Monday, July 24, 2017
Sendiri. Atau Berdua
"Pintu teater 4 telah dibuka. Harap penonton yang memiliki karcis untuk masuk ke dalam ruang teater"
Mendengar pengumuman itu, aku melenggang masuk dan menyerahkan satu potong karcis untuk disobek. Begitu duduk di dalam selama kurang lebih 5 menit, sebuah pesan masuk.
"sudah di dalam?"
"sudah. kau?" aku mengetik balik
"Sudah juga. Beda 5 menit dari jadwalmu"
"Sip. Kalau begitu selamat menonton"
"Selamat menonton juga.."
Kumakan popcornku dengan tersenyum. 120 menit lagi ditambah 5 menit lagi, aku bisa membahas film ini, entah adegannya, pemainnya, atau hal lain dengan dia.
Dia yang jauh, tetapi tidak pernah terasa jauh.
Karena kami selalu menemukan cara untuk terus bersama-sama walaupun waktu dan tempat kadang tidak saling menyetujui.
CVB
Wednesday, August 26, 2015
Katakanlah ini sebuah Elegi
Aku menengadah. Begitu kelabu.
Baru saja memasuki tahun baru, tidak lama lagi,akan merayakan natal.
Ha begitu banyak yang terlewat, begitu membosankan.
Rasa kopi makin pahit
hati masih sakit
Tidak ada yang benar kecuali aku sekarang sendiri.
hanya sendiri.
Buku-buku tak terbaca
Video streaming yang kelamaan loading.
makanan yang itu-itu saja.
dan tembok yang makin lama makin menguning
Tidak ada yang baru kecuali aku sekarang sendiri.
Benar-benar sendiri.
diletakannya cangkir kopi yang tak habis. Menarik napas panjang sambil menggulung lengan kemejanya. Jas kerjanya terlampir di tangannya. Ia membayar kopi yang ia minum lalu berjalan keluar meninggalkan tempat itu.
Pintu kafe berbunyi ketika dia keluar.
Cangkirnya lalu dibawa pelayan ke dalam, kursi bekas dia duduk dikembalikan di posisi semula. Bekas cangkir kopi di meja dilap begitu saja.
Tak lama kemudian, pintu kafe berbunyi lagi, orang lain menempati kursi itu. Pelayan yang sama melayani pengunjung baru. Tidak ada lagi bekas-bekas tentang dia di kafe itu.
Begitu halnya dia di dalam kehidupan seseorang yang lain... yang tidak perlu kita panjang lebarkan di sini.
CVB
Thursday, December 4, 2014
Surat kepada Matahariku
Dear Matahariku,
Pagi ini matahari bersinar cerah di tengah musim hujan. Bukan memberikan panas yang menyengat seperti biasa, tetapi membagi hangat sebentar. Dan kau tahu? Aku terbangun dengan sumringah. Bukan karena kau datang menghampiri lewat mimpi, tetapi karena aku merasa hari ini berbeda. Kata orang, hati tidak bisa berbohong. Hari ini frontal ia membuat aku merasa excited sepanjang hari hanya dari hal-hal yang sederhana. Good hair day, notifikasi yang mengejutkan sekaligus menyenangkan (kau pasti tahu itu dari siapa), ke kantor tepat waktu. Remeh temeh, tapi entah mengapa aku excited.
Ah kau tahu...
Kejadian baik masih berlanjut hari ini.. Suratku masuk ke majalah, kiriman datang tepat waktu, dan malam ini aku bertemu kawan baru.
Hari baik ini membuat aku berpikir satu hal. Tak bisa aku bohong bahwa aku selalu berharap kau juga merindukan aku seperti aku selalu merindukanmu. Tapi, sekarang itu tak penting lagi. Kita sama-sama tahu bahwa hidup ini berputar ke depan. Tidak ada yang bisa diulang. Jika kau rindu akan hari yang kita habiskan bersama sebaiknya kau jangan buang-buang energi. Jika kau rindu aku sebagai aku, tak perlu malu. Kata orang hati tak pernah berbohong. Satu saranku, dengarkan baik-baik hati itu. Apa ia akan membiarkan kata yang belum terucap tetap terbungkam. Ataukah dia tahu bahwa kini kita telah siap?
Aku tak ambil pusing dengan keputusanmu. Walaupun aku sepertinya tahu seperti apa pada akhirnya. Sudah, itu tak penting lagi.
Karena kau tahu? Sinar matahari hari ini menemani aku ketika tiba-tiba aku tersenyum mengingatmu. Tidak. Aku tidak menangis seperti dulu lagi. Kau tahu apa artinya? Karena aku mengindahkanmu sebagai sosok. Bukan sebagai kenangan. Aku tidak mau lagi sedih mengenangmu karena apa yang kita lewati tak bisa terulang lagi. Tapi, aku mengenangmu karena kau pernah ada untuk menyatakan aku yang sekarang. Kuharap kau pun begitu. Entah aku bisa benar-benar dekat dengan mu lagi atau tidak, aku tak tahu. Tapi satu yang aku tahu bahwa kau matahari, tak akan ke mana. Sinarmu akan aku rasakan terus. Itu sudah cukup.
Aku tahu surat ini terjadi dalam kepalaku saja, tapi bukan berarti this is not real right?
Karena hatiku yang tak berbohong itu berkata...
'doa selalu didengar'
dan begitu adanya
CVB
Thursday, February 20, 2014
Surat Cinta Bulan Februari
Awan sedang berkumpul membuat segalanya menjadi redup.
Dingin dan kering. Beginilah hari-hari musim dingin. Padahal sudah masuk bulan Februari. Sekiranya kau masih di sini, aku tidak perlu mengutuki hariku karena aku tahu, aku akan bertemu kamu.
Kamu dengan ceritamu yang membuatku merasakan sedih yang sama
Kamu dengan ceritamu yang membuatku bangga akan dirimu...
Kamu dengan segalanya tentangmu.
Orang berkata aku sedang jatuh cinta
Tapi, aku menjawab bahwa... "aku jatuh"
Karena sekali lagi... aku mendapati ruangan itu akan kutempati sendiri.
Kamu hanya seperti bayang-bayang yang dibawa pergi bersama redupnya matahari. Datang sebentar lalu menghilang...
Aku hanya ingin tanganmu menggenggam tanganku tanpa ragu
Aku hanya ingin pelukanmu, tak ada obat yang lebih ampuh daripada rengkuhanmu saat aku merasa dunia sudah terlalu dingin
Aku hanya ingin mendengar ceritamu...
Dan...
Tentu saja... aku hanya menanti dalam mimpi hingga matahari baru datang...
Berharap bahwa saat ini bayanganmu akan selalu di sana tak beranjak bersama letak matahari.
Berharap bahwa bayangan itu datang bersama dengan derap langkahmu yang berat...
drap ...
drap ...
drap...
drap...
Saturday, October 26, 2013
The arts of "Ketidakpastian" - Kita
Tuesday, September 24, 2013
Ganteng No. 10
Melalui musik, melalui kilasan kenangan-kenangan.
Aku tidak keberatan...
Karena kau selalu begitu... dengan gayamu yang tidak tahu malu.
Datang seenaknya, lalu pergi menghilang juga seenaknya.
Aku tahu hanya kenanganmu yang masih membuatku tersenyum. Tentang keberadaanmu sendiri, sudah tidak begitu penting.
Namun, kamu... dan segala tentang dirimu tidak membuatku merasa sesal setitik pun. Kamu tetap menjadi Ganteng no. 10.Kegantenganmu bukan rupawan, daya tarikmu yg kuat, sifatmu yang seenak jidat, dan sepasang mata itu... menjadikanmu angka sepuluh...
Sepuluh, angka sempurna...
Malahan, tiap kali mengenangmu, aku dipenuhi luapan rasa syukur. Hingga sekarang. Terbilang 2 tahun setelah segala tentangmu sangat nyata dalam hidupku, aku tetap bersyukur..
Aku selalu mengucapkan terima kasih ketika kau datang mampir seenak hati...
CVB
Sunday, June 16, 2013
Cuap-cuap A.B.G
Mas Echong itu sebenarnya nggak jelek2 amat loh. Ganteng juga menurut tolak ukur kegantengan anjing...
Bulunya loreng-loreng, di bagian leher dalam hingga perut berwarna putih bersih. Mukanya perpaduan coklat hitam dan putih. Manis sekali. Bulunya panjang dan ikal. Wah, para betina kalau lihat pasti langsung gelepar-gelepar hahaha. Tapi, sayang akibat abusive puppyhood beliau menjadi anjing yang galak dan kurang bersahabat untuk orang-orang maupun anjing-anjing baru.
Nah, karena gue lebih ramah and SKSD, jadinya gue lebih difavoritin dibandingin Mas Echong. TAPI OH TAPI, perjalanan gue masih panjang untuk menjadi anjing nomor satu.
| mas Echong siaga depan pintu |
KARENA OH KARENA! Bosku yang cantik itu sudah punya bodyguard yang emang galak. Mas Echong! (siapa lagi?). Nah, mas Echong itu emang overprotective banget sama bosku yang cantik itu. Bayangkan! sampai bapak si bos aja mau diterjang dengan JAGO - jurus andalan gigi ompong (maklum mas Echong udah a.u.t alias anjing udah tua heheheh). Mas Echong nggak segan-segan untuk menggeram dan menggigit kalau dia "merasa" si bos terancam. Pokoknya... kalau udah ngeliat si mas udah naikin telinga, udah mulai "grr grrr grrr..." gue langsung masukin kepala ke bawah sofa, diam di tempat, atau langsung lari seribu derap.
Nah keseraman berikutnya adalah mas Echong itu anjing yang moody. Biasanya 10 menit yang lalu gue abis GGMan ama dia (Gigit-gigit mesra) ama Mas Echong. Eh 15 menit setelahnya, gue udah dapat "grrr...grrrr....grrrrr" itu tandanya gue bakal diaaaaaaaaaaam, nggak goyang semili pun, dengan mata melirik ke arah mas Echong, mencoba membaca gelombang emosinya - apakah gue udah bisa lari atau tetap di tempat alias aman. Ini terjadi kalau kita berdua berada di atas, dekat dengan si bos. Emang kalau dekat dengan si bos mas Echong bisa berubah... hiaaaaaat!!!!
Gue tumbuh besar bersama mas Echong, jadi nangkap "gelombang emosinya" lebih gampang sekarang. Gue biasanya berani-berani aja naik ke atas dengan mas Echong, dengan membaca emosinya dulu. Apakah gue bisa senang-senang aja naik ke atas, atau harus penuh kesiagaan tergantung dengan "gelombang emosi"nya mas Echong. Syukur kepada kodrat gue sebagai anjing, gue bisa merasakan gelombang elektromagnetik.
Tapi, emang dari kecil gue udah bisa mengambil hati si mas Echong. Mas Echong adalah anjing generasi ke-tiga. Generasi sebelumnya, adalah ayah si mas sendiri. Namanya kalau tidak salah Brani! Warnanya hitam loreng-loreng, kepalanya hitam pekat, dan bulunya juga panjang dan ikal. Nah mbah Brani ini gualaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak bangeeeeeeeeeeeeeeeeeet sama mas Echong. Jadinya, mas Echong yang lugu itu 100% mengalami abusive puppyhood. Sedih. Nah, setelah mas Brani hilang entah ke mana, mulailah kekuasaan berada di moncong mas Echong! Mas Echong waktu itu tinggal dengan banyak anjing lain yang semua juga menjadi korban mas Echong. Makanan dirampas. Kalau melawan, terkena gigitan. dan lain-lain. Gue cuma dengar2 serabutan. Anyway! salah satu korbannya TERNYATA oh TERNYATA adalah bapak gue sendiri!!! TORA.
| bapak gue - Tora |
| Agang (almarhum) |
Suatu pagi, gue nggak pernah lihat Agang lagi. Pada akhirnya gue tahu kalau dia menjadi korban tabrak lari ketika kami penasaran dengan keadaan jalanan. Sejak saat itu, gue nggak punya anjing lain lagi selain mas Echong! Malam demi malam perut mas Echong menjadi bantal gue. Mas Echong pada akhirnya menjadi anjing yang gue sayang. Dia menjadi 'bapak gue'. Ngajarin gue buang air di tanah. Ngajarin gue tanda-tanda si bos. Ngajarin gue menggonggong, howling saat dengar piano, dan juga naik turun tangga.
Bayangin tanpa mas Echong, mungkin kebinatangan gue nggak pernah berkembang secara maksimal.
Jadi, gue bahagia-bahagia aja tinggal dengan mas Echong asal gue tahu kapan gue harus bertindak hati-hati atau iseng.
Ada 2 hal yang benar-benar harus jeli menangkap ":gelombang emosi" si mas. Yang pertama, pas makan. Gue harus membiarkan beliau makan dulu, baru gue makan. Kadang, gue harus rela makanan gue juga dihabisi sama si Mas. UNTUNG oh UNTUNG masih ada omanya si bos yang suka ngasih gue makanan secaraaa exclusive... DIGARIS BAWAHI ya... secara exclusive. Karena, si oma 90 tahun itu cuma manggil "Sing... Gassing.... Gassing..." Langsung gue rela meninggalkan sona gue di loteng dan lari turun ke bawah dengan catatan gue mesti nunggu momen yang tepat untuk kembali ke atas.Mas Echong sih cuek bebek kalau udah pewe di atas. Mau makanan seenak apapun, dia lebih memilih deket-deket dengan si bos.
Hal kedua yang bikin gue harus menangkap gelombang emosi secara tepat adalah ketika kami naik ke loteng. Biasanya, semuanya akan baik-baik saja, ketika kami berdua naik secara bersama-sama. Tapi, mas Echong bakal marah kalau gue naik belakangan. Jadi, kalau gue turun untuk makan, kalau mau kembali lagi harus tunggu si bos atau bapaknya si bos. Nggak jarang gue kena jago. dulu. Asal gue jeli, dan rela mendahulukan mas Echong, gue bakal aman dan tetap di'sayang' oleh mas Echong
Gue ngerti beliau adalah korban abused puppyhood. Gue beruntung karena gue dapatnya mas Echong, bukan si mbah Brani. Apalagi, ngambil hatinya mas Echong itu cukup gampang. Ngasih dia waktu exclusive ama si bos sebentar udah itu udah deh, kita berdua udah main GGM lagi.
Jadi, di rumah itu cuma ada dua spesies yang bisa mengambil hati mas Echong. Yang pertama, tentunya si bos. dan yang kedua dengan bangga gue bilang... ya gue... si ABG ganteng! Ingat yaaa ganteng nggak boleh lupa! ;p karena sebenernya si mas Echong itu anjing lucu yang gemesin... lembut hati pula...
| mas Echong kalau lagi cute... |
| ama si bos |
to be continued?
maybe... :)
NEXT on Strawbearies: 100% Indonesia, 100% Manusia
CVB & GG (Gassing Ganteng)