Tuesday, May 2, 2017

#28GoingStrong - Amayzing May part 1

The magical April may pass, but here we have the fun part. Amayzing May. I have called May as amayzing may as old as I have called April as Magical April. It was started in my college year where I learned how to appreciate life and such.

I am dedicating my self to post another series under #28GoingStrong for the rest of the year. Once a month, I will put up one post about my journe of #28GoingStrong. I am writing this to help me through things and if you allow it, inspire to another. My life isn't perfect at all. My self is far away from Perfection. But, that'w how it is. Sharing in the limitations.

For the first post, and to open the Amayzing May post, I would like to take a moment and look back. I may say waaayy back. I was not created as Pete Quil to create a planet or to guard a galaxy. I was not special as Harry Potter who could survive of a killing curse and meant to destroy the very bad witch who tried to kill here. I was not Frodo Bagins who has to carry a ring to be destroyed. But, I may say I am survivor.

It took us back 28 years a go, on the same day I was born. 13 April 1989. Around 3 PMish... I was born with perfect limbs and complete organs, but I wasn't crying like the normal baby would do. My face was pale, and my heart beat was low. I was born with C section because I was a 10 month baby. The technology back then was not advanced. I was long over due, and when the doctor checked on me and my mom, my heart beat was nearly nowhere to be found.

I haven't really shared about this to many people. I have posted once on my old blog during my college years, but hat's about it. I think I never really took it seriously, that I could have been dead. My father told me that I was carried by a nurse, and she rushed out from an operation room. Passed my bewildered dad and other family members. I was brought into a room, and my dad could see what the nurse did to me trough the window. She turned me upside down, put a tube inside my throat and sucked what ever it had to be sucked out. My butt was slapped a few times. The routine was done again, and again. It took a couple of minutes when I finally cried out loud. Strong. Alive.

Another story was when I was around 3 years old. My mom was not in Indonesia at that time, because of medical issue. I was left alone with my dad. I was in the car, excited, and suddenly I could not recall anything. The next thing I remembered was, I was on the asphalt, glasses were scattered around me, and I saw blood. I was in the car accident. Thrown away from a car, through the front glass just like one scene in random Rush Hour movie. I cried, but survived. I was found nearly a meter and a half away from the car on the road, only with scratches on both my cheeks and left chin, right elbow, and lower part of my stomach. No internal bleeding or whatsoever. I was crying out loud, but alive.

 I never really took these two events seriously until just now when I reflected back to my life and drew a line between then and my current situation. Everybody has their own survival story, but I have to remind my self again through this story, that I was well-prepared for whatever life takes me now.

I am not saying that I am a miracle baby that lives for its own secret mission to save the world. My birth story was a reflection that this baby would always needed to wriggle a little harder, and to be slapped a little harder to stay awake, stay alive. And no matter how hard she was slapped, she was more alive than ever. Same goes with my car accident story. No matter how far I was thrown, maybe wounded a little bit here and there, but stand up finely. Crying, but alive.

AS the first post for this journey, this is a good reminder. A great moment to start. And perhaps to you out there who has been struggling for worst reason than I do have, please think back of how you survived living until now. We are all created uniquely and somehow you have to believe to the cliche fact that people's thoughts are the limits. It's your own choice to survive, or to surrender.

I choose.. to cry.. but alive more than ever.

Written by my awesome Opa, when I was born

CVB


Saturday, April 29, 2017

Magical April in 2017 - #28GoingStrong

Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada Berdamai dengan diri sendiri. Sebuah jiwa terguncang karena pikirannya sendiri, dengan berdamai dengan dirinya dan tidak menuntut lebih, jiwa itu akan merasa lega... Dan itulah yang terjadi saat ini.


Seperti biasa, bulan April selalu membawa sedikit keajaiban. I always say that April is Magical April. Segala hal menjadi lebih baik dengan caranya sendiri. Dari akhir tahun 2016, sampai awal tahun 2017, aku mengalami capek mental. Mungkin secara nggak sadar, ada banyak skenario-skenario yang aku ciptakan sendiri di kepala yang akibatnya membuat tubuhku tidak kuat. Bolak balik bed rest. Infeksi lambung, teperatur badan meningkat dengan alasan tidak jelas, sakit kepala berlebihan, dan ditutup dengan urat syaraf kejepit.

Ada beberapa perubahan di hidup aku yang membutuhkan perhatian ekstra. Membutuhkan effort lebih untuk nyaman lagi di situasi baru. Dari segi finansial, relationship, work, friendship, family, semuanya campur aduk jadi satu. Entah karena pergerakan planet-planet yang lagi retrograde, aku diajak untuk re-evaluate, re-invent, and re-construct. Intinya, aku disuruh berubah. Situasi yang berbeda memaksa aku untuk keluar dari zona nyaman, beradaptasi lagi, untuk berpacu dalam melodi ritme pergerakan dunia. Atau mungkin memang inilah titik hidupku, sebuah titik diberi angka 28, di mana aku diminta untuk naik tingkat dalam level kedewasaan.
Mengingat tahun lalu aku sempat menge-post soal Quiarter Life Crisis, walaupun aku sudah tidak mengalami crisis, tetapi tetap saja tahun ini diawali dengan berat. Ini adalah ujian yang sebenarnya. Setelah pergumulan berat, pusing-pusing sendiri. April tiba dengan membawakan kesejukan sendiri. Di awal April, aku terasa seperti dibangunin dari ketakutan-ketakutan sendiri gara-gara satu kejadian. Satu kejadian itu yang membuat aku bangun. Sadar. Dan rasanya itu menyenangkan sekali. Saat itu juga, aku bilang sama diri aku kalau aku nggak boleh terus-terusan begini karena aku tahu bahwa sebenarnya aku mampu untuk menghadapi apapun yang sekarang aku harus hadapi.
Memutuskan untuk ngerayain ulang tahun dan paskah di Makassar adalah keputusan terbaik.
Love from my family and friends really motivate and inspire me. Hanya gestur sederhana dari Euro dan Gassing yang cemburu-cemburuan gara-gara aku ngelus-ngelus Gassing saja. Papo yang senantiasa siap untuk memeluk anak perempuannya ini. Senyuman si Oma yang nggak pernah gagal bikin aku terenyuh. My crazy family and friends yang nggak pernah akan menilai seberapa bagusnya aku achieve bulan ini, seberapa nyampahnya aku ketika cerita, seberapa gendutnya aku, atau penilaian-penilaian lainnya. Sebuah support penuh. Mungkin itu yang aku butuhkan. Sedikit dukungan tanpa banyak bicara.




 Tahun ini aku membuat sebuah Hashtag - #28GoingStrong
Manusia jaman sekarang diukur dengan banyak hal. Kesuksesan bekerja, sudah menikah atau belum, sudah punya anak apa belum. Bagi diriku pribadi, aku mengukur kesuksesanku berdasarkan seberapa bisanya aku berubah mengikuti ritme hidup. Dan tetap menghargai apa yang aku punya, menghargai diriku terlebih dahulu.


Seseorang pernah bilang begini sama aku.
"Menurutku rasa takut itu gak melulu buruk. Takut, tanda seseorang masih hidup. Tidak pernah merasa takut untuk waktu yang lama adalah masalah menurutku. Rasa takut ada karena berarti kita sudah mencoba hal yang baru. Apa yang kamu alami dan rasakan "biasa" sekarang mungkin juga menakutkan buatmu dimasa lalu. Percaya bahwa kali ini juga pasti akan seperti itu. Cuma masalah waktu dan kebiasaan saja. Hidup tanpa persoalan bagai sekolah tanpa pelajaran."
Dia ingetin aku kalau rasa takut itu bisa dilawan dengan kebiasaan. Membuatnya menjadi hal biasa. Dan itu yang aku lakukan bulan ini. Segala ketakutanku kuubah dengan melakukan tindakan-tindakan, alih-alih memelihara ketakutan-ketakutan itu.
Aku bilang sama diriku,

Aku menolak untuk cemburu dengan orang yang nggak aku kenal hanya gara-gara aku merasa kurang mampu. Aku menolak untuk takut gagal. Maka dari itu... work it out Chen! 

Intinya, kita tidak bisa hanya bertahan di satu titik. Selalu bergerak. Dan diumur ke 28 ini aku berharap Chendani dengan #28GoingStrong akan menjadi lebih mantap lagu. Nggak takut dengan segala paradigma, asumsi, situasi negatif, dan yang terparah adalah ketakutan dari dalam diri sendiri.

Aku selalu bilang kalau aku jatuh cinta sama kehidupan, dan hal itu belum berubah. Aku masih jatuh cinta.

Aku menjadikan bulan April ini sebagai awal tahunku. Sebuah lembaran baru. April tanda musim semi dimulai, dan bukan sebuah kebetulan bahwa aku pun lahir dalam bulan April making it more Magical :)




PS: Terima kasih buat kalian semua yang udah ngucapin selamat, ngasih kado, nyanyi-nyanyi bareng. #everydayinAprilisMyBirthday... :)
Chen is still the loopy kinda girl all around regardless the number of her age
#28GoingStrong



Cheers...
CVB

Tuesday, March 28, 2017

Di Balik Retina - Edisi Bali

Bali...

Aroma Pantai...

Peringai Santai...

Tak ada yang percaya kalau kota lain di Indonesia jauh dari yang namanya Bali.
Bali, sebuah komponen berdiri sendiri dengan membawa tradisi dan modernisasi bertumbuh bersama-sama. Tak ada satu kata yang lebih tepat selain #Baligenic. Hanya Bali yang bisa. Hanya di Bali... Ya.. dan kali ini retinaku merekam segala sesuatu yang kutangkap selama di Bali.

Tak ada gambar, hanya sebuah rangkaian kata-kata mencoba untuk memproyeksi apa yang mataku rekam.

Ke Bali bukan sebagai pelancong kali ini, tapi punya sedikit kesempatan untuk akhirnya bisa benar-benar "melihat" Bali lebih jelas. Tinggal di daerah Sanur sedikit membawaku ke masa lalu. Keluarga angkatku tinggal di Bunderan Renon, aku sering dibawa pagi-pagi ke pantai Sanur untuk berenang dan malamnya biasanya dibawa untuk makan Gelato dekat-dekat situ. Tapi, selain itu, aku tidak mengingat hal lain apa yang ada di Sanur. Tidak banyak sebenarnya yang bisa aku ceritakan, hanya malam itu aku baru sadar kalau aku belum pernah menikmati Bali seperti malam itu.
Malam itu setelah makan di tepi pantai, aku memutuskan untuk berjalan menyusuri jalanan sepanjang hotel. Hanya aku dan suara ipod. Tidak ada tujuan. Sekitar pukul 20.30, beberapa gerai sudah tutup, tapi sepanjang jalan masih terang. Aku berjalan tanpa arah, tanpa hp, tanpa dompet. Hanya jalan saja sekenanya. Yang kuperhatikan adalah sedikit dari kota di Indonesia yang mempunya pedistarian friendly. Mungkin hanya di sekitar daerah turis saja, tapi sepanjang jalan aku tidak terlalu khawatir akan pengendara motor atau pengendara mobil yang lalu lalang, tidak seperti jika aku sedang di Surabaya atau di Makassar.
Hal lain yang aku lihat, aku merasa seperti berada di negara orang, tetiba menjadi minority, merasa diri bukan turis, bukan lokal. 80% manusia-manusia yang lalu lalang di sepanjang jalan jelas bukan berasal dari Indonesia. Model bangunan dan restoran pun disesuaikan. Semuanya tanpa jendela, tanpa AC, hanya satu lantai, dan mennyediakan tempat outdoor. Mungkin banyak yang sudah sadari ini soal Bali, Tentu saja, ini hanya trjadi di sekitar tempat touristy. In the end, this is a part of Bali. A city in my very own country.
Aku berhenti beberapa saat di sebuah bar yang paling penuh malam ini. Merka menyuguhkan musik raggae dan bisa kubilan tempat itu yang paling penuh. Botol-botol beer, beberapa piring berisi kudapan, dan terlihat semua pengunjung menikmati tempat itu. Aku melepaskan earphone dan ikut menikmati musiknya. Mataku menangkap tanda lin.

"NO SHRT, We Don't serve!"

Note that...
Buatku ini menarik. Beberapa waktu lalu, daerah Kuta dan mungkin hampir semua daerah Touristdi Bali dipenuhi dengan pelancong pria tanpa atasan. Kupikir, mereka tdak akan perduli, namun ternyata mereka mulai perduli. No more bikini and shirtless man on the street. :) Aku rasa itu juga kontribusi dari para pelancong yang mulai sadar bahwa Bali itu Indonesia. Sebuah negara yang masih memegang beberapa nilai conservative, berasaskan agama. Beberapa postingan di Trip advisor juga mendukung perihal berpakaian di Bali. Tanktop and shorts are definitely appropriate, menurutku pribadi, aku lebih leluasa berpakaian ketika di Bali. Yang mana kadang memakai short pants saja bisa membuat risih karena banyak orang-orang yang memperhatikan ketika di kota lain selain di Bali, Makassar salah satunya tapi tidak di Bali tentu saja. Bali mempunyai fashionnya sendiri. #Baligenic, hanya di Bali. In the end, I am still smilin seeing that sign - "NO SHIRT, We don't serve" Commonsense babe, it is all about common sense. Bikinis on the street is a bit too much belum lagi tidak baik untuk kesehatan. Kata orang Indonesia.. "nanti masuk angin, dan juga banyak nyamuk"

Hal lain yang aku tangkap, hanya di Bali hampir sepanjang jalan menawarkan pizza, pasta, burger, dan makanan Indonesia sekaligus di satu restoran. It is all about adapting and adjusting. Para pelancong dan lokal saling mencoba memahami satu sama lain melalui makanan. Menarik... Ada juga yang khusus menawarkan makanan tradisional tapi dengan gaya yang lebih global. Aku ingat ketika pesiar di Korea Selatan, hampir semua tempat di luar tourist area masih menggunakan Hangul. On the other end, I enjoyed it more than things are tourist ready. Hanya saja, di Bali menurutku ini satu hal lain yang memang #Baligenic.

Bali memang tempat yang unik. Di antara semua kota di Indonesia, kita mengakui bahwa orang-orang Bali adalah masyarakat yang masih sadar akan pelesarian kebudayaan. Orang-orang lokal masih memahami bahasa tradisional Bali. Mempunyai kepribadian beragama yang kuat. Solidaritas tinggi. Gedung dan banyak peraturan lain masih ikut peraturan budaya dan agama. Tidak ada gedung yang tinggi, karena tidak boleh lebih tinggi dari pura. Di satu sisi yang lain, masyarakat Bali juga bisa dibilang yang paling 'terbuka' dengan segala kebudayaan lain. Makanan salah satunya. Aku rasa aku bisa makan makanan dari banyak negara hanya menyusuri satu jalan di daerah Kuta atau Sanur atau bahkan di daerah Ubud. Greek, Mexican, Mediteranean, Japanese, Middle-eastern, Italian, Nasi Padang, you name it
Itulah Bali...

Hanya di Bali...
Hanya Bali yan bisa..

#Baligenic.













*my work attire when in Bali.. sudah cukup #Baligenic? lol
CVB

Thursday, March 2, 2017

Selamat Senja Hati

Selamat senja hati..
Ada pelangi melintang di langit
Walaupun hari yang lalu, ada hati terasa sakit.
Sebab mendengarkan  pernyataan sengit.
Namun biar begitu di peghujung hari ..
Kau tahu jalan yang benar untuk selalu diikuti..
Tak perlu pemerhati
Cukup harapan yang sedikit 

Magic happens when you don't give up, even though you want to. The universe always falls in love with a stubborn heart... - Jennifer Julius (a friend of mine) 

Still haven't given up :) 
I am praying for you, me, them, ... us... 

Catatan kaki: 
Sebuah note di pertengahan Februari kemarin, ketika hati sedang terombang ambing. 


CVB

Tuesday, February 28, 2017

Di balik Retina

Snapchat, insta story, bahkan what's app status sudah membuat kita semua secara tidak sengaja berlomba-lomba "pamer" secara instant. Travelling sekarang diibaratkan dengan foto-foto instagram-worth dibandingkan memori itu sendiri. Tidak banyak yang meng-hire professional photographer untuk membuat sesi foto panjang selama liburan. Memakai saltum (bayangkan summer dress di 15 derajat celcius). Dan banyak lainnya. Nggak jarang, momen jalan-jalan itu berhenti ketika kita sudah merasa kalau kita sudah mengambil foto yang bagus.
Memang tidak bisa dipungkiri, jalan-jalan ke tempat baru banyak hal yang menarik. Banyak hal baru dan unik. Nggak jarang, kita berasa seperti fotografer yang merasa "ini momen untuk foto." Tapi, pada akhirnya, kita jadi sibuk foto-foto atau merekam momen tersebut tanpa tersadar kalau kita nggak benar-benar berada di momen tersebut, menikmati.
Aku selalu percaya bahwa tiap tempat itu punya cerita. Mau kita sudah sering ke tempat itu, atau pertama kali, tiap tempat selalu memberi cerita baru. Salah satunya Jakarta kemarin. Menurutku, perjalanan kali itu termasuk istimewa di antara hal-hal biasanya saja.
Perjalanan kemarin itu, aku merekam dengan retina. Ada banyak hal yang membuatku gatal untuk merekam. Tempat air suci di Gereja ada tertulis - Tempat air suci, bukan tempat cuci tangan-, sinar-sinar matahari yang tembus dari mozaik di dinding Gereja, Jakarta dini hari, air mancur depan monas, dan seterusnnya dan seterusnya. Jakarta kali ini amat sangat menyenangkan. Aku sama sekali tidak terjebak macet. Memang, aku cuma jalan-jalan sekitar daerah Thamrin. Dalam 3 hari, aku mengagumi gedung-gedung pemerintahan yang megah-megah, dan hotel-hotel bintang lima di sekitar situ. Jakarta sebenarnya cantik. Akhir pekan yang lalu, aku menikmati setiap warna-warna yang berseliweran.
Subuh pukul 2 dini hari, Jakarta tetap belum sepenuhnya terlelap. Penjual tahu bulat dengan semi trucknya berada di sekitar bundaran HI, ada beberapa orang yang mengambil gambar berlatar belakang patung selamat datang dan Mandarin Hotel, ruas jalan Thamrin yang hanya terisi 2 sampai 3 mobil. Semua ini terjadi di balik retinaku. Terekam menuju hippocampus, dan sekarang dideskripsikan melalui kata-kata.

Sekali-sekali postingan tanpa gambar atau foto hanya berisikan huruf-huruf. Karena, menurutku aku lebih menikmatinya tanpa harus buru-buru untuk merekamnya dengan handphone.

Semuanya terekam di balik retina...



CVB

Monday, February 13, 2017

Definition

When you think about the word "definition" - most of the time, you are trying to define something. A description. Situations that you can refer in a word. or two. However, I am stuck. I cannot define what is going on in me in a word.
I want to be in a total silence. Thinking of me in a house in the middle of the forest. A little soft sound of bugs, water drops, and the rest is just me and nature. But not totally alone. I am imagining somebody sitting with me, sipping tea or coffee, in silence. A companion without a sound. Not because we are fighting to each other, but we just knew that we just long for each other companion.
I want to be in a stranger place when I don't know anybody. Nevertheless, there's a cat or a dog that sits outside wiggling her tails or shrugs her head on my legs. A familiarity in a total stranger.
Those weird contradiction attracting to each other, blending in me. Sounds a little bit introvert and melancholy here?
I can't agree more.
This is just an exhausted feeling over changes. Not because I am in denial or unhappiness. This is the road I chose anyway. I may rephrase it, it is the world given to me. No, I am not saying that I will stop or whine endlessly. It is just like start wearing new shoes.
It makes your feet bruises. Feel a little bit pained when you walk. But, as the days passes, your feet and toes adapt to the new shape of shoes, and suddenly you just feel comfort in it.
I am basically in the beginning part of wearing the new shoes. Just need a little more time to finally own it.



I do feel exhausted every single time I hit my room. But, still I am looking for a new day. Passing each day, curious of what about to happen next. Perhaps the lyrics below define it all.

If someone just says the words, “that’s it”
I think I’ll agree and give up
If someone comforts me, saying that I’ll do well
I think I’ll start to cry
My footsteps want to rest for a bit
But I can’t because I have only one dream
I can’t make everything go back because of how I feel today
Don’t compare me, don’t care about me, who says that’s the right way?
There is no right way, the way that I chose is my way
I’m sorry my love, I wanted to be the source of your pride
In my exhausted day, I just want some comfort
If you comfort me, saying that you believe me
I think I’ll start to cry
I’m sitting on the edge of this night with a drunken sigh
I’ll get through it, just like you believed I would
I have only one dream
I can’t make everything go back because of how I feel today
Don’t compare me, don’t care about me, who says that’s the right way?
There is no right way, the way that I chose is my way
- Kwak Jin Eon, Kim Feel, Yoon JOng Shin, "Exhausted" - 
So, the definition of me now is... 
exhausted...but, can't go back because how I feel today. In my exhausted day, I just want some comfort. Though, if you comfort me, saying that you believe me, I think I'll start to cry. Well, there is no right way, the way that I chose is my way. 


CVB

Tuesday, February 7, 2017

February Shots

Feeling valentines?
Maybe not that fast. However, I can say that I am in love already...

I am in love with 2017, even though it is still the second month of it. Things are evolving slowly yet surely. Overwhelming? Sometimes, yes. Too many things are being thrown towards me. All you can name it; frustration, hope, adrenaline rush, sadness, loss, determination, bundling all in me. and why I can still say that I am in love with 2017? Am born as a natural optimistic individual perhaps? Too optimistic sometimes. But that does not mean that I am not feeling any negativities. Oh hell yes. I can say that I am feeling anxiety, a little bit devastating, but perhaps that makes me seek out for positivisms; name H.O.P.E.

Hope for the better ones... ?

nope... not for that...

But, a hope that my heart is true to itself.
 I am following my guts.



and my guts say "It is worth to wait. It is worth to fight" So here I am fighting over my own fear and doubtedness. I am not here to brag about how great I will be, but I simply just want to get through it. 2016 ended roughly, 2017 started with a lot of things happened. I was at the point where I felt exhausted for not even a month passing. Nevertheless, I will not whine anymore for it was much better than the beginning of 2016.


In 2017, I am feeling more positive powers around me though, what it looks like now is I am surrounded by many negative environments. A change, a challenge, alone in the darkness swarming towards the light... telling my self that the result will be good either way. I have nothing to lose.
Truly, I can say that I appreciate what 2016 has given to me. All the series happened last year was like an antidote for this year. To stay strong, and to have faith.
Another glimpse of haze over here. I am sorry I cannot directly telling you what exactly happening. It is too personal to be spilled, and at the same time, I am too feeling all over the places. It is about both personal and professional matters. Here, just words to express what is bickering like a Chinese new year firecracker in my head.

All of these making me fight over it. Somehow, I am dying to know how it will work out. Things are evolving for sure, but thanks to the Aries sign, I am curious already. There are so many vivid dreams that my head generates right now. I can't wait to take a stroll along foreign lanes, murals on the walls, tasting unfamiliar food, sipping coffee at the cafe on the street, smiling with loved ones. I can't wait to scratch out things that I would have done one by one on my resolutions. I am just feeling I have too much energy due to too much pressure, and I need to release some of it. Exactly like in a pressure cooker. Oh well.. I still have 300 more days.
2017 still has 300 more pages to be written and more stories to be uncovered. That's what makes me falling in love with 2017 already. I have a little feeling that this year is another great year :)


I certainly believe that my prayers are heard somehow, and I pray that this year will be like that so...
"Chill Chen, enjoy the process... "




Just don't give up on me yet, because I haven't given up on my self either...


CVB