lebih advance daripada sebelumnya. Dia benar. Working life is actually not a monotone one if we are moving to its dynamic. Beradaptasi di semua challenge. I know quiet well that I am not educated to be a quitter. Nevertheless, I usually took too much time to realize and make a move.
Tapi, apapun yang sudah terjadi bukan sebuah kebetulan.

Itu saja...

Thanks for today...
29 Mei 2014

CVB

Friday, June 8, 2012

Dreams (please) come true

New Moon New Light... when air is fresh so does one's mind...
Heart is purified with everything new...
New Calendar New Dew ...
Even the mosquito bites sound so crisp and never been so bothering...
Dream a little dream...

Muehe... pasti pada terheran-heran dengan opening dari postingan ini. Mungkin ada yang mikir "ini orang kenapa lagi?" hahahahaa
Engga tahu itu inspirasi dari mana and please... I don't even have a name for it hehehe... Yang pasti Bulan Juni terasa asyiiiik...
Me Life in 2012 is quiet funny...
Jan was started roughly,
February was pretty OKAY,
March was gloomy, and
April started to bloom... and then...

MAY was not really OKAY... Too many stuff to do... too many things happened in one time... mommy was not okay, my mind went wild, and I gained and lost weight interchangeably (mind my outrageous choice of words hehehe)

June oh June... I hope good things are coming trough... Let me drown myself into my gleaming dreams...where I am looking at Grotto in Portland, Seeing Seattle from Queen Ann, Eating Piroshky and other good stuff at Pike Place Market. Zipping a 16oz of Jamba Juice Very Berry at the Coffman Memorial Union, Eating roasted garlic ice cream at Sebastian Joe's, seeing Capital building at St. Paul, posing with Snoopy and friends at St. Paul park, attending mass at Newman Center. Or let me see myself on the streets of Seoul, eating street foods, shop till drop, blogging, and falling in love with everything about Dae Han Mingguk...
Let me still live in my dream where my fingers typing those words on my keyboard, and having sun shines trough the windows, let me do it with a companion of a hot chocolate at the side. Ah writing. I love the sound of keyboards when I typed. As much as I enjoyed putting my thoughts into words. Hopefully, I can get to do this more... more... and more... :)
I am still in my dream when I see slates, lighting, director chair, people running here and there, listening to some "action!" and "cut"... see my name on the credit as a script writer. And I see you... with little angels running around and throw themselves on my feet, hugging them like a sturdy teddy bear. ah dream a little dream... always gives sparks into life...

Now...
I only see my small fingers and my long trembling feet... alone they are so small... but strong enough to help me moving. reaching those dreams... yes indeed...
I believe that these might be coming true..
Long time a goooo when the song "So Young" and "Would you be happier" were booming, this 'once little girl' was hearing to a song titled "Haste to the Wedding" by the Corrs... she was dancing in her head on a huge stage. This might be around junior and high school years... 6 or 7 years ago... And then.. those pictures about this 'once little girl' sleeping in her head... and then... suddenly a friend of her asked her to dance for a big event in the history of Catholic Church in Makassar. Last June 2nd, our diocese celebrated 75th year of missions... I got three parts. Three of them were dancing. However, the last part, we were dancing to represent the modern days of the Church. and guess what! the song was "Haste to the Wedding" and it was a HUGE STAGE with 6000+++ pairs of eyes watching... lalalalalaaaa
It was a 2 minutes song, but I felt sooo thrilled! and excited! not nervous...  it was a beautiful beautiful moment!
only a subtle desire when I pictured me dancing in my head...
it turned out to be a reality. a fact.
a supported content to say.. "yes.. Dreams do come true"

this whole dreaming theme excites me even more. attracts me like a magnet poles. Both positive and negative... hahaha...

STOP thinking!
Just do it!
but.... do it with a purified heart... no such greed will help. only a true desire and passion with no such cruel intention will do...

Happy Dreaming...
 


CVB

These are the glimpse of the celebration...
The Birthday Cake!!! needs 6 people to bring this hahaha

6000+++


our sanctuary


Tuesday, March 27, 2012

Tema Bulan Maret

Nggak terasa bulan Maret sudah mau berakhir. Tinggal beberapa hari lagi, kalender akan diganti.

Maret, bulan ketiga dalam tahun Gregorian. dan juga nampaknya sebagai tanda Tuhan merestui keberadaan saya di Indonesia. Sudah 5 bulan saya berdomisili di tanah kelahiran, baru akhir-akhir ini saya benar-benar merasa diterima seutuhnya. Nggak usah lagi bicara soal 'hadiah-hadiah selamat datang' yang saya dapatkan di 3 bulan terakhir. Sudah cukup saya jabarkan di blog saya in. Lebih mending berkata-kata soal mengapa saya merasa sudah diterima...

5. My heart feels at ease, my mind thinks good things, my smile is always 'on' !!!!
^____________________________________________________________^
4. I have faced those critical moments. Awal kepulangan saya di Indonesia adalah masa-masa kritis. Persis seperti masa penyesuaian diri ketika baru pindah ke tempat baru. Mau adaptasi fisik, mental, hingga ketahanan jiwa dan raga.
3. It is official that I am trying to commit in a community. It's named Holy Trinity Community - Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM).
What made me declare that 'it is official' is simple. I am accepted, I am improved, and I am loved :)
2. Days are a lot busier!!! School stuff, community, RETREAT!!!, *Mambo's quality time, *Echong's quality time, *papo's quality time, (heheheheh) Not exactly! However, I just feel that 24 hours are nearly not enough for my activities. This is a good sign. I like being active! woohoooo!!
1. MY MOM IS ALIVE!!! she has been showing A LOT of IMPROVEMENTS lalalalalallalaaa
Kami sudah bisa menyanyiiii bersama, ketawa, dan lebih saling menerima :) She can have a very good night sleep!!!
(masuk lagu Oh Jakarta OST Arisan!2)

Just a few minutes ago, my dad said that "penyakitnya mama itu membawa berkat untuk kita semua. Gara-gara mama saya belajar tummo (semacam tenaga perana yang menyembuhkan - it works; selama ini saya jarang minum obat hehe), gara-gara mama saya masuk amway dan belajar mengkonsumsi suplemen, dan akhirnya tahu transfer factor. Kita belum sakit sudah tahu banyak barang baik gara-gara mama"

:)
Ah bulan Maret.
Awal musim semi.
taken from tumblr
 Waktunya bunga-bunga tersenyum sama seperti hati saya yang mulai tersenyum.
Terima kasih... :)
*mambo; me mom
Mambo can come down and join us whenever we have gathering!!! :)
*echong: me dog
*papo: me papa












Ah....

CVB

Saturday, December 24, 2011

Laki-Laki Sederhana

Santo Yosep, source Google
Selama ini sosok sederhana ini hanya kita kenal lewat cerita natal. Ia adalah tunangan Bunda Maria yang kemudian menjadi bapak dari Yesus. Itu saja tidak lebih. Setelah itu ceritanya terkubur di tengah kesibukan kita.
Beliau yang sederhana ini sebenarnya perlu diberikan ruang yang lebih besar, waktu yang lebih khusus, untuk mengenang segala jasanya dan juga meneladani imannya. Bayangkan saja, apa yang ada di pikirannya ketika tahu bahwa tunangannya sudah mengandung sebelum pernikahan. Kandung anaknya pun tidak. Namun, ia tetap menerima Bunda Maria. Menerima Yesus sebagai anaknya. Mendidiknya. Hingga kita mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu dari Nazaret.
Untuk hari yang berbahagia ini, sekiranya kita sejenak meluangkan waktu untuk mengucap doa syukur kepada Tuhan dan menghormati Santo Yosep sebagai ayah dari Yesus di dunia. Perwakilan Allah untuk merawat dan membesarkan Tuhan kita. Teladannya yang mengikuti amanat Tuhan juga perlu kita resapi.
Terima kasih Santo Yosep... :)

Nah... untuk kesempatan ini juga, saya ingin memberi ruang khusus untuk makhluk gila yang satu ini...
papo = papa pongoro (gila) hehehe
Saya nggak tahu kenapa laki-laki yang satu ini bisa jadi bapak saya, suami dari ibu saya. Saya juga nggak ngerti kok bisanya ibu saya mau dengan laki-laki ini. Padahal wujudnya dulu benar-benar menyedihkan  (hahaha peace papo)



yah bapak saya itu yang di gondrong di sebelah kanan


 Tapi oh tapi... tanpa kontribusi kegilaan, kreativitas, optimisme, kesabaran, dan kecerdasan, saya dan mama nggak mungkin bertahan seperti sekarang. Seperti yang mungkin sudah yang Anda-anda ketahui, ibu saya mengidap penyakit kronik selama 19 tahun sekarang.
Bapak saya ini hanya beranak 1, perempuan pula. Istrinya kena penyakit baru setelah 4 tahun mereka menikah. Namun, sampai sekarang, ayah paling ganteng (sekarang) ini rela nggak tidur untuk mijetin ibu saya ketika saya lagi bersekolah di negeri orang. Ayah yang gantengnya gila-gilaan (sekarang) ini selalu menghibur mama kalau lagi sakit. Ayah yang emang paling ganteng (sekarang) ini selalu menjadi penyejuk di tengah keluarga mungil kami...



Ia bukan saja hanya sebagai ayah tapi my Best Friend Forever. Kita bisa obrolin hal apa saja dari perang Mahabharata, Legenda Thio Samhong, Gereja Katolik, politik demokrasi, Soe Hok Gie, musik keroncong, dangdut, hantu-hantu, dewa Zeus, si A, si B, hipnosis, mantra, Harry Potter, intinya dia itu enslikopedi pribadi saya. Enslikopedi paling canggih yang juga mempunyai fungsi sebagai motivator terbaik. Sepertinya dari berjuta2 sel di dalam tubuhnya, sebagian besar didominasi oleh sel Positiv. Bapak saya ini saya nobatkan sebagai Bapak Optimis sedunia. Semua yang negatif bisa ia rubah menjadi positif. Kata-katanya, cara pandangnya, pemikirannya semuanya mengandung semangat optimis. Kadang saya sampai geleng-geleng. Soalnya saya punya juga contoh hidup yang hampir seluruh selnya didominasi sel Negatif (ibu saya). hahahaha Jadilah saya kadang terkekeh-kekeh mendengar percakapan mereka berdua. Langsung bagaikan dapat kuliah geratis seumur hidup. Langsung bisa lihat dua perspektif sekaligus.
Orang boleh berpendapat bapak saya ini orangnya kalem (ehm ehm...eng... beneran?) Memang, pembawaannya bener-bener tenang. Nyamuk pun nggak tahu kalau dia udah mati waktu ditepok sama ayahanda ini. Hanya saja, dia nggak kalem-kalem banget kok... makanya anaknya juga sedikit hyper kadang hehe...
His positive force gives me strength to fly high even though at the same time we are surrounded by negative forces. His deep voice calms my stormy day. His craziness keeps my sanity. His love opens my eyes and heart to see the world, the universe. His kindness is beyond the words... Papo nomor 1 di dunia.
Johannes Budhi, yang dari dulu hingga sekarang tetap menjadi papa paling ganteng....

Laki-laki sederhana ini hanya perlu sepiring gado-gado dan setusuk sate untuk membuat hari dan perutnya senang. Laki-laki sederhana ini hanya perlu tinju untuk menghiburnya. Laki-laki sederhana ini hanya perlu meditasi untuk membasuh jiwanya...


Dan aku dengan senang hati memberikan ruang untuknya di postingan ini. Begitu juga untuk Santo Yosep.
I am a Daddy's girl... period






CVB

Tuesday, November 29, 2011

Ambon Manise (Timur)


Ingat-ingat dulu ketika sedang di Amerika, minggu terakhir di bulan November adalah pekan perayaan "Thanksgiving." Semua orang bersorak. Pertama, perayaan Thanksgiving itu berarti besar untuk warga di sana. Hari raya itu selalu jatuh pada hari Kamis di minggu terakhir bulan November. Mereka akan berkumpul bersama keluarga dan mengucap syukur atas setahun itu. Kedua, perayaan Thanksgiving berarti feast atau makan besar. Turkey, stuffing, mash potatoes, salad, and big portion of pumpkin pie are a must!! hahahah. Ketiga, Thanksgiving berarti Big SALE. Di hari Jumatnya seluruh toko-toko di Amerika akan memberikan SALE besar-besaran. Hari jumat keramat itu dimulai dari tengah malam hingga hari Minggu itu. Hari itu sendiri dinamakan Black Friday. Keempat, perayaan Thankgiving boleh dikata liburan weekend panjang. baik anak sekolah maupun orang kantoran super happy ketika Thanksgiving datang mendekat.
Saya boleh tidak tinggal lagi di Amerika,  but I can still celebrate thanksgiving with my own way... hehehehhe...

Perhaps, this is not a "thanksgiving" weekend. However, the plan to go out of city was planned on 25th-28th of November, so it is so called thanksgiving getaway. And my Thanksgiving getaway destination is Amboina!! And I am thankful of that... :) 

Ambon from the sky
Beta ada mengunjungi Ambon, ibu kota kepulauan Maluku.
Beta dipanggil.
Ya dengan sedikit sisa darah Maluku dari pihak ibuku, saya boleh dibilang anak Maluku.
Ayah-ibu ibuku berasal dari pulau kecil di Maluku sana bernama Dobo. Kata "beta" (saya), "tarada" (tidak ada), akrab di telinga.
Ayahku yang bukan berdarah Maluku fasih berdialek Maluku. Beliau menghabiskan masa kecilnya di Ternate. Jadilah saya mengerti dan berbicara bahasa Ambon.
Singkat cerita, Ambon itu seperti dekat. Walaupun tidak ada hubungan secara langsung.
Suara hati memanggil tuk kembali 
Kembali bersama-sama denganmu 
Senyum manismuSurga di bumi 
Membawaku kembali - Timur by Glenn Fredly
  Kira-kira lebih dari 10 tahun lalu, saya pernah mengunjungi Ambon. Diboyong oleh karyawan ibuku yang memang sudah kami anggap keluarga sendiri. Kali ini, ia juga yang men'culik' saya hehehe.
Kami tiba sore. Mungkin karena sudah lebih dewasa, saya jadi lebih menikmati. Perjalanan dari airport saja sudah merupakan pengalaman sendiri. Lihat kanan ada laut, lihat kiri ada gunung. Jalanan naik turun dengan memberikan view yang luar biasaaa.... Belum lagi kami berhimpit-himpitan di Hot Red Hartop.
Mereka itu semua famili dari karyawan yang saya sebut-sebut tadi. Well, sebenarnya lebih tepat jika beliau disebut-sebut sebagai inang pengasuh saya hahaha... (nanny). She has been working with us for 21 years now.

Lanjut.
Malamnya, saya dan inang saya itu diajak makan malam di salah satu rumah kawannya Kawan si inang. Rumahnya Buaguuuuus. Ternyata di salah satu bukit kota Ambon ada juga kawasan rumah elit nan modern. Menunya pun tak kalah sedap daripada Turkey.
Kobe Steak, Tuna Sashimi, Grilled Tuna, Fruit Salad, and Udang Mayonaise... hehehehe maaf ya jika membuat kalian ngiler...
Maka dari itu demi meringankan beban Anda-anda sekalian, saya tidak mengikut-sertakan gambar-gambar makanan tersebut. Toh gambar-gambarnya bisa jadi tidak membuat Anda bereselera, bahkan lebih mungkin jika gambar dalam pikiran Anda lebih sedap ketimbang gambar yang saya ambil. Sebab gambar yang saya ambil itu pada saat saya tengah makan, jadi sudah kurang appealing.


Anyway, Malam pertama kami di kota Ambon, hanya diisi oleh makan malam extravagant itu. GRATIS pula! hehe

Muria, ular kali, waii Ambon
Nah di hari berikutnyalah baru petualangan dimulai! Perjalanan kami mengarah ke Utara kota Ambon. Tempat perhentian kami yang pertama adalah daerah yang bernama Waii. Sebuah kawasan pertemuan muara Sungai dan Laut. Makhluk yang kami kunjungi adalah Muria atau ular kali.
Ular kali ini jinak dan lebih menariknya lagi mereka itu 'dengar-dengaran' sama si Om.

Si om hanya masuk ke air dan mendekati si muria yang daritadi diam saja tak bergeming. Lalu tiba-tiba si muria bergerak mendekati si om, seakan-akan si om itu "bapak"nya.
Si muria ini hobi makan telur. Jadinya si om tadi sekalian membawa telur untuk memberi makan dia.

Di Waii ini airnya bersih sekali. Jadinya ada bagian dari muara pertemuan antara air laut dan tawar ini dijadikan tempat mencuci baju oleh warga setempat. Dan banyak muria yang berseliweran di situ. Baik warga manusia dan warga muria saling hidup berdampingan haha.

Di titik ini pula bisa ditemukan kehidupan bertenggang rasa antar ikan penghuni air tawar (ikan mas) dan air laut (ikan titang). Jadi, seharusnya orang Ambon atau orang-orang luar mencontohi ikan-ikan ini.
Biar asal boleh berbeda tapi Waii jadi tempat hunian bersama, biar agama boleh berbeda tapi Ambon jadi tempat hunian bersama...
ikan yang lebih kecil ikan titang (air laut), ikan yang lebih besar ikan mas (air tawar), dan yang paling panjang si muria
Berikutnya, tidak afdol kalau ke Ambon tanpa mengunjungi pantainya. Jadi, kami terus ke utara menuju pantai Liang.

Deburan ombak dan butiran pasir putih
Bagaikan mutiara yang menari-nari
Senyum manismu 
Surga di bumi 
Membawaku kembali - Timur by Glenn Fredly
Pantai Liang, Ambon













Namun sayang sungguh sayang, I got my period on that day!!!















Padahal air jernih bukan main...
However, somehow I manage to "celup-celup" sedikit... hehehe (mind my mixed language here hehe)

Malam itu ditutup dengan memanjakan otot-otot kaki dan tangan di permandian air panas.

Hari itu selesai dengan tidur lelap di hotel Amaris yang juga GRATIS!! Maklum, ada orang penting datang berkunjung hahahaha...

Hari ketiga di sana, saya teler. Tepar. Tak bisa bergerak. Rasa ngantuk luar biasa menyerang di Siang bolong. Sungguh menyebalkan. Tetapi, rencana tidak boleh tertunda. Jadilah saya duduk terlunta-lunta di dalam mobil 'ranger' (pick up tetapi memuat lebih dari 4 orang, semacam mini truck kata orang Amerika). Apalagi medan yang kami tempuh untuk sampai ke teluk tempat berenang itu seperti naik roller coaster. Naik turun, tikungan tajam. Hanya, semuanya terbalaskan. Pemandangannya tidak bisa kita dapatkan di roller coaster manapun. Apalagi kecepatannya bisa kita atur. hahaha...
Dan dalam 40 menit, kami sudah sampai di pantai Huku~~~~ waka-waka. Kita sebut saja dengan waka-waka, karena namanya agak ruwet untuk diingat hahaha...


Tidak ada pasir melainkan pecahan-pecahan karang-karang halus. Airnya jernih luar biasa. Jika kita berenang agak menjauh dari perahu yang tertambat, kita bisa melihat-lihat kehidupan di air laut dengan bebas. Sayang, hari itu saya putuskan untuk tidur. Raga saya tidak kuat. (payah :( )

Sebelum pergi menempuh medan naik turun gunung untuk sampai ke tempat indah itu, kami sebagai warga Gereja Katolik yang baik dan budiman mengunjungi Gereja termegah di Ambon. Katedral. Hari Minggu itu adalah hari pertama memasuki pekan Advent. Kami duduk tepat di barisan belakang bagian dari Koor. Dan OMG!! Orang-orang Ambon pung suara pung baguuuuus laiiii!!!! hahahahah They sounded REALLY GOOD... apalagi om-omnya hahaha... bass dan tenor... gaaaah

Ikuti iramaku
berdendanglah bersamaku
menarilah denganku
aku di sini
engkau di sana
ayo kembali ke timur


Paduan suara tifa dan tarianmu
alunan irama tropikal memanggilku
senyum manismu
surga di bumi
membawaku kembali - Timur by Glenn Fredly

Timur. Sebuah kawasan yang mungkin asing bagi orang Indonesia sendiri. Semakin ke timur, image orang negeri sendiri adalah orang timur adalah bangsa primitif. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa di pedalaman Irian sana, masih banyak mereka yang tidak memakai baju, makan masih dari berburu, dan tidur di atas pasir. Namun, untukku timur itu Rumah...

Sulawesi Selatan bukan bagian dari timur, tapi kami di sini adalah gerbang pintu timur. Apa-apa yang mau disadurkan ke kawasan Timur harus mampir di perairan kami. Jadilah orang-orang dan segala logatnya ikut masuk ke dalam kehidupan saya. Logat Flores, Ambon, Manado, Irian itu sudah akrab di telinga saya. Tidak heran jika saya bertemu orang dari Timur (Irian, Ambon, Manado) di Amerika, saya sudah merasa ketemu keluarga sendiri. Segala logat saya keluarkan, tidak perlu basa-basi berlogat tanah ibu kota. hahahaha..
Ya timur itu rumah.
Lidah ibu.
Apalagi ibu saya orang Dobo dan ayah saya besar di ternate, perlu ditambahkan jika saya diasuh oleh seorang yang dari Ambon, jadilah bahasa itu sudah seperti bahasa ibu saya sendiri.

Selain itu,Pantai-pantai di Timur itu adalah harta.

Pengalaman ke Ambon ini betul merupakan sebuah perjalanan penuh syukur.
So... that was my 'thanksgiving' getaway... that made me feel so grateful. 


Ambon Maniseee......
PS: penggalan lirik di atas itu karya bung Fredly yang berjudul Timur...


CVB

Saturday, November 12, 2011

UUPDaaaaaaTEEEEEEE

Judulnya harus dipanjang-panjangin karena update yang ingin saya paparkan di sini juga mungkin PUANJAAAANG! Masih mungkin sih hehehe...

Alrighty. it's all about what I have been doing, getting, and experiencing while I am in Indonesia. Noted, it's been a month and a week since I arrived in Makassar - home sweet home... or so called that...
Following the logic, I should be doing fine when I am here in terms of the lifestyle, society, and norms. I should have no problem to interact with those aspects. Nonetheless, how funny! I found almost everything is foreign yet familiar... hmmm... what do I mean by that?
Meaning, I just realize ity bity things that I have never realized when I lived in Indonesia before leaving for the U.S.

The first few weeks I only saw the "Bad(s)" including the traffic jams, garbages, law disoriented, absence of professionalism in MANY Professional firms.
The traffic jam is unavoidable if you are on the street around lunch time and unfortunately that's the time when I would be around on the street. Usually, I went out to buy lunch for my mom. Her appetite is tricky, we need to do our best to support her appetite. Therefore, almost every time, I would be trapped in the traffic jam to fulfill her will... grrrr sucks. Don't ever try to imagine what the traffic jam here in Indonesia looks like. You will be amazed. Motor cycles, big trucks, disfunction traffic light, and crazy people who wants to cut your way all the time are "regulars." They are easy to find in the traffic jam.
It is definitely not a new thing for me at all. I mean, I had lived in this madness for 18 years, but yes, the 4 years in the U.S. made me spoiled.
Keteraturan dan saling respek betul-betul kerasa. Udah ada peraturan nggak tertulis bahwa manusia itu sama derajat dan kita harus saling menghormati.

Writing this doesn't mean that I have no respect to collectivism, there are good things about it too...

Anyway.. I become aware of something else. Something that I have never realized before. Things like:
1. Indonesians are "uncivilized (?)"
2. Toko Kelontongan is JJANG (translated: Mini market is great)

Uncivilized
Hm... It is true that we (Indonesian) still have tribes that perform a primitive lifestyle. It's a very extreme example. Indonesia is a developing country anyway; thus, there are many-many aspects that need to be "fixed" Let me simplify my words in pictures.
If you go to public places in Indonesia, you will find 'signs' or 'announcements' on their walls.
Sorry for inconvenience, It is out of service

Attention, please do not throw toilet paper or sanitary napkins into the toilet. Thank you
These signs are normally displayed in anywhere including the United States.

However... there were signs which blew my mind. I feel like got a lightning attack. 
It is forbidden to dissemble, Dissembling meaning buying. 


 These pictures did not shock me. I have seen this quiet often before. The difference is based on my consciousness. I just consciously realize that most Indonesians are not really "civilized". It is necessary to put up signs like this to let them know what to do and not to do.



Sorry, it's forbidden to bring food and drink from outside
Then, these next couple pictures are those which shock me even more...I found these in Dunkin Donuts outlet.
Attention! please don't put feet on the sofa and table. Thank you

We hope you to be polite and keep the etiquette

!!!!
Hm... perhaps I should not make a comparison. I theorized that in the States, there will be no sign like those because it is NORMAL to see people put their feet on the sofa while sitting at the cafe. In other words, they don't really care. Here in Indonesia, there is a certain degree of norms that we need to obey. The culture is already different, so there is no use to compare. Nevertheless, I still find this 'unique' hahaha.

Funnier...
I found this sign yesterday. I just conclude that Indonesian love signs. They communicate with signs!! hahaha. Actually I don't have a good solid explanation. Ideas about it still floating in my mind.
It is forbidden to throw away garbage, strangers - this is for private use
Capturing these pictures motivate me to do some more "research" about Indonesian behavior. hahahaha There is something unique, odd, a little bit unusual about this kind of behavior. ah I feel so much like a social scientist. LOL...
I will not make a deeper explanation in this post. I don't want to be too serious in this post hehehe...

Next...
Traditional Minimarket is great!!!
It is still accessible to find a small house with a small shop in the front part of their house. We call it "Toko Kelontong" They sell almost anything. From diapers to chili peppers. From local product to imported products. Nowadays, I enjoy buy things from these kind of shops...
It was used to be a small toko kelontongan, but now you can tell that this is a mini market
a Traditional Toko Kelontong. Manually calculate and the hand written bill
 Yes, I admit that I was too arrogant. I was annoyed when the service was not good and complained about it all the time. Well, now, I am enjoying almost everything about Indonesia, my home land. I have seen it in three different ways. Firstly, I was so accustomed, so I did not really care. Then, I already knew "a better" way, so I was disappointed. Now, I enjoy it even more. I found little things are interesting and laugh at their "stupidity" hahaha. Believe me, people here can do things that are unbelievebly ridiculous.
Moreover, how come I am not enjoy my living here. I live closed with my beloved family and friends... :)
my papo, mambo, and indok (a nickname that I give to my nanny - on the right :P)
my mambo enjoy "sion", her 4th generation ipod
dinner at the bedroom :P

Lastly, finally!! I can have a meal under $4!!!!! hahahaha
avocado, coconut

we call it "es putar": jackfruit, avocado, cocoa powder, crushed peanuts, and many good things

Mie BAKSO!! (Meatballs)

Ayam Goreng Sulawesi

Es Teler!! (drunken Ice) hahahaah



Ah... it is good to be home :)
CVB