Showing posts with label cerita pagi. Show all posts
Showing posts with label cerita pagi. Show all posts

Monday, September 21, 2015

Small Miracle

I never imagine that my life can be so dynamic. Full of surprise. Work has brought me to many unpredictable encounters, including this very one. I am still out of words, speechless, bewildered, or any other subjective that shows how hard for me to believe it. It is still uggh...but in a good term.

In my second year in Seattle, I was the head of Indonesian Catholic Youth Group or Mudika. This group is spread around the globe, including north America. Seattle and Vancouver are 2 hours away; thus, we usually got together. When I was the head, I have been contacted with heads of Mudika from other states, including Vancouver. Let's call him Z. We only contacted via facebook and email.
It was back in 2009 then and I did not even dream that we would meet in person. Our friendship was limited on newsfeed and seasonal greetings. Not more than that. I only knew what was happening in his life roughly from what he posted.
Then, life is funny indeed. 2 weeks ago, I saw a familiar face came into the meeting room at one of Catholic high schools here in Malang. I was convinced that it was Z. I called his name and yes it was him!!! It was something that made me out of words. Just like "whoaaaa" "wooow". hahaha... It was like a pandora box. Suddenly it just appeared in front of your eyes. It was more shocking than meeting Angga from Maliq and the Essentials. 

Oh well, we had a week to do a little catch up. We even forgot how we started to know each other. He even asked whether we've met before or not. lol. It was just hilarious. This can be considered a miraculous meeting, well .. I think I now can add it to my magical meeting, something that unexpectedly making me happy.
I started to count small miracles that happened around me. Unpredictable encounters, meeting people that can accept you well, thinking about having pizza and suddenly someone offered you a slice of pizza, sick of going alone at church then a friend just sat next to you, a song that is in your head sang by a choir, dreaming about going to US again and your manager said that you are offered to go there for a business trip. Those things. Every little things matter.

Indeed, every little things do matter. Fact that you are actually seeing with your brain, I am typing these words in my second language, my cactus Elmo just having little babies, he's about regenerating ;), dogs recognize his owner, Morning ray, anything.

I read back all the posts that I have posted here in my blog and the old ones, most posts are telling about how things work in its own way. Things that making me grateful.
small miracles
we’re making small miracles
from the smile that we give to each other
everyday, anytime, anyway
small miracles
we’re making more miracles
thank God we’re alive - Bonita and the Hus Band, 'Small Miracle'
It is indeed starting with a simple thing. A smile, a fresh air, a plate of warm food, oh really those things. Some people still search what is the meaning of one's life. What is the matter of one's existence. In what purpose. These questions are OK to be asked of course. As Lewis states, "Miracles are a RETELLING in SMALL LETTERS of the VERY SAME STORY which is WRITTEN across the whole world in LETTERS TOO LARGE for some of us to see" We sometimes missed it just because it is too simple. Be aware that we are now making small miracles. Counts everything, the bads and goods. And you feel different. You eventually have answers of those questions.
More positive things are coming to you in the end...

Just do a simple greet, take care of your own room, say hi to  your mom and dad, just that..




Because it is a miracle itself that we are now breathing and alive.



Bonita and the Hus Band from the album Small miracles

CVB

Sunday, July 26, 2015

Monday Sickness

I woke up this morning, feeling lousy as usual and the numbers on that scale has made my day! To be crazier. I started questioning my metabolism system. Oh well, let's think about it some other time.
Now, let's face it. today is Monday everyone.

A cup of coffee is another cup of water for me.
I am looking at the calendar, and realize it is another Monday. 27th, the last Monday of this month. It is a Monday anyway. There is not so much difference. I am sipping my cold coffee and telling myself that I will not buy this kind of coffee again. That creamy written on the label is not actually creamy, but sweet. I want something strong, bitter, but still has its sweetness. I am dreaming of Starbucks hot mocha now. Imagining, how it taste and perhaps it can lighten up the rest of my day.

Report, students, emails, house chores, meetings are jumbling in my head. Can't decide which to be done first. It is Monday sickness. Everything needs to be done. Everybody is longing for more Sunday. Nonetheless, I have a little secret. I wish weekend doesn't come too soon.  Sometimes, busy weekdays are better when you are living alone. I guess I don't have to mention the reason behind it, do I?.

I had a pretty conducive weekend though, back in the kitchen, did a little cleaning theme, and had fun with the sims. But, here it is Monday when everything starts again. Road is busier, the queue in the bank longer, calls and emails are overwhelming. Everybody ready to work again..

Let's dig in..

#ineedanothercupofcoffee
#morningGlory
and more Lee Jin ah







CVB

Sunday, May 10, 2015

America, I'm in Love

Kenangan itu masih melingkar dengan mesra di sudut pikiran. Enggan diusir. Entah itu dingin yang menyapu-nyapu hidung hingga memerah, tangan yang membeku karena kedinginan, otot kaki yang meraung minta istirahat karena kebanyakan jalan, atau karena matahari yang terang menemani? Semuanya ingin diingat-ingat. Toh tiap harinya, selalu ada saja hal-hal yang mengundang senyum. Ini perihal kunjungan ke tempat-tempat baru yang asing namun terasa akrab. Tempat yang belum pernah aku kunjungi di Amerika Serikat (kecuali Chicago).


Perjalanan kemarin seperti menjalani cerita cinta. Tiap kota mempunyai 'cerita cinta'-nya masing-masing. Katakanlah Chicago itu adalah cinta pertamaku. Aku jatuh cinta dari pandangan pertama, kali kita bertemu di tahun 2011. Sampai sekarang pun, aku masih kesemsem setiap kali menyusuri jalan-jalannya yang cantik. Tak perduli seberapa jahatnya angin di sana, aku tetap jatuh cinta. Tetap suka, tetap terobsesi. Memimpi-mimpi apa yang bisa saja terjadi.

Art Institute of Chicago - Chicago



Washington DC adalah pertemuan dengan "pria idaman"ku. Aku tahu aku akan suka dengan Washington DC. Tertarik dengan gedung-gedun bersejarahnya, monumen-monumennya, Bapak Abraham Lincolnnya, semuanya. Dan benar, aku terkagum-kagum dengan bapak Abraham Lincolnnya, seperti sedang menemui patung dewa Zeus yang megah. Semuanya sempurna sejalan dengan kriteriaku, namun ada yang terasa kurang. Karena ternyata pada akhirnya, apa yang kita ingingkan belum tentu adalah yang terbaik bukan? Tapi, aku senang sudah pernah ke Washington DC dan masih ingin kembali lagi.
Lincoln Mermmorial Hall


Bertolak belakang dengan Washington DC, Philadelphia memberiku kejutan. Sebuah kota yang ada jauh sebelum Washington DC, benih negara Amerika Serikat. Dia yang kelihatan angkuh dengan segala museum seninya dan patung-patung indah di sudut jalan, namun ketika didekati malah kita merasakan betapa ramahnya kota ini. Seperti sedang bertemu pria di sebuah pesta. Kelihatan terlalu keren untuk didekati, namun ketika ngobrol, malah tak mau berhenti. Aku tidak menyangka Philadelphia adalah sebuah kota yang cantik dengan segala cerita sejarahnya. Semuanya setuju, belum mau beranjak dari Philadelphia.
Philly


Akhirnya, aku menemui si "the one" di Vermont. Kalau disuruh untuk menetap, aku akan memilih Burlington, Vermont. Dia tak besar untuk kota besar, namun tak terlalu kecil sampai merasa bosan. Tempat yang semuanya bisa diraih. Dia terlampau ramah dan membuatku merasakan seperti di rumah. Tentu saja, aku tak akan menolak melihat danau Champlain di bagian barat, dan gunung-gunung yang melingkari sepanjang mata memandang. Kau terlalu cantik Burlington. Terlalu. Gedung-gedung tua atau gedung pencakar langit memang keren, tapi tidak akan pernah mengalahi alam. Burlington seperti bertemu dengan seorang pria yang membuatmu terpukau sekaligus merasa nyaman. Yang membuatmu betah walaupun ia tak terlalu hebat. Burlington itu seperti pria yang biasa-biasa saja, namun entah kenapa kita ingin terus kembali dan kembali. Berlama-lama. Kota yang kokoh dengan segala prinsipnya. Tak boleh ada billboard, kurangi penggunaan botol plastik dan hal-hal lainnya lagi.
Burlington

Aku geli mengetik metafora ini. Berlebih, tetapi kota-kota ini pantas diberi perhatian lebih. Amerika Serikat itu lebih daripada sekedar Rodeo Drive, Golden Gate, atau Manhattan. Amerika Serikat juga menyimpan tempat sederhana yang membuatmu merasa di rumah. Ada lebih banyak lagi daripada sebatas gedung-gedung pencakar langit. Di tiap tempatnya, ia mempunyai cerita masing-masing. Mempunyai sejarah sendiri, wajah sendiri. Mulai dari arsitektur dan perilaku orang-orangnya. Chicago, kota megapolitan yang masih membuatmu merasa aman, walaupun keluar malam-malam. Dengan semua gedung dari tahun 1800an sampai 2000an masih berdiri saling bersebelahan. Washington DC dengan hal-hal yang berbau gedung putih dan gedung-gedung yang tak boleh lebih tinggi dari capitol building. Philadelphia, yang orang-orangnya ramah semua, tanpa mengenal kulit. Dengan gedung-gedung  bersejarah yang masih terawat.  Vermont yang tipikal orang gunung dengan pikiran yang modern. Dilengkapi dengan tatanan kota yang cantik. Amerika Serikat memang kadang sok jagoan, tapi oh well, tidak perlu alasan kan untuk jatuh cinta.



it is always good to be back. 
it is always good...

Aku akan kembali lagi, #akuberdoa...

CVB

Monday, December 2, 2013

Cerita awal Bulan Desember

Halo Desember, kamu ternyata mengawali bulan ini dengan hari yg campur aduk, mengetes intuisi.
Tanggal 1 Desember hari Minggu, pagi-pagi aku ke Gereja dengan semangat walaupun terlambat. Pasalnya temanku mengajakku ke sebuah paroki lain. Saya selalu semangat untuk mengeksplor sebanyak mungkin Gereja yang ada di Surabaya :) Dan pilihan saya tidak salah. Gereja itu unik berdiri di antara ruang kelas.
Umat bergelimang di tiap kelas. Kami mengikuti misa melalui layar televisi dengan zoom in zoom out seperti nonton live pidato. Hebatnya, tiap umat walaupun mengikuti misa melalui layar tv, kami tetap berdiri pada saat kami harus berdiri, menjawab setiap jawaban (ex: Tuhan Sertamu "dan sertamu juga"), bahkan memberi hormat ketika para misdinar ingin mendupai kami (perayaan masa adven).Padahal aroma wiruq hanya sebatas layar kaca. 
Bulan Desember itu diawali dengan perasaan unik oleh perayaan unik. Dan itu masih cerita pagi.
Cerita Siang berlanjut ketika dengan tidak sengaja aku mengikuti doa sel inti KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus), yang berarti dihadiri oleh para pelayan sel KTM, wakil pelayan sel, dan semua yg 'petinggi-petinggi'. Saya nyasar di situ karena ruwetnya cerita yg menyangkut soal mobil yg diparkir terhalang tak bisa keluar, waktu mepet, pindah mobil, dan akhirnya terseret ke pertemuan itu. Kapan lagi bisa mengikuti sel inti, padahal status masih dalam masa "probation" hahahaha
Lalu, cerita malam hari pertama bulan Desember menurutku adalah tindakan nekat ala Chendani.
Beberapa minggu lalu, tante Retty di Makassar mengatakan bahwa akan ada undangan pernikahan sepupu mama yg juga sudah almarhum di Surabaya. Saya diminta untuk hadir karena dia termasuk yg terdekat dengan mama. Saya awalnya agak malas, karena tidak ada yg menemani, dan saya tidak begitu kenal dengan mereka. Silsilahnya saja, saya tidak tahu hahahaa.
Tetapi, semakin dekat hari H, semakin kuat saya merasa bahwa saya harus hadir. Alasan pertama, karena kedua belah pihak yg awalnya bersaudara sudah meninggal. Almarhum papa dari penganten wanita adalah sepupu ibu saya yang juga seperti kalian tahu sudah menjadi almahumah. Tetapi, undangan itu dilayangkan kepada papa. Saya juga harus tahu diri, sekarang saya adalah wakil ibu saya mau tidak mau. Jadi, saya nekat pergi ke sana, berharap tidak mati gaya karena pergi sendirian. kalaupun tidak ada yang saya kenal, saya sudah berniat untuk makan sebanyak-banyaknya hehehehe.

Terus terang, saya ketika tiba, hati saya agak riuh. Tempat undangan masih kosong kecuali keluarga mempelai sudah ada, tapi parahanya tidak ada satupun yang saya ingat. Bahkan ibu pengantin perempuan pun saya tidak tahu. Mau perkenalkan diri, tapi tidak tahu pada siapa. Alhasil masuk WC. Sengaja berlama-lama.
Ketika sudah tenang, baru saya keluar dan menyalami keluarga penganten, sambil menebak-nebak apakah mereka mengenali saya atau tidak? Maklum, saya terkenal seperti ciplakan ibu saya. Baiklah, urusan salam menyalam terlewat sederhana tanpa cerita. Masuk ke cerita pencarian tempat duduk.
Dengan trend masa kini, Event organizer yang mengambil alih posisi pengaturan tempat duduk yang dulunya diisi oleh para anggota keluarga. Alhasil, terjadilah percakapan berikut.
EO 1: ........ (diam menunggu sambil memberikan senyum tercantik)
Saya:... (berdiam sejenak menunggu ditanya, tapi karena si EO 1 diam tersenyum), "saya dari keluarga perempuan"
EO1: kartu mejanya ce...(masih tersenyum manis)
Saya: (kagok), saya tidak dapat kartu meja, tp saya dari keluarga perempuan
EO 1 bertemu EO2
saya disambut EO 3
EO 3: Kartu meja ce
EO4: teman kuliah ya?
Saya: bukan, saya dari keluarga perempuan dari Makassar. Di kartu souvenir cuma ada nama ayah saya
EO2 membaca peta meja rumit dengan nomor-nomor
EO2: meja 42 saja ya...
Saya: manggut-manggut
Sesampainya di sana, saya duduk dengan 2 orang lain yg saya tidak kenal tp mereka jelas keluarga perempuan.
Saya menunggu dan menunggu...
Selang beberapa waktu, meja mulai diisi. Kursi di samping saya ditarik ke belakang. Begitu saya menoleh, betapa bahagianya saya, orang yang menarik kursi itu adalah orang yang saya kenal baik :)
(Adegan wajah saya, tersenyum sumringah. Adegan hati saya berteriak gegap gempita, seperti meloloskan bola salju yang menggumpal... hahaha) 
Kursi itu ditarik oleh istri sepupu mama saya yang lain. Mantu dari saudara perempuan kakek saya.saya cukup akrab dengan beliau, Angkim Nirma, angkim favorit saya dengan gaya yang keren (ppsst; dia orang Bugis asli).  :) Lega... dan akhirnya wajah-wajah familier semakin bermunculan. Ketemu dengan Ai Shennie (yang ternyata saudara dengan papa si pengantin perempuan), yang bertahun-tahun cuma kenal lewat cerita mama, dan baru ketemu muka ketika dia datang melayat mama Januari lalu. Dan betapa ajaibnya, saudara ai Shennie yang tidak pernah saya temui (atau seingat saya begitu) mengenali saya dan memperkenalkan saya ke anak-anaknya lengkap dengan informasi di mana saya bersekolah.
Luar biasa sekali jaringan keluarga ini. Entah memakai sinyal apa.
Hahaha.
Pesta pernikahan tersebut sangat mengingatkan saya akan mama. Pasalnya, sudah lama mama tidak bisa pergi ke pesta-pesta seperti itu sewaktu mama hidup, sayalah yang selalu menjadi matanya. Saya selalu meng-update dengan sms. Siapa yang datang, si angkim ini pake baju apa, atau makanannya apa-apa saja. Semua saya lapor secara terperinci dan mama selalu bilang, dia seperti sedang ada di pesta :')
Saya merasa sangat bersyukur bahwa saya pergi ke pesta itu. Merasa sperti "sudah ditakdirkan"
Saya ingat, ai Shennie memandang saya lama, dan berkata "jangan sampai karena mamamu sudah tidak ada kau tidak cari-cari kita lagi :)" saya menjawabnya dengan janji akan selalu keep in touch.
 Ah Bulan Desember, hari pertama saja, saya sudah mengalami kejadian-kejadian yang menurutku bukan kebetulan.
yang pasti, Bulan Desember saya awali dengan mengikuti intuisi, dan intuisi saya mengatakan mengenai "bulan yang baik"
Tahun yang baik...
ya... "semua akan baik-baik saja"

CVB

Wednesday, July 17, 2013

#10000miles - third edition "Last MInute"

Last Minute

I believe in intuition...
For me, it is the easiest way to make a decision...
Logic can give u headache sometimes, sedangkan intuisi bisa bikin segala-galanya menjadi "mudah" :p

Aku jadi ingat dengan keputusan aku mengenai pulang-for-good di thaun 2011 membawa aku ke sebuah pemikiran bahwa intuisi memang tidak pernah berbohong. Mungkin mengelabui pada awalnya, namun pada akhirnya mau nggak mau kita setuju dengan intuisi itu.
Keputusan aku di tahun 2011 memberi aku kesempatan untuk bersama dengan mambo selama setahun... daaan... aku nggak menyesal sama sekali... :). It was started out pretty roughly - story here.
But it was not a regret at all - story here.

Nah,
I honestly cant tell you what I actually gained out of this semi-impulsive-journey. It didn't take me a long time to decide. It's absolutely not only for recharging and relaxing. Anyway, it's more miraculous in terms of meeting friends. I first told you in the second week about how I bumped into friends without any plan at all! Hahaha... 
Now, it's all about last Monday - my last day in Minneapolis.
I headed out in the afternoon. I was going to Keiko san for last lunch with her, and impulsively I stopped by at Newman Center which was a long the way. I hardly met Greg - my ex boss when I was a peer minister 3 years ago - on every Sunday for mass. Based on father Ivan's information, I urged my self to once again look for meeting him. Yes! He was there. I did not try hard to look for him, he was just standing there at the gathering space. LOL... it was only 5 minutes meeting, but it was a miracle number 1 for me. Very last minute, yet very special.


Then, I had a wonderful lunch with Keiko san and friends. She made a pasta with fresh organic pesto. Also, I was surprised how delicious sweet met savory - prosciutto and cantaloupe- was amazing my friend. We talked a lot about food culture LOL... There were Korean American Indian, Chinese Indonesian, and Japanese. All was about food... :)

In the evening, I headed out to campus to meet another friend in the last minute. Since, she was really busy during summer school. She's a Korean friend who was in psychology major. While I was walking, I found a familiar face on the road. LOL. It's Tony, an African gentleman who played jembe at Newman Center in the evening mass. How lucky I was. I was thinking about him during my visit in Minneapolis, but I always went to morning mass so it was quiet impossible to meet him. Oh miracle number 2!
5 minutes but again... it's a special encounter...

That very night, a dear dear friend of mine whose place I invaded for three weeks turned 21! HAPPY BIRTHDAY @cehaha.
That then be my last chance to meet all fellow Indonesians... :) Glad to meet them in the last minute..

My last weekend was also memorable. Saturday morning was quiet an exercise and adventure haha. I was out with Ern and her friends to Minehaha park and fall. Though, it's not my first time going there, it was my first time going down to see the fall upclose, and ride quart surrey hahaha. Remarkably tiring. FUN! haha


At night, I finally got to go to jazz bar. Well, it's not actually a jazz bar but there was a live jazz performance aaaand good cocktail as a companion. Gah! Best "malam minggu" ever! It was one of my want-to-do-list. It's well executed. Thank you bang Weha and Ceha..


My Last Sunday was also amazing! Started out with a breakfast date with Katie my super CA. How funny that her boyfriend said that we two were so alike. She is American Chen version and I am Indonesian Katie version LOL Yep, we had so much in common regardless our appearance difference LOL
Then, at the mass, at St. Lawrence Newman Center, I found it was a super good last mass when I was sitting with all my good friends in one bench hahaha. Katie became one of 'Indonesian'(s) hahaha... The mass was led by Father Bob whom I knew since I first came to Minneapolis 3 years ago.
It's a great last mass!
Lunch was loud and delicious. We were eating at Old Spaghetti Factory. I did not know how it happened, but we giggled all the time until stomach was about to explode by good food and good laugh.
Dinner was the best. I had the best meal ever hahaha. I was so excited about Kimchi pizza and it's soooo gooood... :)
Kimchi Pizza

The Forager - mushrooomssss

Korean BBQ Pizza


Ah I had a wonderful time... but thinking about airport, airplane, baggage, and flying back home made me nervous. Remember how sucks United regarding baggage checked in? I was so ready to pay my second baggage - $100 :(
I kept praying to get a last minute miracle...
AND
yes... it happened :)
MIRACLE NUMBER 3...
I still needed to pay my baggage but only $60. I knew it's not so much different. But hey! I still got $40 to spend in Singapore and Hongkong hahaha. I could get starbucks, nylon magazine, and took a shower in Singapore... God is good...

In the end, this journey is ended with a smile...
I smile because I had so many good good friends...
I smile because they all care about me...
I smile because there are these people who exceptionally accepting who I am...
I know I am not a perfect friend... for some people, they found me annoying and immature, but I still smile... because I cannot lie that these wonderful things (including those whom I hurt) strengthen me...
I know I don't have my mother to share laugh with anymore, but she's still there... I feel the exact same love that she would give to me trough these friends... :)
I am sorry that everytime I write a blog, it's always being related to my mom. hehehe
She was my good example of how treat people. She is an expert in hospitality. She does not hesitate to ask people for help and she has no hesitation to give more... more... and more...

Thanks mambo to teach me to smile to everyone...

Thank you EVErYONE!! Thanks Minneapolis..
and yes...


Till we meet again...




PS: More pictures are on instagram- sivibi
Can I tell you that I can't wait to meet them ??? My summer is not ended yeeet !
More smile to come...
mej dutch folks ;)


Current time: 6.21 AM and I need to board at 6.45 AM - a last minute post :P

CVB

Tuesday, March 13, 2012

Cerita Pagi

Cerita pagiku hari ini sederhana saja.
Ada bagian dari diriku yang berharap bahwa aku masih di sana. Di negeri orang.
Ada bagian dari diriku yang ingin mencium bau kopi pada saat berjalan di antara pohon-pohon tanpa daun.
Ada bagian dari diriku yang hanya ingin menikmati pagi yang berembun dan dingin dengan secangkir kopi mocha hangat. Sesekali menghembuskan uap karena cuaca dingin.
Ada bagian dari diriku yang melihat tatanan kota yang rapi dan dipenuhi dengan kafe-kafe berjejeran.
Ada bagian dari diriku yang ingin menikmati pagi yang dingin namun matahari bersinar terik.

Minneapolis, apa kabarmu?

CVB